Jang Oetama: Hadji Omar Said Tjokroaminoto Dalam Perspektif Politik Islam

Rydho Bagus
Karya Rydho Bagus Kategori Sejarah
dipublikasikan 07 November 2016
Jang  Oetama: Hadji Omar Said Tjokroaminoto Dalam Perspektif Politik Islam

Jang  Oetama: Hadji Omar Said Tjokroaminoto Dalam Perspektif Politik Islam

Rydho Bagus Pratama1 Septian Dwita Kharisma2

1,2 Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah IKIP PGRI MADIUN

 

Ringkasan

H.O.S Tjokroaminoto sering diketahui sebagai guru bangsa di antara para pendiri bangsa (Founding Father), lahir pada tanggal 16 Agustus 1882 tepatnya di desa Bakur, Sawahan, Madiun. Tjokro ialah sosok yang sangat egaliter pada sesamanya. Beliau adalah salah satu dari sekian banyak pemimpin muslim pada zamannya turut serta untuk memperjuangkan kepentingan umat muslim yang pada masa itu dibelenggu eksistensi kebebasannya oleh Kolonialisme Belanda. Begitu represifnya hingga mencakup dalam segala aspek kehidupan masyarakat pribumi. Beliau merupakan pemimpin SI (Sarekat Islam). Sarekat Islam ialah sebuah organisasi massa yang lahir pada awal abad ke-XX. Lahirnya SI juga tidak lepas dari campur tangan K.H Samanhoedi. Pada mulanya organisasi ini bernama SDI (Sarekat Dagang Islam) yang hanya berorientasi pada persaingan dagang.

Organisiasi SI dalam kiprahnya berorientasi pada perjuangan rakyat yang tertindas oleh praktek eksploitasi Kolonial dan tentunya berasaskan panji-panji ke-Islaman. Karena dari nama organisasi ini sudah jelas tercantum nama “Islam”. H.O.S Tjokroaminoto menolak segala macam praktek Kolonialisme dan Feodalisme yang pada masa itu selalu menghambat gerak dan laju perkembangan masyarakat. Beliau juga menghilangkan nama feodalnya yang semula bernama Raden Mas Tjokroaminoto menjadi Hadji Omar Said Tjokroaminoto. Dalam kiprah perjuangannya H.O.S Tjokroaminoto juga telah menghasilkan beberapa sosok para pendiri bangsa. Sosok tersebut seperti Soekarno, Semaun, Alimin, Musso, Abikusno, S.M Kartosuwiryo dan lain-lain. Soekarno yang menemukan jati dirinya dalam relungan sosio-nasionalisme, Semaun-Alimin-Musso yang telah meneguhkan hatinya pada perjuangan sosialisme-revolusioner dan perjuangan kerakyaatan dan Abikusno-S.M Kartosuwiryo yang memilih untuk tetap teguh kepada panji-panji ke-Islaman.

Kata Kunci: H.O.S Tjokroaminoto, Sarekat Islam, Politik Islam

***

Perspektif sejarah Indonesia telah mencatat secara implisit dan di dalam memori kolektif bangsa Indonesia bahwa ada banyak sekali pahlawan nasional Indonesia yang telah memperjuangkan tumpah darah kepada negara Indonesia. Perjuangan tersebut ialah dari belenggu eksploitasi Kolonialisme bangsa-bangsa Eropa hingga perjuangan dalam merebut dan mengapai cita-cita kemerdekaan sampai titik darah penghabisan. Menurut laman Kementrian Sosial menjelaskan bahwa daftar dari pahlawan nasional Indonesia adalah 181 orang, dari ke-181 orang tersebut dapat di bagi-bagi lagi menjadi 135 orang pahlawan nasional laki-laki, 12 orang pahlawan nasional perempuan, dan 45 orang pahlawan nasional dari kalangan TNI/Polri (http://www.kemsos.go.id). Namun, dari sekian banyak pahlawan nasional tersebut, hanya sedikit saja yang kiprah perjuangannya diketahui oleh khalayak umum. Hal ini tentu sangat ironis dan disayangkan sekali mengingat jasa-jasa dari para pahlawan nasional tersebut tentulah tidak kecil di segala macam bidang. Bidang-bidang tersebut seperti halnya meliputi perpolitikan, kepemudaan, kesehatan, negarawan, militer, dan lain-lain yang kesemuanya saling berkaitan satu sama lain dalam membangun dan memperjuangkan Indonesia.

