Pendidikan Nilai Beridentitas Kearifan Lokal Dayak Meratus

Rydho Bagus
Karya Rydho Bagus Kategori Budaya
dipublikasikan 11 November 2016
Pendidikan Nilai Beridentitas Kearifan Lokal Dayak Meratus

Pendidikan Nilai Beridentitas Kearifan Lokal Dayak Meratus

Rydho Bagus Pratama1

1Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah IKIP PGRI MADIUN

 

Ringkasan

Pendidikan nilai dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda negeri kita ini. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak, remaja dan orang tua, kejahatan terhadap teman sendiri, peculikan karena dendam, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi dan pengerusakan barang milik orang lain. Umumnya sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas. Oleh karena itu betapa pentingnya pendidikan nilai khususnya melalui budaya lokal sebagai alternatif mengenai problem ini yang bisa untuk memperbaiki karakter peserta didik. Munculnya berbagai problem dan menurunnya moral pada peserta didik tersebut disebabkan oleh pendidikan nilai yang ditanamkan kurang mengena pada diri peserta didik. Pergantian kurikulum yang terlalu sering juga menjadi faktor tersebut. Pendidikan nilai sebenarnya bisa diambil melalui budaya lokal yang disisipkan pada pendidikan. Di Indonesia sendiri ada berbagai macam suku-budaya yang beraneka ragam (multiculture) dari Sabang hingga Merauke dari suku Minahasa, Dayak, Jawa, Sunda, Minangkabau dan masih banyak lagi. Budaya lokal yang berasal dari Indonesia sebenarnya terkandung banyak sekali nilai-nilai positif yang dapat diintegrasikan ke dalam pendidikan yang gunanya agar dapat memperbaiki moral serta penguatan daya saing dan nilai kebangsaan pada peserta didik. Maka diperlukan sebuah formulasi model pendidikan untuk menyiapkan SDM agar mampu bersaing di era MEA salah satunya ialah pendidikan nilai beridentitas Dayak Meratus. Suku Dayak Meratus yang ada di Kalimantan Selatan memiliki budaya yang unik dan nilai-nilai positif yang terkandung dalam budaya mereka, seperti kejujuran, menghargai dan menghormati roh padi, menjaga hutan, mengedepankan kemaslahatan buat sesama dan toleransi.

Kata Kunci : Pendidikan Nilai, Dayak Meratus, Identitas,

***

Pendidikan dan nilai adalah dua unsur yang tentunya memiliki konotasi  berbeda. Jika pendidikan adalah unsur yang bertujuan mencerdaskan, sedangkan nilai adalah inti dari unsur-unsur yang berada dalam pendidikan tersebut. Pertama, Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya pendidikan yaitu menuntut segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya (http://www.kompasiana.com).

Pendidikan merupakan proses belajar-mengejar agar orang dapat berfikir secara arif dan bijaksana. Oleh sebab itu pendidikan merupakan sarana terpenting dalam mewujudkan cita-cita bangsa (Magdalia Alfian, 2011: 1). Pendidikan juga adalah salah satu unsur dari pembentukan karakter pada diri manusia. Karakter tersebut berupa tingkah laku dan cara berfikir individu tersebut. Pendidikan seolah tidak henti-hentinya menjalankan peran penting untuk menjadikan manusia dari yang tidak mengetahui kemudian dapat tercerahkan dan aplikasinya tertuang dalam berbagai model bentuk perilakunya. Tercerahkannya individu tersebut tidak lepas dari pengaruh keluarga, teman, dan instansi pendidikan yang dia tempuh. Jadi dalam konteks ini pendidikan berperan penting dalam mengubah dan membentuk karakter pada diri individu-individu tersebut. Kedua, nilai merupakan suatu sifat yang menyenangkan (pleasant), memuaskan (satisfying), menarik (interesting), berguna (useful), menguntungkan (profitable) (Al Muchtar dalam Jurnal Pendidikan Sosiologi dan Humaniora, 2010: 44). Pandangan ini sejalan dengan Rokeah (Djahiri, 2010: 44) adalah bahwa nilai adalah sesuatu yang berharga yang dianggap bernilai, adil, baik, benar, dan indah serta menjadi pedoman atau pegangan diri. Pedoman atau pegangan diri tersebut muncul karena dimaknainya nilai pada diri manusia tersebut. Nilai erat hubungannya dengan manusia, baik dalam bidang etika yang mengatur kehidupan manusia dalam kehidupan sehari-hari, maupun bidang estetika yang berhubungan dengan bidang keindahan. Bahkan nilai masuk ketika manusia memahami agama, budaya, dan keanekaragaman serta kearifan lokal budaya yang memiliki keindahan dan tertunya bermanfaat pada diri manusia tersebut sebagai pedoman atau pegangan hidup (Elly Setiadi. dkk, 2006: 109-110). Menurut Arthur W. Comb (dalam Ilmu Sosial Budaya Dasar, 2006: 121): Nilai adalah kepercayaan-kepercayaan yang digeneralisir yang berfungsi sebagai garis pembimbing untuk menyeleksi tujuan serta perilaku yang akan dipilih untuk dicapai.

