Alternatif Media Pendidikan Berbantukan “Historis Film” Berbasis Nasionalisme

Rydho Bagus
Karya Rydho Bagus Kategori Lainnya
dipublikasikan 07 November 2016
Alternatif Media Pendidikan Berbantukan “Historis Film” Berbasis Nasionalisme

Alternatif Media Pendidikan Berbantukan “Historis Film” Berbasis Nasionalisme

Rydho Bagus Pratama1

1Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah IKIP PGRI MADIUN

 

Ringkasan

Film adalah media yang sangat vital sebagai proses penyadaran disamping juga sebagai hiburan. Proses penyadaran sebenarnya bisa dilakukan ke peserta didik dengan menyuguhkan film yang memiliki makna dan nilai-nilai kesejarahan, kebangsaan, pendidikan, dan kemanusian. Namun, sekarang ini media elektronik (TV) sering menyuguhkan film-film dan sinetron yang sebenarnya tidak memiliki nilai-nilai dan makna untuk peserta didik. Film dan sinetron sekarang ini lebih banyak mementingkan hal-hal yang bersifat kesenanggan semata entah itu negatif ataupun positif. Film-film dan sinerton tersebut seperti halnya kisah-kisah yang bertemakan percintaan, mistik yang sebenarnya absurd, perkelahian, dan sinetron-sinetron yang sering disuguhkan oleh TV dan sering atau hampir setiap hari ditonton oleh peserta didik sebenarnya sedikit banyak memberikan contoh negatif pada peserta didik. Film yang berlatar belakang sejarah sebenarnya adalah solusi bagi peserta didik dewasa ini. Nilai-nilai kesejarahan yang sebenarnya dapat mengugah mereka sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan juga tentunya terkandung makna didalamnya. Film-film tersebut seperti halnya film Soegija yang rilis ditahun 2012 (Film yang berlatar belakang masa-masa kemerdekaan dan kisah pengalaman hidup Albertus Soegijapranata seorang uskup pribumi di Semarang yang memiliki semangat akan kemanusiaan), film Jenderal Sudirman yang rilis tahun 2015 (Film yang mengambarkan semangat patriotisme dan kebangsaan pada pemuda untuk membela bangsa), atau film Battle Of Surabaya yang rilis ditahun 2014 (Film kartun buatan anak negeri yang bertemakan perjuangan bangsa melawan penjajah). Tiga film diatas sebenarnya hanya segelintir dari film-film yang bertemakan kesejarahan dan seyogianya cocok untuk menjadi tontonan wajib bagi peserta didik dalam proses pendidikan dan penyadaran.

Kata kunci: Film Sejarah, Pendidikan, Penyadaran

 ***

Pendidikan adalah sebuah media penting dalam proses penyadaran bagi peserta didik. Proses penyadaran tersebut sebenarnya bisa dilakukan dengan berbagai macam cara seperti halnya dengan membaca buku, berdiskusi, nonton film dan lain-lain. Cara belajar sebenarnya tidak harus dengan suasana yang tegang dan represif dimana peserta didik dihadapkan oleh pendidik yang garang serta setumpukan tugas yang membuat peserta didik menjadi stres dan tertekan oleh cara belajar yang keras seperti ini. Namun, belajar sebenarnya bisa dengan cara-cara yang santai dan menyenangkan namun serius seperti nonton film-film yang bertemakan kesejarahan, kebangsaan, patriotisme, dan kemanusiaan. Cara belajar dengan nonton film mungkin dirasa efektif karena dalam prosesnya peserta didik tidak harus tegang dan peserta didik langsung dihadapkan oleh realitas yang ada di dalam film tersebut. Disatu sisi menghibur peserta didik namun, juga disatu sisi yang lain memiliki nilai-nilai dan makna pendidikan yang menyenangkan. Namun ironisnya film-film dan sinetron sekarang ini lebih banyak menyuguhkan kisah-kisah negatif dan itu sedikit banyak ditiru oleh peserta didik seperti balapan liar ala Anak Jalanan, perkelahian ala The Raid, kisah-kisah percintaan yang sekarang begitu banyak muncul di dalam dunia sinetron dan perfilman di Indonesia, atau kisah-kisah mistik yang sebenarnya absurd dan hanya sedikit film-film yang bertemakan perjuangan bangsa di produksi perusahaan-perusahaan perfilman Indonesia (Apakah ini adalah faktor dari kebutaan orang Indonesia terhadap sejarah? Atau kurangnya minat orang Indonesia terhadap sejarahnya? Atau mungkin kurangnya minat orang Indonesia terhadap film-film yang berlatar belakang sejarah sehingga sedikit diproduksi film-film tersebut? Saya semakin tidak tau pasti apa penyebabnya).