Hadji Omar Said Tjokroaminoto adalah salah satu dari sekian banyak pahlawan nasional Indonesia yang kiprah perjuangannya hanya sedikit diketahui. Hal tersebut mungkin terjadi dikarenakan kemunduran beliau di masa-masa awal pergerakan nasional yang menjadi figur sentral seorang pemimpin yang diagungkan layaknya Ratu Adil (gerakan-gerakan yang bercorak Ratu Adil merupakan ancaman potensial bagi setiap kekuasaan rezim kolonial) (Sartono Kartodirjo, 1984: 10). Sebagai “Jang Oetama” di internal organisasi ataupun di eksternal organisasi pada masanya saja dan mulai meredup di masa-masa pergerakan nasional di periode berikutnya. Digantikannya figur H.O.S Tjokroaminoto oleh muridnya yang bernama Ir. Soekarno dalam pentas pertarungan politik dan pergerakan nasional dalam menentang dominasi penjajahan mungkin bisa menjadi faktor pendukung. Berdasarkan SK Presiden Soekarno yang tercantum dalam “Keppres No. 590 tahun 1961, Tanggal 9 November 1961”, H.O.S Tjoroaminoto resmi ditetapkan sebagai pahlawan nasional (http://www.kemsos.go.id). Adanya film “Guru Bangsa Tjokroaminoto” yang rilis pada tahun 2015 yang disutradarai oleh Garin Nugroho dan sosok H.O.S Tjokroaminoto yang diperankan oleh Reza Rahardian, telah membuka kembali ingatan dan lembaran-lembaran masa lalu. Lembaran-lembaran tersebut sempat berdebu di dalam lemari kelampauan di dalam memori sejarah Indonesia. Ataupun terkubur di dalam peti-peti emas kegemilangan di masa lampau.

H.O.S Tjokroaminoto bergelar sang “Raja Jawa Tanpa Mahkota” atau yang khalayak umum sering kali ketahui sebagai guru bangsa di antara para pendiri bangsa (Founding Father). Lahir pada tanggal 16 Agustus 1882 tepatnya di desa Bakur, Sawahan, Madiun yang bertepatan dengan meletusnya gunung Krakatau (Aji Dedi Mulawarman, 2015: 14; Tempo, 2015: 7; Deliar Noer, 1985: 121; Kholid O. Santosa dalam Islam dan Sosialisme, 2010: 8). Ayahnya bernama Raden Mas Tjokroamiseno, seorang wedana di daerah kewedanan Kletjo di daerah Madiun. Belau ialah merupakan cucu dari Kyai Hasan Basari, pengasuh pondok pesantren Tegalsari, Ponorogo yang beristrikan seorang Putri dari Susuhunan ke-II, Kasultanan Surakarta (Solo) (Titik Arum Ahadiyati, 2014: vii).

Seorang tokoh yang memiliki kepribadian egaliter baik kepada sesamanya ataupun kepada orang-orang Belanda. Belau menolak adanya stratifikasi sosial yang berlaku di dalam struktur tatanan masyarakat Jawa. Stratifikasi masyarakat Jawa yang pada waktu itu sering kali berlaku tidak adil dan sewenang-wenang terutama kepada kaum kromo. Beliau adalah salah satu dari sekian banyak para pemimpin muslim yang pikirannya, visinya, dan misinya telah melampaui zamannya. Pelopor bagi gerakan demokrasi dan menjadi generasi pertama pemimpin pergerakan nasional yang terus menentang penjajahan di bumi Nusantara.

