Melawat Ke Tanah Madura

Rydho Bagus
Karya Rydho Bagus Kategori Wisata
dipublikasikan 07 November 2016
Melawat Ke Tanah Madura

Melawat Ke Tanah Madura

Rydho Bagus Pratama1

1Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah IKIP PGRI MADIUN

 

Bumi Madura.

Bumi kebudayaan Islam di timur pulau Jawa.

Dari bumi kelahiran“Balangan” kembali ke bumi di mana saya menimba ilmu selama 2 tahun terakhir ini “Madiun” setelah libur semesteran yang singkat adalah hal yang membuat saya menjadi sedih karena hari libur telah selesai dan aktifitas perkuliahan berjalan seperti biasanya.

Dari bandara Juanda, ke Terminal Bungurasih dengan bus “SumberKencono” menuju Madiun. Melaju dengan kecepatan kira-kira 100 m/jam. Menembus berbagai macam kota-kota hingga sampai ke Madiun. Kira-kira sudah 4 jam, duduk termenung di belakang kernet bus yang dengan lincahnya mengemudi laksana pembalap profesional.

Seorang yang sudah mahir.

***

Ada rencana untuk menengokpeninggalan Islam di Madura yang sama rupanya dengan yang ada di Banjar. Masjid-masjid megah menjulang di sepanjang ruas jalan, beberapa meter di samping kiri dan kanan di bumi Madura.

Rencana melawat ke Madura akan dilakukan pada pekan ini. Bersama kawan-kawan dari prodi sejarah. Menelusuri setiap sudut bukti fisik peninggalan Islam. Makam, Masjid dan Keraton adalah budaya dan peninggalannya.

Tanggal 22-23 adalah hari keberangkatan.

Saya senang karena aktifitas perkuliahan di isi dengan acara lawatan sejarah. Kata mas Andri “ini sudah setiap tahun diadakan. Sekarang adalah waktunya”.

Menaiki bus di pagi yang dingin. Melaju di dalam kegelapan hari sekitar pukul 01:10 WIB. Suasana sepi dan sunyi masih menyelimuti kota Madiun di kala kami berangkat. Warung-warung dan toko-toko tiada yang buka. Hanya Indomaret yang saya lihatmelalui kaca bus masih terang benerang.

Suasana kantuk menyelimuti saya. Kawan di samping sudah tertidur, lima menit yang lalu dengan ekspresi mulut terbuka. Si Danang namanya. Saya tak kuasa melihat rasa nyamannya ketika tidur, akhirnya mata saya terpejam juga.

Beberapa jam lamanya tertidur di dalam bus. Saya terbangun oleh seorang kawan katanya “ayoo bangun, kita sholat subuh dahulu dan setelah itu berziarah ke makam Gus Dur”.

Sudah berada di Jombang “TebuIreng” rupanya.

Saya terbangun dan keluar dari bus.

Menelusuri jalan setapak. Dengan irama kodok yang sedang bernyanyi di kiri dan di kanan jalan setapak. Sesampainya di depan makam Gus Dur. Pagar terkunci rapat dengan gembok raksasanya tergantung di tiang pagar.

Diputuskan untuk sholat subuh dahulu.

Sholat subuh selesai. Kembali lagi kedepan makam Gus Dur dan ternyata gembok raksasa yang bergelantungan di tiang pagar tak kunjung pindah posisi juga. Dengan nada menyesal kata tourget “makamnya tutup. Sepertinya kita kepagian”.

Tiada hasil apa-apa. Sedih rasanya. Dan nasib kurang beruntung, ungkap seorang kawan.

Perjalanan dilanjutkan.

Beberapa jam kemudian. Bus berhenti di rumah makan. Di dalam ternyata soto sudah menyambut kami. Perut saya tidak kuasa untuk menahan aroma soto yang mengoda-goda untuk di santap. Teh panas adalah minuman yang cocok di hari yang dingin ini.

Sarapan pagi pun selesai. Masuk bus. Perjalanan dilanjutkan lagi.

Kali ini yang akan di tuju adalah makam Sunan Ampel di Surabaya.

Sunan Ampel adalah salah satu dari wali sangha yang umumnya semua orang-orang Jawa kenal sebagai penyebar agama Islam di bumi Jawa. Kepercayaan mistik akan Sunan rupanya masih bertahan hingga saat ini.

Menunggu. Bus malaju dengan cepatnya. Saya tertidur sejenak. Rupanya mata saya masih belum puas untuk dipenjamkan sekali lagi.

