KurinduITD-Menjadi Indonesia Tanpa Stigmanisasi

Rydho Bagus
Karya Rydho Bagus Kategori Agama
dipublikasikan 07 November 2016
KurinduITD-Menjadi Indonesia Tanpa Stigmanisasi

Menjadi Indonesia Tanpa Stigmanisasi

Rydho Bagus Pratama1

1Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah IKIP PGRI MADIUN

Ringkasan

Agama adalah media terpenting dalam proses penyaluran perasaan manusia terhadap Tuhan. Di dalam agama, manusia diajarkan untuk memahami dan membawa manfaat serta saling membawa cinta kasih kepada sesamanya meskipun berlainan agama. Fitrah manusia ialah untuk bermanfaat bagi manusia lain. Namun, itu semua tidak akan pernah tercapai bilamana manusia kerapkali berkonflik dengan sesama umat beragama. Di Indonesia ada banyak sekali konflik sosial berbasis agama di lingkungan masyarakat yang pernah terjadi di pelosok negeri ini. Salah satu contoh konflik tersebut ialah di Desa Oi Bura, Dusun Tambora, Bima, Nusa Tenggara Barat. Kaum mayoritas yang mewakili kelompok Muslim dengan kaum minoritas yang mewaliki kelompok Kristen dan Hindu di Dusun Tambora kerap kali berkonflik. Hal tersebut dipicu oleh rasa takut untuk berinteraksi masyarakat pribumi dengan masyarakat pendatang, menutup diri terhadap masyarakat yang notabene berlainan agama (intoleransi), dan mudahnya masyarakat termakan oleh isu-isu provokatif yang mengarah pada SARA adalah hal yang sangat krusial.

Adalah hal penting bagi pemuda seyogianya dalam membangun gerakan inklusi sosial yang diimplementasikan melalui berbagai macam hal kepada masyarakat di lingkungan sekitar. Pendidikan juga adalah media penting dalam hal ini. Rendahnya kualitas pendidikan pada masyarakat tentunya akan memunculkan konflik tersebut dikarenakan tidak bisanya masyarakat memahami permasalahan tersebut, secara arif dan bijaksana. Pemuda sekarang ini seyogianya harus berperan aktif dalam peningkatan kualitas pendidikan dan praktek inklusi sosial pada masyarakat untuk terciptannya kesejahteraan bersama pada lingkungan sosial masyarakat.

Kata kunci: Gerakan Inklusi, Konflik, Masyarakat.

***

Indonesia adalah negeri kepulauan yang membentang luas dari Sabang hingga Merauke. Luasnya negeri ini mengakibatkan berbagai macam budaya, suku, ras dan agama yang berbeda-beda dan tersebar luas di seluruh pelosok Indonesia. Dasar dari terciptanya negeri ini adalah keberagaman sosial pada masyarakat. Hingga negeri ini disebut multikultur karena kemajemukannya. Keberagamaan yang tercipta dari rasa saling menghargai, memahami, membawa manfaat kepada sesamanya dan membawa cinta kasih kepada lingkungan sosial masyarakat. Terciptanya hal tersebut akan terjadi bilamana manusia saling memahami perbedaan yang ada dilingkungannya. Oleh karena perbedaan itu sejatinya adalah sebuah keniscayaan yang di berikan Tuhan kepada manusia itu sendiri untuk saling mengerti. Di dalam agama pun manusia diajarkan untuk bermanfaat bagi manusia yang lain meskipun berlainan agama.

Namun hal ini tidak akan tercipta bilamana manusia kerap kali berkonflik. Sudah tercatat ada ratusan konflik sosial pada lingkungan masyarakat yang pernah terjadi di Indonesia. Motif konflik tersebut beraneka ragam. Salah satunya adalah konflik yang berbasis agama di lingkungan masyarakat. Agama yang semestinya membuat manusia mengerti akan perbedaan, menjadi malapetaka konflik sosial berbasis agama di lingkungan masyarakat. Rendahnya kualitas pendidikan pada masyarakat adalah hal pertama yang memicu munculnya konflik tersebut karena kurang bisanya masyarakat memahami persoalan tersebut.

Di Desa Oi Bura yang terletak di Dusun Tambora, Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah wilayah yang kerap kali dilanda oleh konflik sosial berbasis agama di lingkungan masyarakat. Masyarakat di Dusun Tambora terbagi menjadi tiga kampung, salah duanya ialah Kampung Muslim (pribumi) dan Kampung Bali (pendatang). Kelompok-kelompok di Dusun Tambora tersebut melingkupi 70% Muslim, 25% Hindu, dan 5% Kristen, kerap kali dilanda konflik. Dari tahun 2009 hingga tahun 2014 masyarakat Dusun Tambora sering kali dilanda oleh konflik yang tidak kunjung selesai.