Beliau juga turut serta memperjuangkan kepentingan umat muslim yang pada masa itu kerap kali di belenggu eksistensi kebebasannya untuk berpendapat atau pun bergerak menentukan nasipnya sendiri oleh Pemerintah Kolonialisme Belanda. Seperti yang dikatakannya di dalam Seri Buku Tempo; Tjokroaminoto Guru Para Pendiri Bangsa: “Tidaklah pada tempatnya untuk menganggap negeri ini sebagai suatu tempat orang datang dengan maksud mengambil hasilnya. Pada saat ini tidaklah lagi dapat dipertanggungjawabkan bahwa penduduknya, terutama penduduk pribumi, tidak mempunyai hak untuk berpartisipasi di dalam masalah-masalah politik, yang menyangkut nasifnya sendiri”. Kecenderungan dari Pemerintah Kolonial Belanda dalam mengatur regulasi di Hindia Belanda kerap kali lebih mengarah kepada konsep awal model negara fasis. Layaknya seperti negara polis yang sangat represif di dalam mengatur segala bidang dan aspek kehidupan masyarakat pribumi di Hindia Belanda pada masa itu.

Tjokro memiliki padangan bahwa mengenai sosialisme haruslah bersandar kepada pemahaman Islam. Pemahaman tersebut dimanifestasikan pada perjuangan berlandaskan pada pengalaman-pengalaman para sahabat Nabi Muhammad SAW yang diceritakannya di dalam sebuah buku yang berjudul “Islam dan Sosialisme”. Menurut pendapat Tjokroaminoto, paham sosialisme-religius ada tiga pandangan yang telah beliau tuangkan, yaitu: kemerdekaan (vrijheid-liberty), persamaan (gelijkheid-equalty), dan persaudaraan (broederschap-fraternity). Dari ketiga pandangan tersebut dapat diperjelas kembali yaitu sebagai berikut. Pertama Kemerdekaan (vrijheid-liberty): Tiap-tiap orang Islam tidak harus takut kepada siapa atau apa pun juga, melainkan diwajibkan takut kepada Allah saja. Kedua Persamaan (gelijkheid-equalty): Dalam pergaulan hidup bersama di antara mereka tidak ada perbedaan derajat dan tidak ada pula sebab-sebab yang boleh menimbulkan perbedaan kelas. Ketiga Persaudaraan (broederschap-fraternity): Dengan sebenar-benarnya persaudaraan di dalam Islam adalah sesempurna-sempurnanya persaudaraan, rasa cinta di antara mereka seperti rasa cinta di antara saudara yang sebenar-benarnya baik di dunia maupun persaudaraan di akhirat nanti (HOS. Tjokroaminoto, 2010: 46-53). Tentang persaudaraan dan cita-cita bersama juga dapat dipakai sebagai dasar kebatinan sosialistis (S.J. Rutgers, 2012: 17). Dari ketiga pandangan tersebut H.O.S Tjokroaminoto telah meletakan pondasi dasar dari konsepsi ataupun kerangka Sosialisme-Religius (lebih dikhususkan pada Sosialisme di dalam Islam), sebuah sosialisme yang berlandaskan nilai-nilai ke-Islaman secara paripurna di dalam Ideologi dan pergerakannya.