Dibalik kurangnya film yang berlatar belakang perjuangan bangsa, sekarang telah bermunculan film-film yang seyogianya cocok untuk menjadi tontonan peserta didik dan tersirat makna dan nilai-nilai pendidikan, kebangsaan, patriotisme, kesejarahan dan kemanusiaan. Film-film tersebut contohnya seperti Soegija (2012), Jenderal Sudirman (2015), Battle Of Surabaya (2014), Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015), Soekarno: Indonesia Merdeka (2013), Sang Kiai (2013), Sang Pencerah (2010), Sepatu Dahlan (2014), Laskar Pelangi (2008), Ruddy Habibie (2016) dan masih banyak lagi film-film Indonesia yang lain. Beberapa film tersebut sangat cocok digunakan sebagai media dalam proses pembembelajaran dan penyadaran peserta didik. Penyadaran dengan nonton film ini sangat memiliki nilai positif karena peserta didik melihat hal-hal yang baik dan patut ditiru seperti misalnya dalam Film Soegija (2012) yang mengambarkan nilai-nilai kemanusiaan terhadap sesamanya dan menanggalkan apa yang disebut semangat kesukuan, agama, dan kebudayaan (etnosentris) seperti yang dikatakan oleh tokoh pemeran Albertus Soegijapranata (Nirwan Dewanto) seorang uskup pribumi di Semarang tahun 1896-1963, di akhir dari film tersebut pada menit ke-1:45:35 berkata: “Kemanusiaan itu satu kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya, berlawanan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya semua merupakan satu keluarga besar. Satu keluarga besar dimana anak-anak masa depan tidak lagi mendengar nyanyian berbau kekerasan, tidak menuliskan kata-kata bermandi darah, jangan lagi ada curiga, kebencian dan permusuhan” (kata-kata ini ditulis pada tahun 1950). Dengan adanya film-film yang berlatar belakang sejarah tentunya dapat membangkitkan jiwa nasionalisme pada generasi muda seperti puisi seorang tokoh perjuangan angkatan ‘26 Ali Archam “Obor yang dinyalakan di malam gelap gulita ini kami serahkan kepada angkatan kemudian” (Puisi ini dituliskan dimakamnya di Boven Digoel) (dalam Wilson, 2008: v). Setelah kemerdekaan sebenarnya generasi muda Indonesia setelah tahun 1945, perlahan-lahan namun pasti mulai berbenah diri dan mulai tumbuh pula generasi yang kini telah menjadi manusia-manusia baru Indonesia (Soe Hok Gie, 2005: 94).  Namun, apakah kita akan kembali lagi menjadi bangsa yang sejak lama bermental diperintah oleh bangsa-bangsa lain, seperti uangkapan Pramoedya Ananta Toer “Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain” (Pramoedya Ananta Toer, 2015: 5). Mainset seperti ini akan tumbuh bilamana Indonesia tidak berbenah diri. Adanya berbagai macam konflik yang sering melanda negeri ini adalah bukti nyata bahwa Indonesia lambat untuk mulai berbenah diri, sudah terhitung ada puluhan konflik yang melanda Indonesia seperti contoh gerakan separatis di daerah Papua yang akhir-akhir ini mulai muncul lagi, Persaingan ekonomi yang kerap kali berujungan pada tindak kekerasan atau gerakan fundamentalis Islam yang mulai meresahakan masyarakat karena aksi bom bunuh diri dan isu-isu bangkitnya PKI yang selalu mereka dengungkan serta masih banyak lagi. Alternatif hal ini adalah melalui media filmlah (disamping juga mengantikan budaya literasi) proses penyadaran dan pembelajaran itu sedikit demi sedikit dapat dilakukan. Sejarah sebagai sebuah refleksi adalah kunci untuk memahami Indonesia. Dengan digunakannya sejarah sebagai sebuah refleksi akan mengantarkan Indonesia kearah kemajemukan dan terhindar dari berbagai macam persoalan yang menyangkut kebangsaan.