Pendidikan nilai dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda negeri ini. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak, remaja dan orang tua, kejahatan terhadap teman sendiri serta orang lain, peculikan karena rasa dendam, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi dan pengerusakan barang milik orang lain. Umumnya sudah menjadi masalah sosial yang kompleks hingga saat ini dan belum dapat diatasi secara tuntas. Di antara deretan faktor tersebut yang turut mengkondisikan terjadinya berbagai kasus degradasi moral tersebut, penyelengaraan pendidikan nasional di tuding turut menjadi penyebab munculnya masalah-masalah tersebut, sehingga muncul pernyataan mendasar; bagaimana sebenarnya peran pendidikan nasional dalam meletakkan pondasi moral dan peradaban masyarakat (Sulton, 2015: 28). Oleh karena itu betapa pentingnya pendidikan nilai khususnya melalui budaya lokal sebagai alternatif mengenai problem-problem ini serta untuk menyiapkan SDM sebagai daya saing bangsa yang unggul dan mandiri.

Pendidikan nilai bisa diambil melalui budaya lokal karena dari budaya lokallah awal dari terbentuknya identitas diri bangsa ini yang lalu diintegrasikan pada pendidikan. Di Indonesia terdapat berbagai macam suku, budaya, etnis, ras, suku-bangsa dan lain-lain yang tentunya beraneka ragam pula (multiculture) dari ujung barat Sabang hingga ujung timur Merauke dari suku Aceh, Batak, Minahasa, Dayak, Banjar, Jawa, Sunda, Minangkabau, Papua dan masih banyak lagi suku-suku yang mendiami Indonesia. Budaya lokal yang berasal dari Indonesia sebenarnya terkandung banyak nilai-nilai positif yang tentu dapat diintegrasikan ke dalam pendidikan agar dapat memperbaiki moral serta dapat menjadi penguatan daya saing bangsa. Nilai-nilai kebangsaan dan budaya lokal pun tentunya harus ditanamkan sejak dini. Agar mulai dari sekarang agar tidak terjadi penurunan moral pada peserta didik. Maka diperlukan sebuah formulasi model pendidikan untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) agar mampu bersaing di dalam era MEA salah satunya ialah pendidikan nilai beridentitas kearifan lokal Dayak Meratus.

Pendidikan nilai sejatinya adalah menanamkan nilai kepada siswa, namun lebih pada proses menggali atau mengekplorasi dan mengembangkan nilai-nilai pada pendidikan. Menggali dan mengeksplorasi budaya lokal adalah hal yang tepat untuk dimasukkan pada pendidikan yang berbasis nilai-nilai budaya lokal. Pendidikan nilai ini digunakan sebagai proses untuk membantu peserta didik dalam mengeksplorasi nilai-nilai yang ada melalui pengujian kritis, sehingga siswa dimungkinkan untuk meningkatkan atau memperbaiki kualitas berpikir serta perasaannya (Endang Purwaningsih, 2010: 46). Pendidikan Nilai beridentitas kearifan lokal Dayak Meratus adalah pendidikan yang mengambil nilai-nilai positif dari nilai-nilai budaya lokal Dayak Meratus. Pendidikan ini menekankan pada aspek nilai-nilai positif budaya, adat-istiadat, dan kearifan lokal Dayak Meratus yang diintegrasikan pada pendidikan khususnya nilai-nilai keyakinan Dayak Meratus.

Dayak Meratus adalah nama kolektif suku-bangsa yang mendiami pulau Kalimantan Selatan mereka mendiami perbukitan, lembah-lembah sempit, dan kawasan hutan lindung di pegunungan Meratus daerah Kabupaten Balangan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tapian, Banjar, Tanah Laut dan Kotabaru. Dari Sungai Pitap di utara dan kawasan hulu daerah aliran sungai Riam Kiwa di sebelah selatan. Dahulu dan dalam sebagian besar publikasi, etnis Dayak Meratus disebut sebagai etnis (Dayak) Bukit. (Wajidi, 2013: 89-90). Suku Dayak Meratus yang berada di Kalimantan Selatan memiliki budaya yang unik serta nilai-nilai budaya yang positif yang terkandung dalam budaya mereka, seperti kejujuran, menghargai dan menghormati roh padi, menjaga hutan secara turun-temurun, mengedepankan kemaslahatan buat sesama, dan toleransi agama. Juga yang paling unik dalam budaya mereka adalah Bahuma (berladang) yaitu sistem nilai keyakinan (religi) yang dipadukan dengan tradisi berladang. Puncak dari tradisi bahuma adalah Upacara Aruh Ganal (religi). Nilai-nilai keyakinan Dayak Meratus seperti kejujuran, mengedepankan kemaslahatan sesama, dan toleransi sangat relevan sekali di dalam era MEA sekarang ini dalam menciptakan generasi yang unggul dan mandiri.

