Apa Salah Budaya?

Rezzy Febriawan
Karya Rezzy Febriawan Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Januari 2016
Apa Salah Budaya?

Sebuah keyakinan bergesekan dengan kebudayaan? Ini akan selalu terjadi, dan bahkan sekarang masih terjadi. Bukan bermaksud menyalahkan, tapi ya mencoba buat menuliskan yang terpikir aja. Keyakinan itu datangnya dari mana sih? Kalo gua sih jelas itu harus berkenaan dengan hati, nggak boleh ?by accident? ya walau kebanyakan berawal dari itu sih, contohnya? Ya kenapa lu beragama seperti agama lu sekarang? Stop. Gua nggak mau berdebat tentang itu. Budaya itu? sesuatu yang datangnya dari lingkungan, boleh ?by accident?, contohnya? Ya kenapa lu berpakaian layaknya orang ? barat?. Gua juga nggak mau berdebat soal ini.

Ketika kita melakukan sesuatu mengenai keyakinan kita sambil memasukkan unsur kebudayaan yang kita punya apa salah? Menurut gua nggak. Ini kayak ungkapan yang bilang ?buat apa kita takut kalau kita memang benar?? Kalau kita benar dan kita mengungkapkannya dengan cara kita dan kita dipersalahkan karena itu? Ya balik ke ungkapan tadi. Yang mempersalahkan kita salah dong? Nggak juga, balik lagi keungkapan tadi. Intinya apa? Semua tergantung pada niat kita sih, bukan soal mana yang benar mana yang salah. Kita melakukan sesuatu dengan sebuah tujuan yang jelas itu kan yang tau yang kita tuju, dengan cara apapun kita ngelakuinnya juga kan pada akhirnya yang kita tuju tadi yang memahami apa yang udah kita lakuin, bukan orang lain yang berkeyakinan kalo kita udah salah. Kayaknya gitu sih?

Kebudayaan itu ada atas dasar pemikiran seseorang/beberapa orang, kemudian diadaptasi sama orang lain dengan jumlah yang masif dan kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk kemudian diturunkan pada generasi setelahnya. Dan keyakinan adalah sesuatu yang ada bukan atas dasar pemikiran seseorang tapi diyakini oleh orang dengan jumlah yang masif dan kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk kemudian diturunkan pada generasi setelahnya.

Generasi setelahnya akhirnya mendapati keduanya dalam dirinya, dia berbudaya dan berkeyakinan. Budaya ia gunakan sebagai raga dan keyakinan sebagai jiwa. Ketika raganya ingin melakukan sesuatu untuk menenangkan jiwanya maka hanya jiwanya yang tau apakah itu adalah benar (tentu setiap orang yang memiliki keyakinan bisa mengerti batasan atas apapun yang dia lakukan berdasarkan apa yang dia yakini). Yang jadi permasalahan kemudian adalah ketika sebuah kebudayaan yang mengandung unsur keyakinan lain apa boleh diikut-sertakan untuk sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan yang sudah dia miliki? Jawabannya bukan soal kebudayaan itu mengandung unsur keyakinan lain, tapi kebudayaan itu dijalankan berdasarkan keyakinan yang udah dia miliki. Karena sebuah keyakinan itu bukanlah sesuatu yang terlihat, yang terlihat cuma caranya. Terlepas salah atau nggak caranya ya cuma yang? dia yakini yang tau, karena tentu sebuah kebudayaan hadir atas kehendak yang sudah dia yakini. Dan dia harus yakin kalau yang dia yakini tau apa yang hendak? dia lakukan walau dengan menggunakan cara dari berbagai budaya apapun itu.

Berbudaya dalam berkeyakinan, atau berkeyakinan dalam berbudaya?.
-rzy-

  • view 259