Film-film yang disebutkan di atas seharusnya bisa menjadi bahan atau media dalam proses pembelajaran oleh pendidik yang tidak harus selalu textbook di dalam proses pembelajarannya. Semakin pendidik dapat memanfaatkan media khususnya film dalam proses pembelajaran dirasa akan semakin arif dan semakin menarik pulalah proses pembelajarannya serta akan membuat peserta didik giat dan senang untuk belajar. Proses pembelajaran dengan film juga akan semakin cepat mengasah kecerdasan kognitif pada peserta didik karena peserta didik akan dihadapkan pada realitas dalam film tersebut, mulai dari keadaan sosial dan atmosfer di dalam film tersebut, pisikologi pemeran-pemerannya, sisi kemanusiaan dan watak dari manusia pemeran itu sendiri (antagones ataupun protagones). Menonton film-film positif sebagai media pembelajaran akan juga membangun peserta didik kearah yang lebih baik karena di dalam film-film yang seyogianya cocok dan tersirat makna dan nilai-nilai positif seperti kemanusiaan, kebangsaan, patriotisme, dan pendidikan akan menghasilkan generasi muda yang mampu menilai sesuatu hal dengan arif dan bijaksana. Hal-hal tersebut bisa terjadi dari apa yang peserta didik lihat dan alami. Jika yang dilihat selalu hal-hal yang negatif maka akan dicontohlah hal-hal yang buruk dan akan menghasilkan generasi yang tidak maju, namun jika yang dilihat adalah hal-hal yang positif maka akan dicontohlan hal-hal yang baik dan akan pulalah menghasilkan generasi yang maju dan cerdas.

Masalah-masalah yang selalu muncul dari pendidikan sekarang ini adalah orientasi dari proses pembelajaran. Pendidik yang selalu membebaskan peserta didik untuk berekspresi namun tidak melihat sisi negatifnya dan konsekuensi yang akan dihadapi. Konsep pendidikan melalui nonton film yang berlatar belakang sejarah di rasa adalah alternatif dari pendidikan Indonesia yang sekarang ini banyak membebaskan peserta didik berperilaku semaunya sendiri (seperti pada khasus peserta didik memukuli pendidik, membunuh dosennya dan lain-lain yang sekarang ini banyak terjadi dilingkungan sekolah dewasa ini). Adapun semakin carut-marutnya pendidikan sekarang ini mungkin akan berubah perlahan dengan digantikannya Mendikbud yang baru dengan wacana “Program Full Day School” yang berorientasi pada penanaman nilai dan karakter bangsa (kegiatan ko-kurikuler seperti kesenian dan keterampilan serta mungkin juga tidak lepas dari nonton film-film yang bertemakan pendidikan dan kesejarahaan bangsa) (Ferdinan, 2016). Wacana dari program tersebut telah digagas oleh Mendikbud yang baru Muhadjir Effendy setelah Reshuflle kabinet jilid II pada pekan yang lalu. Digantikannya Anies Baswedan dari kursi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan adalah konsekuensi dari berbagai macam masalah-masalah pada pendidikan di Indonesia yang sekarang ini masih belum bisa teratasi sepenuhnya. Masalah-masalah itu muncul dari terlalu seringnya pergantian kurikulum (ganti Menteri ganti Kurikulum, dari KTSP ke K13 lalu ke Kurikulum Nasional). Seringnya pergantian tersebut tentunya akan berdampak pada proses pembelajaran yang tidak efektif pada peserta didik.

Menurut saya alternatif dari solusi carut-marutnya pendidikan di Indonesia adalah dengan konsep pendidikan melalui nonton film (pada masa penjajahan Militerisme Jepang 1942-1945, film adalah media terpenting dalam proses propaganda untuk mencapai tujuan yang diinginkan dan sekaligus sebagai media penyadaran dalam perkembangan masyarakat di Indonesia). Proses penyadarannya mungkin akan memakan waktu yang sedikit lama dan juga memerlukan peralatan untuk pemutaran serta yang terpenting adalah film tersebut. Namun, hal ini dirasa atau mungkin akan berdampak pada bagaimana peserta didik membandingkan apa yang dilihat di dalam film dan apa yang dilihat di lingkungan sekitar. Apakah itu baik atau buruk akan cepat ditanggapi oleh peserta didik karena sedikit banyak peserta didik belajar dari apa yang mereka lihat.

 

Daftar Pustaka

Ananta Toer, Pramoedya. Jalan Raya Pos, Jalan Deandels. Jakarta Timur: Lentera Dipantara, 2015.

Ferdinan. 2016. Mendikbud: Program Full Day School Tidak Tambah Jam Belajar, http://m.detik.com/news/berita/3271307/mendikbud-program-full-day-school-tidak-tambah-jam-belajar (Diakses pada 25 Agustus 2016 pukul 10:05 WITA)

Hok Gie, Soe. Zaman Peralihan. Depok: GagasMedia, 2005.

Wilson. Orang Dan Partai Nazi Di Indonesia; Kaum Pergerakan Menyambut Fasisme. Depok: Komunitas Bambu, 2008.

 

Sumber: Tulisan ini dilombakan di "Lomba Esai Nasional Frestival Jurnalistik 2016 LPM Solidaritas UIN Sunan Ampel Surabaya" pada 15 Agustus - 25 September 2016.

  • view 376