Saya terbangun karena ulah usil dari seorang kawan. Rupanya muka saya di potret ketika tidur. Di samping kanan ternyata sudah memasuki kota Surabaya. Dengan tanda “Selamat Datang di Kota Surabaya”.

Kota ini pada tanggal 10 November 1945 pernah menjadi medan pertempuran hebat antara TNI, laskar (Hisbullah dan Sabilillah. Barisan yang dipimpin oleh ulama-ulama terkemuka) dan organisasi-organisasi kepemudaan yang berhubungan dengan Islam melawan NICA (Nederland Indisch Civil Administation) “Inggris dan Belanda”. Pertempuran terjadi dengan sengitnya. Siang dan Malam. Dan akhirnya dimenangkan oleh bangsa Indonesia. Kompromi pun akhirnya terjadi antara unsur-unsur yang saling bertikai ini. Bung Karno yang memimpin kompromi. Tanggal pertempuran itu sekarang ditetapkan sebagai Hari Pahlawan Nasional 10 November dan di peringati setiap tahunnya.

Setengah jam kemudian bus berhenti di salah satu terminal. Kami keluar. Menelusuri rumah-rumah kumuh di pinggiran kota Surabaya untuk menuju makam Sunan Ampel.

Tempat ini dahulu namanya Ampel Denta. Nama Sunan Ampel di ambil dari nama tempat. Nama aslinya “Maulana Malik Ibrahim”. Ada berbagai macam versi tentang Sunan Ampel. Ada yang mengatakan keturunan Arab, namun juga ada yang mengatakan keturunan Cina.Saya tidak tau pasti mana yang benar.

Beselang beberapa menit kemudian saya dan kawan-kawan sampai di samping sebuah masjid yang kata seorang kawan “masjid ini di bangun sudah sejak Sunan Ampel ada. Tiang-tiang masjidnya berjumlah 99. Sama dengan jumlah Asmaul Husna”.

Saya cukup tertarik. Tapi tak ada waktu untuk masuk kedalam.

Rombongan bergegas memasuki komplek makam.

Suasananya cukup ramai dan sejuk. Ada banyak orang yang ingin masuk. Kata Septian “mereka yang datang bukan dari Jawa saja. Tapi juga dari penjuru negeri”.

Di dalam makam ternyata dilarang foto-foto, tegur seorang penjaga makam.

Kami semua bergegas masuk lebih kedalam. Bersama dengan orang-orang, kami duduk di sebuah pendopo. Memanjatkan doa dan membaca surat-surat yang ada di dalam Al Qur’an.

Suasanan di dalam makam memang benar-benar nyaman dan menenangkan hati. Di samping juga udaranya yang sangat sejuk. Kontras dengan keadaan kota.

Setelah selesai berdoa. Kami bergegas kembali ke bus.Sesampainya di dalam bus. Perjalanan akan dilanjutkan. Kali ini kita akan ke Madura. Tepatnya ke Bangkalan dahulu. Disana kita akan sholat Jum’at di Masjid Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, ziarah kemakamnya dan sekaligus bertanya kepada penjaga masjid mengenai sejarahnya, ujar tourget.

Bus melaju kencang melewati kota ini. Di samping kanan saya terlihat potret kemiskinan di kota Surabaya. Bau busuk sungai-sungai kecil di penggir jalan tercium hingga kedalam bus. Suasana sumpek dan macet yang bisa membuat orang menjadi stres. Ini kontras dengan keadaan di Banjar dan Balangan. Banjar yang sungainya dipergunakan setiap hari untuk aktifitas sosial tidak pernah mengeluarkan bau seperti itu. Dan Balangan si kota sepi, selalu nyaman untuk saya.

Melewati jembatan terpanjang “Jembatan Suramadu”. Baru pertama kali saya melihatnya. Jembatan ini membentang luas dari Surabaya ke Madura dengan panjang 5.438 m. Saya nikmati ini dengan merekam perjalanan melewati jembatan hingga sampai di Madura dengan handphone.

Sesampainya di pulau Madura. Perjalanan di teruskan hingga Bangkalan.

Siang hari. Panas-panasnya hari dan perut saya mulai berbisik pertanda lapar. Kami sampai di Bangkalan. Tepatnya di samping Masjid Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan. Saya bergegas turun dari bus dan menuju masuk ke dalam masjid. Di dalam ternyata sudah di tunggu oleh penjaga masjid. Beliau menceritakan sejarah dari masjid ini dan juga sejarah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan.