Masyarakat Ekonomi ASEAN adalah suatu komunitas negara-negara ASEAN yang luas, tidak ada batasan-batasan dalam hal perekonomian. Dimana suatu negara dapat masuk bebas dalam persaingan pasar. “Masyarakat Ekonomi ASEAN yang bebas dari berbagai macam hambatan, pengutamaan peningkatan konektivitas, pemanfaatan berbagai skema kerja sama baik intra-ASEAN maupun antara ASEAN dengan negara mitra khususnya negara mitra FTA, serta penguatan peran UKM dalam proses integrasi internal ASEAN maupun dengan negara mitra (Ahmad Yurist Firdaus, dkk, 2013: 154). Namum dengan adanya MEA ini telah muncul berbagai macam problem-problem pada masyarakat. Salah satu problemnya adalah semakin menurunnya daya saing dalam menghadapi MEA dan seakan semuanya hanya menjadi komoditas pasar. Sistem yang kapitalistik dan liberal menjadi promo dari program-program MEA. Pendidikan pun tidak luput dalam hal ini dan hanya menjadi komoditas. MEA adalah bentuk baru dari neo-kolonialisme pasar (neokolonialisme/kapitalisme-liberal). Munculnya dan berkembangnya berbagai problem yang kompleks pada negeri ini dan menurunnya moral pada peserta didik tersebut disebabkan oleh pendidikan nilai yang ditanamkan kurang mengena pada diri peserta didik tersebut serta kurang dimaknainya pendidikan tersebut.

Pergantian kurikulum yang terlalu sering bisa menjadi faktor pendukung. Kurikulum yang carut-marut dan sering berganti-ganti mulai sejak tahun 1947 hingga sekarang tentunya akan membuat bingung peserta didik. Serta dimungkinkan akan terjadi penurunan moral pada peserta didik. Ironisnya setiap pergantian Mentri Pendidikan selalu berganti pulalah kurikulum tersebut. Penurunan moral terjadi karena kurangnya nilai-nilai positif dari budaya lokal yang seharusnya diintegrasikan pada pendidikan. Dalam hal ini pendidikan nilai yang berorientasi budaya lokal justru diharapkan bisa menjadi alternatif untuk mencegah degradasi moral pada peserta didik serta dapat menjadi penguatan untuk daya saing bangsa dan dapat memciptakan generasi yang unggul dan mandiri di era MEA.

Penguatan daya saing tersebut bisa terjadi bilamana pendidikan nilai benar-benar dimaknai di dalam sanubari peserta didik. Jika tidak dimaknai maka akan terjadi penurunan moral pada peserta didik. Penurunan moral tersebut pasti akan berdampak pada lemahnya daya saing bangsa untuk bersaing di dalam era MEA. Di dalam era MEA ini peserta didik tentunya dituntut agar segiat mungkin belajar dan bersaing dengan negara-negara ASEAN agar tidak kalah dalam persaingan tersebut. Persaingan tersebut juga mencakup berbagai macam aspek, mulai dari pendidikan, ekonomi, politik, sosial dan lain-lain yang kesemuannya memiliki keuntungan yang besar bagi dirinya sendiri, bangsa, dan negara.

Kehidupan modern sebagai dampak kemajuan berbagai bidang, yaitu pengetahuan dan teknologi menghasilkan berbagai perubahan, pilihan dan kesempatan, tetapi mengandung berbagai resiko akibat kompleksitas kehidupan yang ditimbulkannya. Salah satu kesulitan yang ditimbulkan adalah munculnya “nilai-nilai modern” yang tidak jelas dan membingungkan peserta  didik serta bisa berdampak pada degradasi moral (Elly Setiadi dkk, 2006: 126-127). Pendidikan nilai dewasa ini sangat tepat untuk memperbaiki karakter pada peserta didik yang mengalami degradasi moral. Degradasi moral ini terlihat seperti aksi pawai kelulusan sekolah dengan mencoret-coret baju yang alangkah lebih baiknya jika di sumbangkan kepada yang lebih membutuhkan. Degradasi moral memang melanda Indonesia. Dengan berbagai macam kisis negeri kita akan terpecah-pecah. Hal ini ditambah lagi dengan semakin bobroknya moral para pejabat negara seperti korupsi dan segala bentuk penyelewangan yang sampai saat ini belum tertangani secara memuaskan. Masyarakat pun seakan bersifat skeptis pada negeri ini di masa yang akan datang. Dewasa ini kehancuran moral telah merasuk dalam beragam bentuknya nyaris dapat ditemui pada semua lapisan masyarakat dan pada semua dimensi kehidupan: politik, sosial, ekonomi serta pendidikan (Endang Purwaningsih, 2010: 45-46). Jika hal ini dibiarkan saja tentunya akan berdampak negatif bagi kehidupan dan kehancuran pun akan melanda negeri ini.

