Mengapa Harus Menunggu (Sampai Ada Yang Mati).

Rezzy Febriawan
Karya Rezzy Febriawan Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Januari 2016
Mengapa Harus Menunggu (Sampai Ada Yang Mati).

Beberapa waktu belakangan, sebuah peristiwa menggemparkan memenuhi headline berita berbagai media. Lagi, seorang aktivis meregang nyawa karena keperduliannya kepada sesama. Perkara semacam ini seolah memiliki candu fiktif di negeri ini, begitu sering terjadi dan terus menerus berulang. Menarik bila mengingat derasnya dukungan serta rasa simpati yang tumpah ruah disetiap kejadian yang dengan sangat terpaksa mengorbankan seorang relawan (kalau enggan disebut pejuang). Tapi mengapa harus menunggu sampai ada yang mati? pertanyaan ini semacam sebuah kenyataan yang terbias dan mengabur dalam setiap kasus, sebuah keadaan yang kemudian dengan lantangnya menyuarakan tentang pelanggaran HAM. Sebuah ironi apabila kita berfikir harus ada sebuah bukti otentik (korban) untuk menyuarakan sebuah pelanggaran HAM yang sejatinya sudah terjadi (masih diperjuangkan). Hal ini kemudian semakin bertambah ironis lagi mengingat yang kemudian terjadi adalah kita menjadi lupa (minimal terlambat) untuk menyadari apa yang sejatinya diperjuangkan, alih-alih kita memperjuangkan sebuah kasus kita justru giat memperjuangkan nasib korban. Aksi solidaritas semacam ini memang sangat berarti, karena akan membuka mata bagi siapapun yang perduli untuk kemudian mengusut tuntas atau menekan dengan lebih kuat permasalahan yang terjadi. Namun lagi, mengapa harus menunggu sampai ada yang mati.


Kasus yang belakangan terjadi berawal dari seorang aktivis lingkungan di sebuah daerah di Jawa Timur yang memperjuangkan sebuah wilayah yang disinyalir tengah terancam ekologinya dikarenakan adanya sebuah pertambangan pasir. Entah perjuangan beliau ini berupa pergerakan individu ataupun terorganisasi, yang jelas apa yang dilakukannya dianggap sebagai sebuah ancaman bagi pihak pengembang tambang. Lantas nasib buruk menyertai sebuah perjuangan yang berazaskan hajat hidup orang banyak (lagi), ?suara? saudara kita tersebut dianggap sumbang dan membuatnya harus ?dibungkam?. Caranya? Tentu dengan cara primitif, pembunuhan. Di dalam proses yang terjadi tentunya terdapat sebuah proses negosiasi yang dilakukan sebelum terjadi eksekusi, dan ini yang menarik untuk dicermati. Tentunya dalam proses tersebut desakan mengenai sebuah permasalahan sudah sangat besar, dan seharusnya juga sudah mampu menyita perhatian publik (apabila pemerintah menutup mata). Idealnya dalam proses inilah perjuangan sudah pantas untuk gencar dilancarkan, membuka mata hati setiap aktivis maupun pergerakan-pergerakan masyarakat untuk turun tangan. Hal ini kemudian akan menjadi lebih efektif untuk menyelesaikan sebuah permasalahan sekaligus meminimalisir munculnya permasalahan baru (jatuhnya korban).


Bagaimanapun apa yang diperjuangkan seseorang sehingga mengorbankan diri atau bahkan sampai nyawanya adalah sebuah perjuangan yang tidak main-main, jelas ada sebuah permasalahan yang sangat besar dan sangat terorganisir didalamnya. Dan sudah sangat pantas apabila setiap korban (terlebih korban jiwa) untuk diperjuangkan nasibnya. Namun lagi-lagi jangan sampai kita lupa mengenai ikhwal dari apa yang tengah diperjuangkan sebenarnya, jangan kita hanya berpusat pada nasib korban semata. Karena justru perluasan perjuanganlah yang sebenarnya diinginkan oleh siapapun yang dengan sangat terpaksa harus menjadi korban. Siapapun pada dasarnya tidak akan ada yang ingin menjadi korban untuk setiap perjuangan, mereka hanya ikhlas dan dengan sangat sadar mengetahui mengenai resiko apa yang kelak akan dihadapi. Dan seandainya mereka tau bahwa mereka lah yang akan menjadi korban, pasti mereka enggan untuk dikasihani, mereka justru ingin apa yang telah mereka perjuangkan untuk terus dilanjutkan.


Adalah sebuah kabar baik apabila kasus yang diperjuangkan saudara-saudara kita yang terpaksa harus meregang nyawa karena memperjuangkan kebenaran telah mendapat perhatian publik, terlebih dengan mencuatnya kasus-kasus semacam itu maka proses hukum kemudian mulai berjalan dengan lebih intens. Maka dengan begitu tidaklah sia-sia perjuangan saudara-saudara kita para korban penghilangan nyawa tersebut, perjuangan anak bangsa terhadap sesamanya, perjuangan putra daerah yang gigih melindungi sekitarnya, perjuangan laki-laki/wanita terhadap keluarganya, perjuangan manusia tentang hak hidupnya, serta perjuangan orang tak berdaya terhadap kesewenang-wenangan. Semoga saja kasus-kasus semacam ini tidak lagi terjadi, secara luas tentunya mengenai berbagai kasus seperti yang diperjuangkan saudara-saudara kita yang berusaha memperjuangkan kebenaran, dan terutama terhadap respons kita sebagai bangsa. Jangan sampai kembali muncul sebuah pertanyaan besar tentang mengapa harus menunggu sampai ada yang mati?.


-rzy-

  • view 207