Sebuah Surat Untuk Kawan-Kawan Ku

Rydho Bagus
Karya Rydho Bagus Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Januari 2017
Sebuah Surat Untuk Kawan-Kawan Ku

“Menjadi Mahasiswa Dengan M besar ala Soe Hok Gie”

Rydho Bagus Pratama

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah IKIP PGRI MADIUN

 

Dewasa ini, mahasiswa sering terbelengu oleh yang dinamakan dengan “culture of fear”. Culture of fear adalah sebuah budaya ketakutan yang membelenggu segala tindakan. Hal itu kerap kali masuk, di dalam diri mahasiswa. Dalam konteks ini, ialah IKIP PGRI MADIUN khususnya di Program Studi Pendidikan Sejarah. Ketakutan yang seakan bertindak menekan secara perlahan. Ketakutan itu juga menekan segala pemikiran sebagai seorang akademisi yang seharusnya bebas untuk berpendapat. Ketakutan itu seperti: ketakutan untuk mengutarakan pendapatnya, ketakutan mendapat nilai jelek karena menentang pemahaman dari dosen, ketakutan jika argumentasi yang dilontarkan menyingung hati dosen, dan ketakutan melihat segala macam penyelewangan-kejanggalan-manipulasi untuk dibenarkan kembali.

Selama ini budaya ketakutan tersebut, telah menguburkan yang dinamakan sebagai “idealisme seorang mahasiswa”. Mahasiswa yang sejatinya adalah seorang yang sadar akan peranan sosialnya, baik di dalam kelas ataupun di luar kelas. Mengutip kata-kata dari Tan Malaka bahwa, Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya di miliki oleh seorang pemuda. Namun, sungguh ironis bahwa hal ini bertentangan dengan apa yang terjadi pada mahasiswa dewasa ini. Mahasiswa terkadang tidak mengerti yang dimaksud dengan idealisme. Paradigma yang berkembang bahwa “yang penting kuliah dan cepat lulus lalu kerja” adalah pemahaman pragmatis. Sejatinya di masa kuliah adalah sebuah masa untuk mengasah potensi yang dimiliki bagi tiap individu. Potensi itu seperti, keahlian dalam menejemen organisasi, acara, teknik kepemimpinan, teknik berpidato, kemampuan berdebat, kemampuan untuk menulis karya ilmiah, kemampuan untuk mengorganisir dan lain-lain. Hal ini bisa terwujud bilamana mahasiswa sadar akan peran sosialnya yang terkandung di dalam tri darma: PENDIDIKAN, PENELITIAN, PENGABDIAN. Jika hal tersebut ditarik lebih dalam lagi maka, akan dapat didefinisikan sebagai “kaum intelektual yang dapat mengaktualisasikan ilmunya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara”.

Berdasarkan yang KU lihat bahwa, mahasiswa sering kali mereproduksi slogan-slogan yang isinya merefleksikan “bahwa mereka adalah agen of change”. Slogan itu berdengung dengan kerasnya pada tataran wacana. Hal ini mengindikasikan bahwa mahasiswa dewasa ini tidak sadar akan peran sosialnya di ranah kampus, masyarakat, bangsa dan negara. Mereka sejatinya ialah pelopor bagi pergerakan. Namun, menjadi pelopor pergerakan tidaklah mudah, itu semua butuh suatu proses pengkajian yang rutin. Pengkajian tersebut ialah salah satu kunci untuk memahami persoalan-persoalan kampus, masyarakat, bangsa dan negara. Pelopor pergerakan ataupun seorang aktivis ialah mereka yang sejatinya adalah seorang pergerakan yang kebetulan kuliah dan bukan seorang kuliahan yang kebetulan ikut pergerakan.

Budaya mahasiswa yang terbelengu oleh “culture of fear” sebenarnya harus dihilangkan. Salah satu caranya adalah dengan membangun forum-forum diskusi. Forum yang diperuntukan untuk membangun pola berfikir “intelektual radikalism” pada diri setiap mahasiswa. Hal itu juga harus dibarengi dengan seseorang yang memiliki pemikiran progresif dengan mengkonsumsi buku-buku sebanyak mungkin, lalu dibagikan dalam format-format diskusi sebagai momentum pengujian dari apa yang telah dipelajari baik di dalam kelas atau di luar kelas.

Menjadi manusia pergerakan adalah menjadi manusia yang memiliki semangat dan tekat yang kuat untuk berjuang menghilangkan sifat-sifat borjuis dalam menikmati kehidupan serta menolak untuk menjadi seorang yang memiliki kecenderungan ataupun sifat-sifat kapitalis yang hanya mengeksploitasi dan memanfaatkan teman-temannya sendiri untuk kepentingan pribadi semata.

Mengutip kata-kata Soe Hok Gie, jadilah mahasiswa dengan M besar yang selalu peka melihat kejanggalan-kejanggalan di dalam kampus dan janganlah menjadi mahasiswa dengan m kecil. Hal ini diperjelas kembali di dalam buku Zaman Peralihan halaman 150, Soe Hok Gie berkata bahwa, “Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menegah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi”. Menjadi seorang mahasiswa dengan M besar adalah mereka yang memiliki strategi dan menejemen waktu yang luar biasa. Strategi tersebut digunakan untuk berbagi pengetahuan kepada teman-temannya demi meningkatkan kualitas intelektual mereka melalui format-format diskusi, karena dalam Hadis Riwayat Muslim disebutkan bahwa “Tiap-tiap kita adalah pemimpin dan akan dipertanggungjawabkan atas apa yang kita pimpin”. Menejemen waktu digunakan untuk menata kapan memenuhi kepentingkan pribadi dan kapan memenuhi kepentingan kelompok.

Melawan diri sendiri adalah melawan segala ketakutan. Ketakutan yang akan menghambat segala tindakan. Oleh sebab itu maka, lebih baik mati berlapang tanah dari pada hidup bercermin bangkai, sekali hidup harus berarti karena setelah itu mati dan mati itu pasti. Bergeraklah. Bergerak untuk melawan tatanan yang lama yang bergitu represif melalui revolusi pemikiran dan tindakan. Seperti ungkap Soekarno bahwa “Revolusi mu belum selesai” selama ketakutan masih tersimpan di dalam diri mahasiswa.

“Seorang Pemimpin yang hebat adalah seorang prajurit yang tangguh”

Madiun, 22 Desember 2016

Penulis

  • view 128