Tanpa Kata Kala Senja

Rezzy Febriawan
Karya Rezzy Febriawan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Januari 2016
Tanpa Kata Kala Senja

Langit tampak pucat semenjelang senja kala itu, haripun tampak lebih tua dari waktu seharusnya, mendung menguasai langit dan gerimis menyapu debu-debu diatas jalanan. Arya, seorang laki-laki 25 tahun tengah memacu scooter matic eropanya menembus lalu lalang kota yang mulai sibuk sore itu, tersirat kelelahan sehabis bekerja dalam raut wajahnya yang tampan itu, tapi sorot matanya jauh lebih lelah, matanya jauh lebih berat memikul suatu hal yang mewakili hatinya, ia resah.

?

Arya merasa dunia berhenti dalam lingkar fikirnya, ia bergerak sendiri, semua disekitar diam mengasihaninya, bahkan juga menertawakannya. Arya memacu kendaraannya sedikit lebih cepat dari sebelumnya ketika butir hujan jatuh lebih cepat dan lebih besar dari sebelumnya. Arya tidak ingin terlambat,

?Setidaknya kali ini, kali terakhir ini, mungkin saja?, begitu fikirnya.

Beberapa saat ia berbelok dan memasuki sebuah pekarangan cafe, ia memarkirkan scooternya diujung dari cafe bergaya eropa yang dindingnya didominasi oleh kaca tersebut. kemudian ia menghela nafas sejenak, turun dan melepaskan helmnya untuk ia letakkan diatas spion kanan scooternya.

?

Arya berpaling ke kiri untuk berjalan kearah pintu masuk cafe, tapi langkahnya tertahan ketika ia melihat di hadapannya, tepat didalam cafe disebuah meja dibalik dinding kaca cafe tersebut, Arya meliat Tari, wanita yang telah membuat janji untuk bertemu dengannya di tempat ini, wanita cantik tersebut terlihat menangis sambil sesekali mengusap air mata dengan tissue digenggamannya. Arya terpaku sesaat,

?Kenapa ia sudah datang? kenapa juga ia menangis?? begitu fikirnya,

Arya pun ingin segera masuk untuk menemuinya, tapi baru satu langkah dari niatannya ia melihat sosok lain dihadapan Tari, dada Arya bergemuruh karena emosi, langkahnya terhenti lagi.

?Siapa laki-laki itu? Dia kah penyebab semua ini? Untuk apa dia ikut datang kesini?? fikir Arya lagi,

Arya bergerak pelan berjalan kearah pintu masuk, sangat pelan, matanya masih menatapi adegan yang memilukan hati dihadapannya, ia memperhatikan terus dan, ?deg? ia mengenal laki-laki itu, Arya sangat mengenalnya, laki-laki itu?.. Arya mendadak berjalan cepat kearah pintu dan ?deg? kosong, bangku dimana ia melihat Tari tadi kosong, tidak ada siapapun disana, tidak ada Tari dan laki-laki itu. Bukan, bukan Tari dengan laki-laki itu, tapi Tari dengannya. Ya, tadi Arya melihat Tari menangis dihadapan dia, dihadapan Arya, bukan, refleksi Arya dan juga Tari.

?Oh God, apa ini?? Arya membasuh wajahnya dengan tangan kanannya, matanya menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya.

Arya berjalan masuk, masih heran dengan kejadian yang baru terjadi, bagaimana mungkin dapat senyata itu? Fikirnya masih terus menerka-nerka. Tanpa disadari Arya telah melewati bangku tempat dia ?melihat? Tari dan dirinya tadi, dan seseorang menyapa

?Ya?, kenapa?? seorang barrista menyapanya dari balik bar yang saat ini sudah tepat dihadapan Arya,

Arya sedikit kaget kemudian tersenyum sambil menggeleng, kemudian dia mengacungkan jarinya menandakan ia memesan satu. Barrista tadi mengerti maksud Arya, kemudian langsung mempersiapkan pesanan Arya sambil menggeleng menyaksikan Arya yang kembali memperhatikan meja tempat ia melihat ?dirinya dan Tari? tadi. Kemudian sorang waitress menyenggol lengan barrista tadi seraya menagih informasi tentang ?keanehan? Arya. Maklum, Arya adalah pelanggan cafe tersebut, bisa dikatakan Arya adalah pelanggan yang paling rajin datang, terlebih saat Arya masih kuliah dulu, dan tentu saja bersama Tari, bahkan mereka memulai kisah kasih mereka di cafe ini. Seluruh karyawan mengenal Arya dan Tari, baik pegawai lama maupun pegawai baru sekalipun. Bahkan juga pernah mereka dijadikan model utama ketika cafe tersebut membuat sebuah company profile.