Masyarakat Dayak Meratus pada dasarnya memiliki tiga nilai-nilai budaya yang unik, yaitu nilai keyakinan atau kepercayaan, sosial, dan budaya. Ketiga nilai-nilai tersebut adalah satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat terpisahkan pada tradisi budaya dan kearifan masyarakat Dayak Meratus. Pada sistem religi/keyakinan masyarakat Dayak Meratus telah mengenalkan nilai-nilai toleransi, menghargai sesamanya meskipun beda keyakinan, mengedepankan kemaslahatan bersama dan lain-lain. Di dalam era MEA yang sekarang ini nilai-nilai toleransi, menghargai sesamanya serta mengedepankan kemaslahatan sesama dirasa telah menurun drastis, menyukai hal-hal yang praktis serta berfikir pragmatis dan seakan semua mementingkan kepentingan individu-individu semata dari pada kepentingan sesamanya.

Masalah-masalah sosial seperti konflik budaya adalah segelintir contoh dari kurang dimaknainya nilai-nilai toleransi pada masyarakat. Jika ini terjadi terus, maka akan berdampak buruk pada daya saing bangsa di era MEA. Maka sangat penting dalam hal ini untuk mengunakan nilai-nilai budaya lokal khususnya budaya dari Dayak Meratus dalam memperbaiki moral dan memperkuat daya saing bangsa dalam menyiapkan SDM di era MEA. Ada nilai-nilai positif dari budaya Dayak Meratus yang bisa digunakan di era MEA sekarang ini. Nilai tersebut terdapat pada sistem keyakinan Dayak Meratus. Keyakinan tersebut mengajarkan bahwa pentinnya kebersamaan, rasa toleransi dan lain-lain yang cocok digunakan di era sekarang.

 

Daftar Pustaka

Alfian, Magdalia. Maret 2011. “Pendidikan Sejarah dan Permasalahan Yang Dihadapi”. Journal Ilmiah Kependidikan, 3 (2): 1.http://id.portalgaruda.org/?ref=browse&mod=viewarticle&article=325582 (Diunduh pada 1 November 2016 pukul 13:29 WIB).

Purwaningsih, Endang. April 2010. “Keluarga Dalam Mewujudkan Pendidikan Nilai Sebagai Upaya Mengatasi Degradasi Nilai Moral”. Journal Pendidikan Sosiologi dan Humaniora, 1 (1):  44-46. http://id.portalgaruda.org/?ref=browse&mod=viewarticle&article=33599 (Diunduh pada 3 November 2016 pukul 17:12 WIB).

Setiadi, Elly M, dkk. 2006. Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar. Jakarta: Penerbit Kencana Prenada Media Group.

Sulton. 2015. “Menimbang Peran Pendidikan di Sekolah sebagai Wahana Pembentukan Karakter Siswa”. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Pendidikan, FKIP Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Ponorogo, 37-38.

Wajidi. Mei 2013. “Kearifan Lokal Masyarakat Dayak Meratus Di Kalimantan Selatan Dalam Mendukung Ketahanan Pangan”. BALITBANGDA PROV. KALSEL, : 89-90. http://balitbangda.kalselprov.go.id/kearifan-lokal-masyarakat-dayak-meratus-di-kalimantan-selatan-dalam-mendukung-ketahanan-pangan/ (Diunduh pada 5 November 2016 pukul 09:10 WIB).

Yurist Firdaus, Ahmad, dkk. Mei 2013. “Penerapan ‘Acceleration To Improve The Quality Of Human Resources’ Dengan Pengetahuan, Pembangunan, Dan Persaingan Sebagai Langkah Dalam Mengoptimalkan Daya Saing Indonesia Di Era MEA 2015”. Economics Development Analysis Journal, 2 (2): 154. http://journal.unnes.ac.id/artikel_sju/pdf/edaj/1651/1556 (Diunduh pada 6 November 2016 pukul 05:20 WIB).

 

Sumber: Tulisan ini dilombakan di "National Essay Competition UKM Penelitian Universitas Lampung" pada 10 Oktober - 10 November 2016.

  • view 285