H.O.S Tjokroaminoto menginginkan bahwa basis gerakan perlawanan dan pembelaan terhadap yang ditindas, dihegemoni, dipenjara, atau bahkan dipinggirkan harus tetap bersandar di dalam kerangka pemahaman religiusitas ke-Islaman. Sejatinya bahwa asas-asas Islam adalah asas-asas yang akan mengantarkan menuju ke arah demokrasi dan sosialis (Sosialisme yang berlandaskan Islam) (Adi Dedi Mulawarman, 2010: 164; Wildan Rusli, 2013: 54). Di dalam gerakannya H.O.S Tjokroaminoto menggunakan prinsip-prinsip Sosialisme Islam sebagai referensi perjuangan rakyat karena pada saat itu terjadi kesenjangaan secara ekonomi maupun sosial di kalangan masyarakat pribumi. Hal ini dikarenakan H.O.S Tjokroaminoto tidak ingin mengsekulerkan gerakannya ke arah pemahaman Sosialisme Barat yang notabene tidak mengakui adanya Tuhan (berkecenderungan pada Ateisme). Paham tersebut mengutamakan cara berfikir Rasionalisme, Intelektualisme dan Matrealisme, yang pada waktu itu mulai berkembang secara massif di Hindia Belanda. Menurut pandangan Tjokro, Sosialisme Karl Marx hanya berlandaskan pada pemahaman akan kebendaan semata (Materialisme) dan menolak segala macam hal yang berbau religiusitas (Adi Dedi Mulawarman, 2010: 164). “Bagi kita, tidak ada Sosialisme atau rupa-rupa isme lainnya, yang lebih baik, lebih elok dan lebih mulia, melainkan Sosialisme yang berdasar Islam itulah saja” tulis Tjokro (Tempo, 2015: 29). Maka dari itu harus diperlukan penyeimbang dalam melawan pemahaman sekuler dan memberikan penjelasan kepada masyarakat pribumi bahwa di dalam agama Islam sendiri tentunya terdapat Sosialisme. Agama dalam pandangan H.O.S Tjokroaminoto ialah penopang utama dari gerakan, ideologi, dan bahkan organisasinya. Agama pula yang menjadi landasan Nasionalisme dan Sosialisme yang dia miliki. Kedua paham tersebut telah menyatu di dalam dirinya dan untuk menggerakan setiap orang disekitarnya untuk mewujudkan rasa cinta terhadap tanah air. Dengan dibentuknya rasa cinta tanah air, tentunya akan membentuk pula ketahanan dalam menghadapi bangsa-bangsa asing yang menjajah bumi ibu pertiwi.

H.O.S Tjokroaminoto adalah pemimpin dari organisasi yang bernama SI (Sarekat Islam). Sarekat Islam adalah sebuah organisasi massa yang lahir pada awal dekade abad ke-XX. Sebuah organisasi massa kerakyatan yang sempat membuat ketakutan di kalangan birokrasi pemerintah kolonial maupun orang-orang Belanda/Eropa/Indo yang berdomisili di teritorial Hindia Belanda. Oleh karena massanya yang sebegitu besar sehingga pergerakannya tentulah sangat dinamis pula dalam menentang dominasi eksistensi Kolonialisme Belanda yang begitu represif. Latar belakang dari lahirnya SI/Sarekat Islam tentunya tidak lepas dari kondisi sosial masyarakat baik dalam negeri (nasional) ataupun luar negeri (internasional) yang mempengaruhinya. Kondisi-kondisi sosial tersebut seperti halnya ialah, mulai muncul dan berkembang kesadaran bahwa pentingnya pendidikan pada kaum pribumi yang di timbulkan oleh kebijakan politik etis dari pemerintah Kolonial Belanda dan keberhasilan Revolusi China tahun 1911. Kebangkitan tersebut dimanifestasikan dalam hal kesadaran bawasanya bangsa-bangsa Timur tidak kalah hebatnya dalam berkembang menjadi bangsa yang lebih maju dari bangsa-bangsa Barat. Serta untuk membentuk sebuah organisasi yang basisnya dipegang oleh massa pribumi dan dalam hal ini ialah “massa muslim pribumi” di dalam organisasi Sarekat Islam.

Awal pembentukan dari organisasi Sarekat Islam tentunya tidak lepas dari dua orang sosok pelopor. Raden Mas TirtoAdhi Soerjo (beliau ialah soerang lulusan O.S.V.I.A, seorang pedangang dan seorang wartawan ternama yang lebih dikenal dengan sebutan “Bapak Pers Indonesia”). Beliau merupakan orang yang pertama kali merumuskan AD (anggaran dasar) dari organisasi ini. Kyai Hadji Samanhoedi (seorang saudagar dan pedangang batik di Laweyan, Surakarta) yang menjadi ketua umum pertama. Namun, dalam perkembangannya Samanhoedi kerap kali lemah dalam hal mengorganisir dan memenejemen organisasi ini sehingga perlu untuk mencari sosok orang yang tepat dan nantinya akan memimpin serta menjalankan roda organisasi. Pada bulan Mei tahun 1912 bertemulah Samanhoedi dengan Tjokro. Dalam pertemuan tersebut mereka mulai membincangkan mengenai persoalan organisasi dan momen inilah yang nantinya akan menjadi penentu awal dari perubahan organisasi yang semula menggunakan kata “dagang” menjadi tidak (Tempo, 2015: 7).