?

Arya akhirnya memutuskan untuk duduk di ?tempatnya? duduk tadi, ia mencoba mengingat apa yang terjadi, betapa nyata bayangan itu tadi. Arya mendadak tegang, ia genggamkan jari-jari tangan yang satu dengan yang lainnya, jari-jarinya tampak sibuk mewakili hati dan fikirnya.

?Apakah ini yang akan terjadi nanti? Bagaimana mungkin aku menyakitinya? Bagaimana mungkin aku tega membuatnya menangis? Apa yang harus aku lakukan?? fikir Arya berkecamuk saling tumpang tindih.

Arya menyesap kopi pesanannya yang sudah diantar, kemudian ia terlihat menerawang lagi, sesekali ia bergumam kecil,

?Sebenarnya aku??, ?baiknya kita??, ?kenapa kamu??, ?aku merasa?? semuanya tidak selesai terucap, Arya bingung harus berkata apa.

Arya membungkukkan badan, telapak tangannya menopang dagunya, matanya menatap kebawah, sesekali tertutup dan kakinya mengetuk-ngetuk lantai.

?

Sebuah ingatan menguasai Arya, kala itu Arya tengah berkunjung ke rumah Tari sehabis pulang dinas dari luar kota, Arya mengetuk pintu rumah yang cukup besar dengan harapan dapat menghapus rindunya pada Tari. Arya memang tidak memberitahukan perihal kedatangannya ini kepada Tari, mengingat beberapa hari sebelumnya mendadak Tari marah tanpa alasan pada Arya, Tari seolah sedang berusaha membuat Arya marah kala itu, ada saja masalah-masalah yang diangkat Tari untuk diperdebatkan, namun Arya tidak terpancing, Arya hanya berfikiran bila Tari rindu kepadanya selayaknya dia merindukan Tari, maklum keduanya selalu bersama sebelum Arya diterima bekerja di sebuah perusahaan multi-nasional tempatnya bekerja saat ini. Arya selintas mendengar suara Tari berbisik sebelum ibunya menyahuti ketukan Arya dengan memintanya menunggu. Tidak lama berselang ibu Tari keluar, Arya memberi salam dan mencium tangannya, sekelebat terlihat ekspresi khawatir dari wajah cantiknya. Kejadian terasa sangat cepat tapi menyiksa kala Arya yang juga ditemui ayah Tari mendengar segala hal yang diucapkan kedua orang tua Tari kepadanya. Mereka meminta, bahkan memohon pada Arya agar tidak lagi menemui, menghubungi, serta mengganggu Tari. ?deg? sangat sesak dada Arya kala itu, orang tua Tari juga mengatakan bahwa Tari akan segera menikah dengan laki-laki yang memang sedari kecil sudah dijodohkan dengan Tari, dan ini sudah tidak bisa ditawar. Arya mencoba meminta penjelasan langsung dan mohon izin untuk menemui Tari kala itu, namun ayah Tari justru marah dan mengusir Arya. Arya mengingat betul saat itu, bahkan hampir setiap waktu ia mengingatnya. Arya kecewa, bukan karena Tari, tapi karena penjelasannya, karena begitu mendadaknya, dan karena bukan Tari yang mengatakannya. Bahkan saat itupun Tari tidak menemuinya walau sebenarnya dia ada.

?

Saat ini, beberapa bulan berselang, Arya mulai mampu menepis semua, hatinya menerima dan ikhlas. Kemarin petang Arya menghubungi ayah Tari untuk bertanya mengenai sebuah kemungkinan bagi Arya menemui Tari, bukan untuk meminta penjelasan, bukan untuk memaksa, bukan pula untuk membuat Tari kembali padanya. Arya hanya ingin mengakhiri apa yang pernah mereka awali, mengakhirinya sebaik saat mereka sepakat mengawalinya. Ketulusan serta kedewasaan Arya dalam bertutur akhirnya membuat ayah Tari luluh, dan sampai lah Arya pada hari ini saat dia menunggu Tari untuk mengakhiri segala yang pernah terjadi.

?