Tidak ada dialog. Hanya ceramah yang diberikan.

Lima belas menit kemudian selesai. Suara azan pertanda akan di mulainya sholat Jum’at. Kami bubar.

Saya kagum dengan arsitektur masjid ini. Arsitekturnya begitu megah sekali ya mas, ujar pak Irul. Saya tidak bisa mengira-gira arsitektur masjid ini megikuti gaya apa. Mungkin Turki dengan sedikit gaya Melayu khas Asia Tenggara.

Sholat selesai. Kawan-kawan bergegas masuk ke bus dan perjalanan akan di lanjutkan ke Batu Ampar di Kabupaten Sumenep.

Dua jam lamanya di dalam bus membuat penggang saya menjadi sakit.

Sesampainya kami di tempat parkir bus. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju ke komplek pemakaman Batu Ampar. Ada banyak sekali orang-orang yang meminta sedekah. Mulai dari anak kecil hingga orang dewasa. Keadaan seperti ini terkadang membuat saya perihatin.

Tidak ada yang menarik disini. Tidak ada pula yang bisa menjelaskan tentang riwayat makam-makam ini. Disini hanya ada orang-orang yang memanjatkan doa. Kepada siapa mereka memanjatkan doa, saya tidak tau.

Setelah selesai melihat-lihat. Kami akhirnya kembali ke bus. Perjalanan dilanjutkan lagi. Tujuan kali ini adalah Asta Tinggi, ujar tourget.

Kata Septian Asta Tinggi “itu tempat makam raja-raja Madura Barat (Cakraningrat I-XI). Tepatnya masih di daerah Sumenep”.

Tiga jam lamanya dari Batu Ampar menuju ke Asta Tinggi. Melewati jalan-jalan yang sempit dan berkelok-kelok membuat bus tidak leluarsa untuk melintas. Dikiri dan kanan hanya ada hamparan sabana. Rumah-rumah warga hanya nampak satu dua di kiri dan kanan. Cukup membosankan.

Di dalam bus. Mas Boy, Mas Kabul dan Mas Wahyuana mulai beraksi dengan canda guraunya yang membuat suasana menjadi tidak membosankan. Mereka bertiga rupanya punya bakat ngelawak.

Saya tertawa mengikuti kawan-kawan yang lain.

Memasuki sebuah kota. Saya lupa namanya. Bus melaju terus melewati kota. Setengah jam kemudian jalanan menanjak dan akhirnya sampai di depan gerbang Asta Tinggi. Suasana sepi dan sunyi yang terlihat. Kata seorang kawan “sepertinya anggker. Dingin dan merinding rasanya”. Suasana seperti ini cukup umum bila memasuki komplek pemakaman.

Bus berhenti. Kami bergegas turun. Matahari mulai tengelam. Dari kejauhan terlihat gemerlap kota Surabaya. Warna-warni yang indah.

Saya dan rombongan mulai memasuki komplek pemakaman. Terdengar azan magrib. Kami tetap berjalan hingga masuk kedalam. Di kiri dan kanan hanya ada nisan-nisan. Rombongan terhenti ketika sampai di salah sebuah bangunan yang menyerupai rumah. Isinya kata Septian “itu kira-kira makamnya raja-raja. Tidak jelas terlihat nama-nama di nisan-nisan tersebut. Tapi yang pasti itu makam raja atau pangeran mungkin”.

Kami kembali.

Setelah berada di depan gerbang Asta Tinggi ternyata ada yang unik di samping kiri dan kanan gerbang. Ada aksara Jawa Kuno dan Arab. Saya tidak mengerti arti dari aksara-aksara itu. Mungkin isinya tentang riwayat Asta Tinggi. Kira-kira mungkin.

Setengah jam berputar-putar komplek makam. Kami keluar.

Masuk bus. Perjalanan dilanjutkan ke hotel. Masih di kota Sumenep, ujar tourget.

Bus mulai melaju. Jalanan mulai menurun. Keadaan lapar dan kantuk mulai menyelimuti seisi bus. Di luar bus keadaan sudah gelap gulita.

Pukul sudah menunjukan 19:50 WIB. Kami masih tetap di dalam bus. Dua puluh menit kemudian akhirnya sampailah kami di depan hotel yang telah siap menanti kami sebagai turis. Kamar sudah dipersiapkan. Bergegas memasuki kamar. Di dalam ada dua kasur. Di isi oleh empat orang kawan. Saya tertidur tanpa menghiraukan kawan-kawan yang lain. Mereka berencana untuk berjalan-jalan ke alun-alun kota Sumenep. Terpejam dan tertidur dengan badan yang sudah lelah.