Organisasi SI pada mulanya bernama SDI/Sarekat Dagang Islam yang lahir pada 19 November 1911 yang hanya berorientasi pada persaingan dagang dengan orang-orang China. Dalam hal ini Hadji Samanhoedi di dorong untuk mendirikan SDI sebagai suatu koperasi dangang batik anti China (M.C. Ricklefs, 1993: 252). Persaingan tersebut berpusat antara para pedagang batik di Laweyan (Surakarta) melawan Kong Sing dagang (suatu perkumpulan para pedagang China ataupun keturunan) yang sempat menguasai dominasi perdagangan pasar (Tempo, 2015: 21). Ide dari pembentukan SDI ialah karena tekanan-tekanan, dan permainan dari para pedangang China yang di masa pemerintahan Kolonial Belanda mendapat kedudukan menengah serta untuk menghadapi saingan orang-orang China. Sehingga hal tersebut memudahkan para pedangang Cina untuk menguasai pasar. Kompetisi yang meningkat secara sengit dalam bidang perdagangan batik terutama dengan golongan China adalah faktor utama dari dibentuknya organisasi ini (Deliar Noer, 1985: 115). Seiring berjalannya waktu, orientasi pergerakan tentunya tidak hanya bisa selamanya bersandar pada persaingan dagang semata, namun juga harus memikirkan aspek-aspek sosial-kemasyarakatan dan sosial-politik yang menuntut itu semua. Ketika SDI mengalami transformasi ke arah yang lebih radikal yaitu menjadi SI. Dalam kongres pertama 26 Januari 1913 yang diadakan di Surabaya, dipimpin langsung oleh Tjokro dan dihadiri oleh beribu-ribu peserta (S.J. Rutgers, 2012: 4). Mulai ada pergeseran orientasi perjuangan bahkan dalam perkembagannya SI telah memiliki keanggotaan yang hampir meliputi seluruh batas-batas wilayah di Nusantara.

Perjuangan tersebut dalam kiprahnya mulai berorientasi pada penjuangan kerakyatan yang tertindas oleh praktek eksploitasi Kolonial dan tentunya berasaskan panji-panji ke-Islaman. Untuk mencapai tujuan-tujuan itu Sarekat Islam dipimpin oleh dasar-dasar agama Islam (S.J. Rutgers, 2016: 20). Karena dari nama organisasi ini sudah jelas tercantum nama “Islam”. Tjokro mulai melihat bawasannya mayoritas masyarakat pribumi di Hindia Belanda (sekarang Indonesia) pada waktu itu memeluk agama Islam. Sehingga sangat potensial sekali untuk di himpun dalam satu misi, tujuan dan cita-cita dalam mencapai kemerdekaan. Di dalam suatu wadah organisasi untuk berjuangan bersama melawan segala macam praktek Kolonialisme, Imprialisme, dan Feodalisme. Serta melawan segala macam eksploitasi manusia atas manusia (exploitation de I’homme par I’homme) serta dari bangsa atas bangsa (exploitation de nation par nation).