Hari sudah menjelang gelap kala sebuah sedan mewah berhenti diujung jalan depan cafe, dari dalamnya seorang wanita cantik turun dengan ragu. Arya masih saja menunduk di kursinya, fikirannya masih kalut memikirkan untuk berkata apa, bahkan sampai dari ujung matanya terlihat sepasang kaki indah yang sangat dikenalnya, sepasang kaki jenjang yang sangat dikagumi Arya telah berdiri tegak disebelah kursi dihadapan Arya. Arya merasakan urat-urat lehernya tak mampu mengangkat kepalanya, bibirnya kering, tenggorokannya tercekat tidak mampu berkata walau hanya mempersilahkan duduk. Arya hanya mampu mengangkat tubuhnya menjadi tegak setelah sebelumnya membungkuk, kepalanya tetap menunduk. Wanita cantik dari sedan mewah tadi lah yang kini ada dihadapan Arya, iya dia Tari, bahkan ia masih berdiri. Beberapa saat ia memperhatikan Arya dari balik matanya yang tampak sedih namun penuh cinta, disudut matanya tergenang butiran air yang siap jatuh walau tanpa diperintah. Dengan ragu Tari kemudian duduk, dia hanya diam tidak berbicara, kedua tangannya juga saling memainkan jari satu sama lain dan kepalanya ikut menunduk kala air disudut matanya tadi akhirnya menetes.

?

Arya merasa kacau sekali, bahkan ia yang meminta pertemuan ini, dan bahkan ia tidak mampu berucap atau bersikap sebagaimana mestinya, jantungnya semakin berdetak tidak beraturan. Cukup lama mereka duduk berhadapan walau tidak saling bertatapan, apalagi berbicara. Seolah keduanya hanya raga kosong yang tengah menanti kesadaran, waktupun terasa berhenti, keduanya berputar dalam keresahan, kerinduan, serta ketidaktahuan dan ketidakmampuan. Arya akhirnya menguatkan tekad untuk memulai pembicaraan, ia angkat perlahan kepalanya, sangat perlahan, matanya menyisir meja kemudian kaki Tari, lututnya dan?? ?agh? Arya tidak kuasa melanjutkan dan menunduk lagi perlahan saat matanya sempat melihat sebuah cincin yang melingkar di jari manis tangan kiri Tari. Tari yang menyadarinya langsung menutupi jari manisnya dengan jari-jari lainnya, sementara tangan satunya membekap mulutnya untuk menahan tangis yang akan segera pecah. Tidak lama berselang Tari berdiri setelah meletakkan sesuatu diatas meja. Arya memperhatikan melalui ujung matanya, Tari sempat memperhatikan Arya dengan tatapan yang sangat sedih, kemudian ia berbalik cepat sambil kembali menutupi mulutnya menahan tangis yang kali ini benar-benar pecah, isaknya terdengar jelas, terlebih ketika dia berjalan semakin cepat dan semakin cepat keluar pintu cafe dan berlari menuju kedalam mobil mewah yang sedari tadi telah menantinya. Dilain fihak Arya sempat melihat wajah Tari sepintas kala Tari berbalik, Arya menyaksikan jatuhnya air mata dari sudut mata Tari yang indah namun menyiratkan luka itu. Kemudian Arya semakin ?jatuh? dalam kelemahannya dan kembali menunduk sampai akhirnya Tari benar-benar pergi.

?

Beberapa saat berselang, kali ini lampu-lampu sudah mulai menyala, langit sudah mulai menua, gelap. Arya mengangkat kepalanya, ia rebahkan punggunggnya di sandaran sofa, ia amati apa yang tertinggal diatas meja. Ia mengambilnya, sebuah undangan pernikahan Tari dengan laki-laki lain, tertanggal tepat 1 bulan setelah hari ini. Arya mengangkat kepalanya, menyandarkannya diatas bantalan sofa, matanya menatapi lampu cafe yang remang terpancar. Arya tersenyum perlahan, dan berselang sebutir airmata jatuh melewati ujung senyumnya. Entah kenapa Arya bahagia,

?Ini kah yang terbaik yang pernah aku dapat dari cinta? Sebuah keikhlasan dalam menyayangi seseorang yang aku harap akan bahagia dengan seseorang lain yang bukan bukanlah diriku? Ini kah cinta yang bahkan kata tak mampu mewakilinya? Yah, pada akhirnya ini berakhir sebagaimana mestinya, berakhir disebuah senja tanpa kata, berakhirnya sebuah ikatan tanpa mengakhiri cinta. Aku harap yang terbaik bagi pernikahan kalian Tari, maaf aku masih mencinta walau sebisanya akan aku lupa. Inilah senja terindah dimana aku benar-benar merasakan benar sebuah makna terdalam dari kata cinta?. fikir Arya yang saat ini sudah mengendarai lagi scooternya menembus malam.

-rzy-

?

  • view 276