Pemicu konflik tersebut ialah ketika pemugaran Pura hingga kemata air tahun 2008 yang memicu ketegangan antar umat beragama. Hal lain yang memicu konflik tersebut ialah disebabkan oleh pertama rasa takut sebagian masyarakat pribumi asli untuk berinteraksi kepada masyarakat pendatang yang notabene berlainan agama, kedua seringnya masyarakat pribumi menutup diri kepada masyarakat pendatang yang berlainan agama (intoleransi), dan ketiga mudahnya masyarakat dusun tersebut termakan oleh isu-isu provokatif yang mengarah pada SARA adalah hal yang telah memicu konflik sosial tersebut. Gerakan Inklusi sosial diperlukan dan juga adalah salah satu alternatif dari persoalan ini serta bagaimana membangun sebuah lingkungan yang terbuka untuk kesejahteraan bersama pada lingkungan tanpa membeda-bedakan budaya, ras, suku, dan agama.

Perlunya membangun sebuah lingkungan yang terbuka yang terlepas dari berbagai macam stigma dan marjinalisasi adalah kunci dan cita-cita utama dalam membangun sebuah keharmonisan sosial dan relasi antar umat beragama pada lingkungan sosial masyarakat. Hal tersebut juga harus dibarengi dengan peningkatan kualitas pendidikan pada masyarakatnya. Sehingga masyarakat dapat memahami persoalan tersebut secara arif dan bijaksana dalam berbagai macam persoalan sosial yang kerap kali melanda lingkungannya. Cara pemecahannya secara demokratis yang mengedepankan mufakat bersama-sama untuk mencapai tujuan yang baik.

Perlunya respon cepat dari pemuda dalam turut serta menangani konflik sosial berbasis agama di lingkungan masyarakat ialah hal yang sangat tepat. Manifestasi dari respon tersebut terwujud sepertinya dengan dibangunnya sebuah sekolah kepemimpinan sebagai bentuk pencegahan konflik di Dusun Tambora yang didirikan oleh pemuda yang peduli akan persoalan ini.  Pemuda tersebut tergabung dalam Program Peduli dan LAKPESDAM serta dari Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia Dan Kebudayaan Republik Indonesia. Di dalam sekolah tersebut tentunya masyarakat akan diajarkan mengenai berbagai macam hal yang menyangkut konflik sosial pada masyarakat. Salah satunya yang terpenting ialah mengenai mediasi pencegahan konflik yang sangat krusial sekali untuk diajarkan kepada masyarakat agar tentunya mengerti bagaimana melakukan pencegahannya sehingga terciptanya pula sebuah keharmonisan sosial dan diharapkan tidak akan terulang kembali konflik tersebut untuk kedepannya.

Praktek gerakan inklusi sosial sebenarnya telah diinisasi pada acara Temu Inklusi pada tahun 2014. Di Indonesia sendiri sebenarnya sudah memiliki 8 desa inklusi bagi penyandang difabel yang sekarang berada di daerah Kulon Progo, Jawa Tengah. Namun, hal tersebut sejatinya masih diperuntukkan untuk penyandang difabel dan masih di desa-desa di pulau Jawa saja. Perlunya pembangunan inklusi sosial yang tidak hanya diperuntukan bagi kaum difabel saja, tetapi mencakup barbagai hal di lingkungan sosial di setiap desa di seluruh pelosok Indonesia adalah hal yang sangat penting. Karena inklusi sosial akan membangun sebuah lingkungan sosial yang terbuka pada lingkungan masyarakat. Terlepas dari berbagai macam stigma dan marjinalisasi yang mengikat manusia untuk bebas dan terbuka sesuai hak-haknya sebagai seorang manusia. Seperti ungkap Mensos, Kofifah Indar Parawansa “desa inklusi ini akan menyebar ke daerah lain. Saya akan dorong supaya masuk ke RAPBDes” (Usula Florene, 2016). Acara diskusi Temu Inklusi pada tahun ini (2016) juga telah membahas mengenai persoalan inklusi sosial dan telah menghasilkan 10 rekomendasi untuk perbaikan hak kesejahteraan bersama. Rekomendasi tersebut mencakup ranah yang sangat luas, mulai dari pendidikan, politik, kesehatan, hak hukum pada mereka yang terkena stigma dan marginalisasi dilingkungannya. Tentunya yang paling penting ialah mencakup pencegahan konflik berbasis agama di lingkungan masyarakat.

Menteri Sosial Kofifah Indar Parawansa dan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo pun telah memberikan sambutan positif dan sangat setuju terhadap inisiasi tentang praktek inklusi sosial tersebut (Usula Florene, 2016). Dengan terbangunannya gerakan inklusi sosial ini, melalui pemuda diharapkan berbagai elemen yang ada pada masyarakat juga akan tergerak untuk turut serta membantu dan berperan aktif dalam segala upaya yang mengarah pada gerakan inklusi sosial. Serta dalam mensosialisasikan tentang perlunya inklusi sosial pada masyarakat adalah hal yang perlu. Untuk tercipta sebuah lingkungan yang terbuka dan harmonis antar umat beragama dan masyarakat.