Ia kerap kali dikenal dengan sikap yang cenderung vokal, lantang, kritis dan radikal dalam menentang segala macam praktek Kolonialisme Belanda. Menentang kebiasaan-kebiasaan yang mempermalukan derajat dan harga diri bagi pribumi. Kebiasaan tersebut seperti sembah jongkok kepada para petinggi kolonial ataupun kepada bangsawan priyai. Terlebih lagi ketika beliau mengetahui adanya kebijakan yang berat sebelah dan hanya menguntungkan beberapa pihak saja, dalam hal ini ialah kaum penjajah beliau dengan keras menentangnya. Hal tersebut dimanifestasikannya pada pidato-pidato di setiap pertemuan. Pidatonya laksana bariton yang mengetarkan individu-individu yang mendengar dan melihatnya. Tjokro juga menolak aneka prilaku Feodalisme yang pada masa itu sering kali menghambat gerak dan laju perkembangan masyarakat ke arah yang lebih dinamis. Ia juga menuntut kesetaraan untuk “sama rata sama rasa” kepada pemerintah Kolonial yang cenderung tendensius pada kelas tertentu saja. Kalangan tersebut ialah aristokrat, borjuis dan priayi dan demikian juga menapikkan masyarakat kelas bawah (kaum kromo) yang notabene sering kali diekspoitasi sebagai sapi perahan. Sering kali dijuluki sebagai seperempat manusia seperti pada pidatonya di Bandung tahun 1916: “Tidaklah wajar untuk melihat Indonesia sebagai sapi perahan yang diberi makan hanya disebabkan oleh susunya” (A.P.R Korver, 1985: 59; Tempo, 2015: 3). Beliau juga telah meninggalkan kemapanan keluarga bangsawan, ia meretes jalan kesetaraan, atribut feodalnya pun telah dilepas dan di dalam hal nama pun digantinya yang semula Raden Mas Tjokroaminoto menjadi Hadji Omar Said Tjokroaminoto. Hal ini telah menjadi bukti bahwa Tjokro telah meninggalkan atribut feodalnya ke arah kesetaraan. Figur dari Tjokro amatlah sangat penting karena dialah yang menciptakan standar bagaimana seharusnya seorang pemimpin pergerakan (Takashi Shiraishi dalam Seri Buku Tempo; Tjokroaminoto Guru Para Pendiri Bangsa, 2015: 140). Ia juga kerap kali mengatakan bawasannya kita semua sederajat tanpa membedakan apa pun dan dengan siapa pun. Kelak sikapnya itu membuatnya dijuluki sebagai “Gatotkoco Sarekat Islam” (Tempo, 2015: 1-7). Di dalam sajaknya yang berjudul Doenia Bergerak yang ditulisnya pada tahun 1914 H.O.S Tjokroaminoto dengan keras menyuarakan kesetaraan tanpa membeda-bedakan stratifikasi sosial yang berlaku di dalam masyarakat Jawa di tanah Hindia Belanda. Sajaknya seperti tertulis di bawah ini:

Lelap terus, dan kau pun dipuji sebagai bangsa terlembut di dunia. Darahmu dihisap dan dagingmu dilahap sehingga hanya kulit tersisa. Siapa pula tak memuji sapi dan kerbau? Orang dapat menyuruhnya kerja, dan memakan dagingnya. Tetapi kalau mereka tahu hak-haknya, orang pun akan menamakannya pongah, karena tidak mau ditindas. Bahasamu terpuji halus di seluruh dunia, dan sopan pula. Sebabnya kau menegur bangsa lain dalam bahasa kromo dan orang lain menegurmu dalam bahasa ngoko. Kalau kau balikan, kau pun dianggap kurang ajar.

(Sajak Doenia Bergerak tahun 1914 dalam A.P.R Korver, 1985: 51; Seri buku Tempo Tjokroaminoto Guru Para Pendiri Bangsa, 2015: 2).

Kiprah perjuangannya H.O.S Tjokroaminoto tidaklah kecil dalam gelanggang sosial ataupun politik. Tjokro juga telah menghasilkan beberapa sosok-sosok yang nantinya akan menjadi pendiri bangsa mulai dari Soekarno, Semaun, Alimin, Musso, Abikusno, Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo dan lain-lain. Tokoh-tokoh tersebut telah merasakan dan mendapatkan bagaimana sistem pendidikan yang telah di ajarkan oleh Tjokroaminoto di dalam rumahnya di gang Peneleh VII yang menjadi dapur bagi berbagai macam ideologi yang berkembang di dalam diri setiap murid-muridnya. Sistem pendidikan tersebut seperti halnya: (1) menanamkan benih kemerdekaan dan benih demokrasi; (2) menanamkan benih keberanian yang luhur, benih keiklasan hati, kesetiaan dan kecintaan kepada yang benar; (3) menanamkan peri kebatinan yang halus, benih keutamaan budi, dan kebaikan perangai; (4) menanamkan benih kehidupan yang sederhana (Wildan Rusli, 2013: 54). Dari tokoh-tokoh yang pernah berguru kepada Tjokro, mereka semua telah memilih jalan perjuanganya masing-masing hingga akhir hidup mereka. Soekarno yang menemukan jati dirinya dalam relungan sosio-nasionalisme (Marhenisme). Semaun-Alimin-Musso yang telah meneguhkan cita-cita dan hatinya kepada perjuangan sosialisme-revolusioner dan perjuangan kerakyaatan sedunia. Abikusno-Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo yang memilih untuk tetap teguh kepada panji-panji ke-Islaman.

