Seperti Indonesia

Rezzy Febriawan
Karya Rezzy Febriawan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Januari 2016
Seperti Indonesia

Gedung itu tergolong cukup besar, besar, tepatnya sangat besar. gedung tersebut sangat tidak terurus, tidak dapat diragukan, amat sangat tidak terurus? Gedung besar yang sangat tidak terurus itu berdiri kikuk ditengah hiruk-pikuk kota yang cukup padat. Terletak hampir tepat ditengah kota dengan mayoritas kendaraan maupun pejalan kaki yang melintasinya setiap waktu, gedung tersebut seolah tidak nampak, terabaikan, dan terasing ditengah keramaian. Dari 10 pejalan kaki yang melintas, hanya hampir 1 orang yang mungkin menoleh (hanya menoleh), selebihnya tidak mengabaikan. Akan tetapi banyak juga yang datang untuk mengeksplorasi gedung ini, biasanya mereka yang datang dari lokasi yang tergolong jauh. gedung ini memang tergolong terkenal bagi pencinta fotografi, khususnya bagi mereka yang menginginkan kesan ghotic dalam setiap hasil jepretannya, dan untuk mendapatkan sensasi tersebut siapapun cukup membayar dengan nilai yang tergolong murah tentunya kepada pengelola (tepatnya penguasa atau pengelola liar). Hari terus berganti dan berbagai perubahan terus bergulir, tetapi tidak dengan gedung tersebut, dia tetap saja berdiri kikuk, tetap ?menyendiri? ditengah keramaian. Gedung yang malang.

Sampai pada suatu ketika?. seorang pemuda berusia kisaran 20 tahun melintas, ini adalah kali pertama dia berjalan kaki melintas daerah tersebut, pemuda ini terlihat memperhatikan gedung tersebut, hal ini bertolak belakang dengan beberapa orang lain yang juga melintas di depan gedung tersebut pada kesempatan pertama. Si pemuda seolah tidak mau melepaskan pandangannya dari gedung tersebut, sampai tanpa sadar langkahnya melambat, terus melambat dan akhirnya ia berhenti. Ia luruskan tubuhnya sehingga posisinya seolah berhadapan dengan gedung tersebut, ia pun terus menatap gedung itu, garis wajahnya menunjukkan ekspresi datar, matanya menatap tajam, akan tetapi jelas ada keresahan didalam tatapan itu. Gedung itu terlihat cukup tua baginya, cukup besar, dan cukup indah (belakangan ini terfikir ketika ia menyaksikan beberapa anak muda sedang mengabadikan momen didalamnya). Dari sorot keresahan di matanya, ia seolah menyiratkan bahwa ia cukup mengenal gedung ini, bahkan sangat mengenal, akan tetapi keresahannya masih meraba-raba mengapa ia seolah sangat mengenalnya. Kemudian dengan sedikit berat ia melangkahkan kakinya pergi, masih menatap gedung tersebut, dan akhirnya ia benar-benar meninggalkannya setelah melempar satu pendangan lagi sampai gedung tersebut benar-benar tidak nampak oleh matanya.

Kejadian ketika anak muda tersebut melintas dan kemudian menatapi gedung tersebut terus berulang beberapa hari setelahnya, bahkan anak muda ini menjadi cukup sering ?mengunjung? gedung tersebut, walau hanya dari luar, keresahannya masih menuangkan tanda tanya besar mengenai keintiman apa yang ia miliki bersama dengan gedung tersebut. Dan justru semakin hari keresahan itu semakin menjadi, keresahan itu semakin nampak dari sorot matanya, bahkan melalui nadi-nadinya hingga kerap tangannya terkepal diluar kendalinya. Pemuda ini terus terusik karenanya, ia semakin mencintainya, ia semakin mesra untuk selalu menggaulinya?. sejatinya ia hanya resah, terlalu meresah.

Sampai pada akhirnya disebuah senja yang pucat, pemuda ini datang, kali ini ia datang berbekal sebuah bambu panjang di tangan kanannya, serta sebuah kantung plastik berisikan sesuatu ditangan kanannya. Ia menatap kembali kedalam gedung tersebut, beberapa saat ia terlena, ia menatapnya dalam-dalam, ia mencoba memastikan mengenai sebuah keresahan yang telah didapatnya. Dan ketika jawaban itu semakin tampak dan nyata, ia bulatkan tekatnya, perlahan ia memasuki gedung tersebut (untuk pertama kalinya) sangat pelan, sangat berhati-hati, dan sangat memilukan hatinya ketika ia mulai menyaksikan kekosongan serta kesia-siaan disepanjang pandangannya di dalam gedung tersebut?.. Waktu terus bergulir, hari perlahan menjadi sedikit lebih gelap, pemuda itu urung juga keluar dari dalam gedung. Dan akhirnya ketika hari mulai mendekati pergantiaannya antara terang menuju gelap, si pemuda beringsut keluar. Tubuhnya terlihat sedikit lebih kotor dar sebelumnya karena debu-debu yang menempel tentunya, pakaiannya pun menyiratkan kelelahan dari keringat yang menempel disekitaran dadanya, ia berjalan perlahan keluar, ia memperhatikan sekitar sambil menarik nafas dalam-dalam untuk mengusir lelahnya, kemudian ia membalikkan badan untuk menatap gedung tersebut. Tatapannya kali ini sedikit berbeda dari sebelumnya, matanya masih tetap tajam dan resah, ekspresinya masih tetap datar seperti sedia kala, akan tetapi sebersit senyum pahit mengembang dibibirnya, sangat sedikit. Matanya menatap seolah menyapu seluruh tampilan gedung tersebut dari posisinya memandang dan berujung pada atap gedung tepat ditengah dari posisi gedung tempat pemuda tersebut. Saat itu ia merasa bukan lagi sedang menerka-nerka mengenai keresahannya, bukan lagi sedang mencari tahu mengapa ia merasa sangat mengenalnya, tapi tatapannya kali ini benar-benar tatapan dari seorang pemuda yang tengah resah akan sesuatu yang sangat dikenalnya? Kepalanya terus sedikit mendongak, tatapannya lurus mengarah keatas gedung, kearah sebuah tiang bambu yang tadi dibawanya, mengarah kesebuah bendera Merah-Putih yang berkibar malu diujungnya, si pemuda tadi menyunggingkan lagi senyum kecutnya seraya berkata,

?Seperti Indonesia, dibangun untuk diabaikan?

Kemudian ia berlalu tepat ketika malam mulai menguasai seisi suasana?.

?

-rzy-

  • view 245