Dara

Rezzy Febriawan
Karya Rezzy Febriawan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Januari 2016
Dara

Dara, dia adalah gadis cantik pemikat hati puluhan laki-laki yang ada di sekitarnya, seorang gadis yang juga mematahkan hati mereka karena keanggunan serta kesahajaannya. Dara tidak pernah merestui setiap cinta yang datang padanya, namun dia tidak sekalipun menolak pertemanan dari siapapun atas dasar apapun. Itulah yang membuatnya tampak beribu kali lebih cantik dari kecantikannya yang tampak begitu nyata dari wujud ragawinya. Dara, sebuah misteri yang dirindukan oleh begitu banyak laki-laki, itulah ia bernama dan bermakna. Namun beberapa waktu belakangan kita akan sulit menemuinya entah karena alasan apa, Dara yang kerap kali melintas mendadak hilang bagaikan malam yang menolak untuk mengizinkan pagi menggantikannya. Dara yang cantik itu lantas menyimpan tanda tanya besar bagi siapapun yang sejatinya rela mematahkan hati mereka-mereka yang berharap mendapatkan senyum dari sapa ramahnya, atau jika beruntung dapat menikmati suara merdunya melalui pembicaraan remeh yang dipaksakan oleh beberapa orang yang rupanya merasa tak puas hanya mendapat seutas senyum darinya. Kemana kamu Dara? Mungkin pembicaraan intrapersonal itu kerap bergaung dalam benak mereka-mereka ini. Bahkan hampir 7 bulan setelah Dara menghilang, setiap kerinduan masih tegar berdiri pada tempatnya di hati mereka-mereka yang mengenal Dara.

?

Suatu sore di pinggir danau yang indah di tepi kota Jakarta, seorang gadis menampakkan sisi lain dari dirinya. Keteduhan yang biasanya tersirat dari parasnya kini menelusup lebih dalam hingga menyiratkan kemuraman. Senyumnya yang menyejukkan kini berganti dengan ekspresi datar yang memilukan, ada apa denganmu Dara? Sayangnya pertanyaan itu tidak muncul dari siapapun karena memang tidak ada yang mengetahui bahwa gadis cantik itu tengah tenggelam dalam nuansa hening danau yang sepi tersebut. Dara, kini ia duduk diam dengan kakinya yang ia luruskan kedepan menatapi danau dengan giatnya melalui tatapan kosong yang sejatinya tidak pernah terlihat sebelumnya. Pakaian merah yang ia kenakan seolah kontras dengan nuansa gelap yang saat itu menaunginya, sedalam itu kah kesakitan yang ia rasakan? Hanya Dara yang mengetahuinya.

?

Dara menatap kosong tanpa berkedip saat tiba-tiba saja matanya sedikit mengernyit. Terlintas sebuah ingatan akan kamar redup yang membuatnya terasa kaku tak mampu untuk bergerak. Matanya masih terus menatap hampa ke arah air danau yang tenang saat kepalanya terlihat bergerak sangat perlahan. Terdengar suara desah nafas memburu seorang lelaki yang sepertinya sangat sibuk dan terburu-buru dari arah sebuah ruangan yang berpenerangan dari tempatnya terbujur kaku itu, sesekali terdengar benda-benda bergeser dengan kasar dan beberapa mungkin terjatuh karena menimbulkan suara yang bising. Mata dara masih menatap ke danau saat kepalanya terus bergerak pelan sedikit ke sisi kanan tanpa menggerakkan bola matanya yang terpaku menatapi air danau yang sebenarnya semakin tidak menarik. Terdengar suara erangan kesakitan yang perlahan berubah menjadi sebuah desah penuh kepuasan dan diakhiri suara yang terdengar seperti kepala membentur dinding, sesaat kemudian senyap.

?

Dara kini mulai menekuk kedua kakinya agar ia bisa menandarkan kepala diantara kedua lututnya, kemudian kedua tangannya memeluk kedua kakinya tersebut. Dara melihat seorang laki-laki yang bertelanjang dada menghampirinya, dan kemudian menatapinya dengan begitu buasnya. Mata Dara kemudian tertutup sangat cepat dan kepanyanya beringsut turun seolah bersembunyi diantara kedua lututnya. Laki-laki tadi berada tepat diatasnya, sangat dekat hingga aroma keringat dan nafasnya tercium begitu lekat di hidungnya, tubuhnya dan lelaki tersebut terasa sama-sama basah, namun ada kesakitan luar biasa yang dirasakan oleh Dara. Dara mencoba mengangkat kepalanya dan menyandarkannya kembali diatas kedua lututnya saat matanya memejam dengan sangat dalam seolah menahan amarah dan kesedihan di waktu yang sama. Laki-laki itu bergerak maju mundur disertai rasa sakit yang seirama serta suara berdecit ranjang yang terdengar tidak biasa menerima beban yang diiringi oleh gerakan.

?

Kini Darah telah berdiri mendekati danau, kakinya bahkan sudah berada dekat sekali dengan air danau. Dara mendapati dirinya sangat lelah sekali disertai rasa sakit luar biasa yang menderanya, kemudian tatap matanya perlahan mengabur menatapi lampu yang ada di atas pandangannya. Tiba-tiba saja tubuh Dara sudah terendam sebatas pinggang saat itu, matanya masih terus menatap kosong kedepan. Samar-samar Dara melihat beberapa orang yang sepertinya ia kenal mendekatinya, wajah mereka menyiratkan kemarahan, kesedihan, kekhawatiran, dan lain sebagainya. Terdengar pula suara pukulan dan dentuman tubuh yang menabrak dinding. Semuanya samar ia saksikan dan dengar sebelum akhirnya gelap. Dara terus berjalan sambil tangannya membentang memegangi ujung air dengan setiap jarinya, pandangannya masih tetap kosong. Kemudian saat air sudah hampir sebatas dada dan membasahi ujung rambut panjang indahnya, tiba-tiba Dara mendengar sebuah suara anak kecil,

?Mamaaa, ayo pulang Ma!!!? suara itu terdengar dari belakangnya

Dara sesaat terdiam, kemudian ia berbalik badan, mengulurkan tangannya saat ia sudah kembali di tepi danau, dan ia berlari-lari mengikuti tarikan yang ia rasakan. Dalam hati Dara berujar

?Bagaimanapun juga dia adalah anak yang pernah hidup di dalam rahimku? senyumnya tersungging dengan sangat menyedihkan,

Dara terus berlari sambil tertawa-tawa mengikuti tangan yang diulurkannya mengikuti tarikan entah dari siapa, sejatinya Dara masih tetap sendiri di tempat tersebut, nyatanya memang dia selalu sendiri disana. Terlihat semakin menyedihkan dibalik tawanya yang saat itu terus ia lepaskan.

?

Beberapa tahun sejak Dara menghilang mayatnya diketemukan di dasar danau dengan tubuh yang dilingkari oleh rantai yang digunakan sebagai pemberat.

-rzy-

  • view 170