***

Hari ini, hari kedua tanggal 23. Terbangun di pagi yang dingin. Bergegas mandi dan sarapan pagi sudah menanti. Sarapan pagi ini tetap soto. Teh hangat mengawali minuman kami di pagi ini. Sama seperti kemarin.

Sarapan pagi selesai.

Saya dan kawan-kawan yang lain besiap-siap masuk bus. Perjalanan kali ini akan melawat ke Keraton Sumenep dan Asta Yusuf, ujar tourget.

Lima belas menit perjalanan.

Kami sampai. Saya bergegas turun dan dengan kawan-kawan yang lain memasuki ruang museum terlebih dahulu. Isinya peninggalan-peninggalan fisik keraton. Ada foto-foto bupati yang pernah menjabat di Kabupaten Sumenep. Setelah melihat-lihat seisi museum kami di giring memasuki ke komplek Keraton. Arsitekturnya tidak jauh berbeda dengan yang ada di Kartasura dan Yogyakarta. Lambang kuda putih bersayap nampak jelas pada gerbang masuk. Pada gerbangnya nampak gaya arsitektur Cina, seperti gerbang di kerajaan dinasti Manchu di Cina. “Pikir saya”.

Keraton Sumenep. Sebuah keraton dengan arsitektur Jawa yang khas hingga kini masih berdiri tegak. Lambang kuda putih bersayap menjadi simbolnya. Dahulu digunakan sebagai singgasana raja-raja Madura Barat, namun sekarang di alih fungsikan menjadi museum. Sebuah warisan feodalisme Islam nusantara pasca Hindu-Buddha.

Dua puluh menit lamanya kami berkeliling komplek keraton dengan puasnya. Bergegas kembali ke dalam bus. Perjalanan terakhir dilanjutkan ke Asta Yusuf, ujar tourget.

Perjalanan kali ini cukup jauh. Sekitar dua jam perjananan kira-kira. Melewati pohon-pohon aren, bibir pulau dan beberapa bangunan bukti fisik peninggalan kolonial. Jalan yang dilewati tetap sempit. Bus tidak bisa melaju dengan kencangnya.

Kami akhirnya sampai di sebuah dermaga pelabuhan. Bergegas keluar dari bus. Menaiki perahu nelayan khas Madura yang sudah dipersiapkan. Suasana menyenangkan menyelimuti seisi kapal. Saya pun juga merasa demikian.

Berselang beberapa menit kemudian kami pun sampai. Keluar dari kapal. Berjalan melewati kampung di pinggir pantai. Dan menelusuri jalan setapak menuju tujuan akhir “Asta Yusuf”.Suasananya tidak jauh berbeda dengan di Batu Ampar. Ada anak kecil dan orang dewasa meminta sedekah. Jumlahnya lebih banyak dari yang di Batu Ampar, namun di sini lebih di dominasi oleh anak kecil. Kata seorang kawan “kecil-kecil sudah diajari minta-minta”.

Di dalam komplek makam keadaannya tetap sama dengan di Batu Ampar. Ada orang-orang yang memanjatkan doa. Mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu dan anak-anak kecil. Di sini tidak ada pula yang bisa menjelaskan riwayat makam tersebut. Kawan-kawan yang lain pun tidak satupun yang mengetahui riwayatnya.

Hari mulai siang. Panas khas pesisir mulai menyengat kulit. Kami putuskan untuk kembali. Menaiki perahu nelayan. Sesampainya di dermaga pelabuhan, saya tergiur oleh seorang kawan yang mengajak-ngajak saya untuk melihat-lihat tukang jual celurit. Kami melakukan proses tawar menawar dan akhirnya disepakati dengan harga yang bisa lebih murah dari harga awal.

Setelah selesai. Saya dan seorang kawan bergegas menuju bus. Bus melaju dengan kencangnya. Kami pun akhirnya pulang kembali ke Madiun. Oleh-oleh kali ini adalah pengalaman dan sebuah celurit khas bumi Madura sebagai cindera mata.

 

Sumber: Tulisan ini dilombakan di "Lomba Menulis Cerita Perjalanan UKM Penulis Universitas Negeri Malang" pada 25 Agustus - 25 September 2016 .

  • view 181