"Bom Waktu"

Rezzy Febriawan
Karya Rezzy Febriawan Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Januari 2016

Perguruan tinggi, sebuah tingkatan akademis paling tinggi dari kegiatan akademis apapun, inilah jalur menuju puncak dari sebuah pendidikan. Tujuannya apa? Untuk melahirkan orang-orang ahli dan kompeten dibidangnya? Karena hanya di perguruan tinggi kita dapat memaksimalkan minat kita terhadap sebuah ilmu, fokus terhadap sebuah bidang yang memang kita suka. Sepakat? Saya anggap iya?

Tapi apakah pada akhirnya minat kita itu membawa kita pada kehidupan seperti yang kita mau? Seharusnya iya, tapi realitanya kurang menggembirakan. Kenapa? Ini menarik, seakan menjadi sebuah fenomena yang menghantui mereka yang baru saja menggenggam gelar sarjana ketika mereka terpaksa gigit jari saat mendapati kenyataan bahwa sulit untuk mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keilmuan yang mereka pelajari di bangku kuliah. Dan kemudian apa yang terjadi? Pasrah/?melacur? dari keilmuan tidaklah masalah, mulailah mereka-mereka ini mencari peluang ke segala bidang, dan hal ini mebuat sebuah efek domino dimana begitu banyak profesi yang diisi oleh orang-orang yang tidak terlalu ahli dalam bidang tersebut, dan terus berlanjut setelahnya dan setelahnya. Menarik sekali?

Lantas apa permasalahannya? Bukan kah pada akhirnya lingkungan pekerjaan mampu membuat seseorang menjadi ahli dalam sebuah profesi yang sejatinya tidak sesuai dengan keilmuannya? Benar. Bukan kah tidak semua orang yang mengambil sebuah bidang keilmuan saat kuliah memang benar-benar orang yang kompeten pada bidang tersebut? Benar. Dan bukan kah segala peluang adalah sesuatu yang sudah sepantasnya diperjuangkan? Tepat sekali. Beberapa ungkapan sederhana saya diatas mungkin masih kurang kuat dan dapat terbantahkan, namun mari kita bertanya mengenai tanggung jawab. Dimana tanggung jawab kita pada diri kita saat kita memilih sebuah bidang sebagai minat kita saat kuliah? Dimana tanggung jawab sosial kita terhadap para pengangguran yang bidang keilmuannya kita duduki? Dimana tanggung jawab kita sebagai ?mantan agen perubahan? yang diharap mampu membawa perubahan kepada masyarakat (terlebih terhadap bidang yang diambil)? Semua itu seolah terbantahkan oleh kebutuhan hidup, oleh uang, Rupiah.

Pernah saya mendengar seseorang mengatakan kepada saya mengenai alasannya untuk mengambil jurusan untuk kuliah. Dia mengatakan bahwa dia mengambil jurusan tersebut didasari sebuah alasan mengenai masa depannya, mengenai sebuah kepastian akan perjuangannya bergelut didalam sebuah bidang keilmuan yang pasti akan ?menyita waktunya? selama 3 sampai 5 tahun. Hal ini mungkin tidak terfikirkan oleh kita, bahkan oleh saya sendiri (saya akui), namun memang benar apa yang dia lakukan, entah disadari atau tidak olehnya, namun dia mempunyai tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, dia berkomitmen sedari dini untuk tidak menyia-nyiakan apa yang akan dia pelajari demi mendapatkan sesuatu dengan cara mengabaikan kompetensinya, mengabaikan kesempatan orang lain. Orang ini ingin berjuang dan berjalan sesuai dengan langkah awal yang telah dia ambil.

Terkadang saya membayangkan, apabila berbagai profesi dapat digeluti oleh seluruh orang dengan cara ?lintas bidang?, maka akan menjadi sangat mengerikan dikemudian hari. Bayangan sederhananya tentu sudah tersaji saat ini, bagaimana banyak sekali wakil-wakil kita di parlemen yang menduduki posisi/bidang yang tidak sesuai dengan keahliannya. Dan apa yang kita dapat? Silahkan dinilai sendiri? Paling ekstrim saya membayangkan bagaimana seandainya ada salah seorang anggota keluarga saya yang sakit dan kemudian ditangani oleh seorang Sarjana Ekonomi, bukan justru sembuh malah biaya membengkak mungkin, kalkulasi biaya menjadi orientasi, karena itulah keahliannya. Oke saya salah karena pendidikan dokter memang dikhususkan dan perizinannya tidak main-main. Tapi apakah hanya segala sesuatu yang memiliki efek langsung (pengobatan/medis) yang harus seperti itu? Dan lalu kita menerima saja keadaan dimana berbagai profesi yang memiliki efek jangka panjang ditangani oleh mereka-mereka yang tidaklah ahli dalam bidangnya? Bukan kah ini semacam ?bom waktu?? Tinggal kita tunggu saja kapan meledaknya?

-rzy-

  • view 178