Sejarah perjuangan dan kiprahnya di masa-masa awal pergerakan nasional dan pada dekade awal abad ke-XX amatlah besar dalam memotivasi sosok-sosok yang kelak akan menjadi pengerak dan meneruskan perjuangannya. Bahkan salah satu dari murid H.O.S Tjokroaminoto nantinya akan menjadi pemimpin negeri ini. Perjuangan beliau tiada pernah terlupakan walau zaman telah berganti-ganti rupa. Dari Hindia Belanda ke Indonesia, dari Orde Lama ke Orde Baru, dan dari Orde Baru ke Orde yang sekarang ini yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia yaitu Orde Reformasi.

Maka refleksi dari perjuangan beliau amatlah relevan di masa dimana kita sebagai sebuah bangsa sering kali lupa dengan sejarahnya. Refleksi tersebut tertuang pada kata-kata beliau dalam film “Guru Bangsa Tjokroaminoto” menit ke-1:09:56: “Setinggi-tinggi ilmu, sepintar-pintar siasat, dan semurni-murni tauhit”. Serta pada menit 1:15:08 akhir di film tersebut yaitu: “Masihkah aku dikiblatmu? Ketika engkau bawa aku dari penjara satu ke penjara lain, ataukah penjara adalah hijrahku memahami manusia dan kemerdekaannya”. Hadji Oemar Said Tjokroaminoto hingga akhir hayatnya (ia meninggal pada tahun 1934), terus mencari apa sebenarnya makna dari “hidjrah” (Amelz dalam Gerakan Modern Islam Di Indonesia 1900-1945, 1985: 121). Hidjrah sesungguhnya yang mengantarkan kepada perjuangan menuju kebebasan dan kemerdekaan.

 

Daftar Pustaka

Arum Ahadiyati, Titik. 2014. Penerapan Sikap Politik Non Kooperatif H.O.S Cokroaminoto Di Dalam Sarekat Islam (1912-1934 M). Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN Sunan Kalijaga. http://digilib.uin-suka.ac.id/14655/ (Di unduh pada tanggal 29 Oktober 2016 pukul 15:39 WIB).

Dedi Mulawarman, Aji. Jang Oetama; Jejak dan Perjuangan H.O.S. Tjokroaminoto. Yogyakarta: Galang Pustaka, 2015.

Kartodirjo, Sartono. Ratu Adil. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan, 1984.

Korver, A.P.R. Sarekat Islam; Gerakan Ratu Adil ?. Jakarta: Grafitipers, 1985.

Noer, Deliar. Gerakan Modern Islam Di Indonesia 1900-1945. Jakarta: LP3ES, 1985.

Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1993.

Rusli, Wildan. Nopember 2013. “Sistem Pendidikan Islam Menurut H.O.S Cokroaminoto (Konsep Muslim Nasional Onderwijs, Historis, dan Globalisasi)”. Journal Kependidikan, 1 (1): 54.  http://ejournal.iainpurwokerto.ac.id (Di unduh pada tanggal 30 Oktober 2016 pukul 09:53 WIB).

Rutgers, S.J. Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Yogyakarta: Ombak, 2012.

Tempo. Seri Buku Tempo; Tjokroaminoto Guru Para Pendiri Bangsa. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2015.

Tjokroaminoto, HOS. Islam dan Sosialisme. Bandung: SEGA ARSY, 2010.

http://www.kemsos.go.id/modules.php?name=Pahlawan&opsi=mulai-1 (Di akses pada tanggal 26 Oktober 2016 pukul 15:16 WIB).

 

Sumber: Tulisan ini dilombakan di "Kompetisi Esai FISIP DAYS 2016 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta" pada 27 September - 5 November 2016.

 

Dilihat 258