Merindu Cinta?

Rezzy Febriawan
Karya Rezzy Febriawan Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 03 Juni 2016
Merindu Cinta?

Langit berwajah sesuai mau penciptanya, begitu banyak alasan dibalik mimik yang ditampilkannya, dan tugas kita? menikmati semaunya, atau lebih bijak jika mampu mensyukurinya. Manusia, ah manusia terlalu rumit dalam menangkap setiap pertanda yang kelak disadurnya menjadi petanda. Cinta adalah desir yang mengalir melalui sela hati dan emosi, bersembunyi dibalik begitu banyak kata yang bahkan hanya mampu menyembunyikan wajah aslinya, miris nan tragis tentunya. Begitu banyak cinta yang sia-sia karena hanya berbentuk kata, kehadirannya hanya menjadi media untuk mendapat keuntungan mengisi relung hati yang mungkin belum sama sekali terisi. Syahwat adalah bentuk terprimitif dalam mengungkapkan kata cinta. tentu saja hanya kata cinta kawan, jauh dari rasa cinta. mengapa demikian adanya? Karena itulah adanya, tidak ada satupun definisi sempurna mengenai cinta, semua manusia memiliki interpretasi mengenainya, dan begitu banyak motif dibaliknya... Tubuh, kekuasaan atas diri orang lain, pengisi waktu luang, gengsi, atau bahkan prostitusi yang (dianggap) sedikit lebih beradab. Itu kah yang dinamakan cinta? Maka dunia telah gila bila semua manusia mengamininya.

            Merindu adalah bagian tertulus dalam menafsirkan rasa cinta, dan oleh karenanya iapun kerap menjadi media lain untuk mengungkapkan rasa cinta. Pernah sebuah kutipan membuatku berfikir mengenai begitu indahnya merindu yang hanya dilampirkan melalui do'a, bukan dengan kata pun dengan bertatap muka, karena sejatinya kerinduan adalah bagian lain dari cinta yang teramat sangat indah. Rasa rindu biasanya dianggap sebagai keinginan untuk bertemu dan berbincang mengenai apa saja, visualisasi maupun audio menjadi jalan yang kerap dinanti untuk merealisasikannya. Bukan kah itu justru tampak selayaknya obsesi yang didasari oleh ego yang membabi buta? Merindu adalah saat dimana ada rasa yang begitu mendesak mengenai apapun terhadap yang terkasih, mengenai apa? entahlah, seharusnya itu mengenai cinta, dan sekali lagi cinta itu takkan mampu diterjemahkan oleh kata.

            Hal paling sederhana mengenai ini semua adalah bagaimana kita bersikap pada orangtua kita, pernah kah kita mengungkapkan cinta kepada mereka seintens kita mengungkapkannya kepada lawan jenis kesukaan kita? Sebagian kecil mungkin seperti itu atas dasar kebiasaan yang dibiasakan, namun sebagian besar yang tidak mengungkapkannya apakah memang tidak mencintai orangtua mereka? Terlihat seperti itu memang, tapi yakinlah bahwa tujuan hidup mereka adalah untuk membahagiakan orangtua mereka, atau setidaknya untuk membuat orangtua mereka tidak khawatir terhadap diri mereka hari ini dan hari-hari setelahnya. Itulah yang mungkin kupahami mengenai cinta, dia adalah ketiadaan. Ketiadaan untuk beralasan mengenainya, ketiadaan untuk menyadarinya, ketiadaan untuk mengharapkan kepentingan bagi diri sendiri, juga ketiadaan untuk menyadari bahwa ia memang ada untuk siapa karena entahlah... Cinta, oh aku begitu cinta untuk membicarakannya, ia adalah misteri yang tak pernah kuduga sebagaimanapun aku berusaha menduga mengenainya. "Cinta, aku begitu merindukanmu wahai cinta"... Ah, ini membuatku terlihat tidaklah benar-benar merindukanmu bukan? Maafkan aku karenanya, mungkin aku lebih berbakat untuk sekedar berbicara dibanding untuk mencinta... Gila!!!

-rzy-