Mahasiswa sebagai pemuda adalah tiang dasar negeri ini yang semestinya harus berperan aktif dalam hal-hal yang berbau perpecahan pada lingkungan sosial masyarakat. Seperti halnya yang tercantum pada tri darma mahasiswa “Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian” yang mengarahkan sikap dan tujuan menjadi seorang mahasiswa. Namun, mahasiswa dewasa ini cenderung apatis terhadap permasalahan di lingkungan sosial masyarakat. Mahasiswa sekarang lebih banyak mementingkan kepentingan akademik daripada kepentingan sosial kemasyarakatan. Organisasi di dalam kampus pun sedikit banyak hanya berkecimpung pada permasalahan-permasalahan intern saja. Hal tersebut sebenarnya terjadi dari ketidakpahaman mahasiswa itu sendiri untuk menjadi bagian dari lingkungan masyarakat. Yang turut aktif dalam menyelesaikan, memberikan saran/ide, dan kritik-kritik yang membangun ke pemerintah maupun masyarakat itu sendiri. Mahasiswa yang sejatinya ialah“Agent Of Change” harus peka terhadap permasalahan sosial dan harus turut aktif dalam peningkatan kualitas pendidikan pada masyarakat (di luar dari praktek Kuliah Kerja Nyata atau KKN).

Di balik itu semua sebenarnya ada beberapa organisasi mahasiswa yang sangat peduli terhadap permasalahan sosial kemasyarakatan. Organisasi tersebut seperti HMI, PMII, KAMMI, GMNI, PMKRI, GMKI, IMM, dan masih banyak lagi yang lain. Mereka yang berkecimpung dalam organisasi-organisasi tersebut tentunya sering dan kerap kali berbenturan kepada isu-isu provokatif yang mengarah pada SARA. Mereka turut serta dalam memecahkan, memberi saran/ide, dan kritik-kritik yang membangun pada permasalahan tersebut dengan cara ala aktifis mahasiswa.

Secara independen maupun terikat pada program-program dan sebuah institusi pun mahasiswa sekarang juga mulai bergerak untuk peduli pada lingkungannya dan melakukan praktek inklusi sosial kepada masyarakat. Seperti misalnya pemuda yang berkecimpung pada program “Lentera Indonesia dan Indonesia Mengajar”. Contoh nyata dari praktek inklusi sosial yang pernah dilakukan ialah di dalam cerita-cerita seperti yang pernah di tayangkan oleh NET TV pada acara program video dokumenter Lentera Indonesia: Kisah inspiratif Habibi Relawan Sokola di Papua, Kisah Eko Mulyadi Pemerhati Tuna Grahita di Ponorogo, Kisah Agus Akmaludin Kepala Sekolah Rakyat Cicalengka, Asep Suhendar Pendiri Rumah Pelangi, dan masih banyak lagi gerakan inklusi sosial yang telah diinisiasi oleh pemuda penerus bangsa yang peduli pada lingkungannya. Pemuda tersebut adalah generasi penerus bangsa yang maju dan memiliki tekat kuat dalam meningkatkan kualitas pendidikan bagi masyarakat yang kurang mampu untuk mengenyam pendidikan dan untuk menjadi setara dengan manusia yang lain tanpa membeda-bedakan.

Untuk menangani permasalahan-permasalahan sosial pada lingkungan masyarakat yang menyangkut stigma, marjinalisasi, dan konflik adalah dengan gerakan inklusi sosial serta dibarengi juga dengan peningkatan taraf/kualitas pendidikan pada masyarakat yang harus digerakkan oleh pemuda. Sebenarnya menjadi penting dan tentunya adalah tugas generasi muda penerus bangsa untuk turut serta dalam membangun negeri ini. Karena kita sejatinya generasi sekarang bukanlah pewaris yang kerdil atas warisan mereka “para pendahulu bangsa / para Faunding Father” yang besar. Seperti halnya kata-kata mutiara, yang sangat menyentuh di dalam buku Denny J.A yang berjudul “Menjadi Indonesia Tanpa Diskriminasi” yaitu:

Kepada mereka yang berjuang.

Kepada mereka yang menjadi korban.

Kepada mereka yang terus bermimpi.

Bagi Indonesia tanpa diskriminasi.

Sejatinya seorang pemuda memiliki gairah yang besar dan energi yang banyak dalam hal mengawali perubahan “Agent Of Change” dalam membangun negeri ini kearah yang lebih baik (seperti pada peristiwa Reformasi 10 Mei 1998). Hal tersebut akan terjadi bilamana pemuda “sadar” akan peran sosialnya sebagai generasi penerus bangsa yang akan mengawal negeri ini kearah yang lebih baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Ursula Florene. 2016. Menteri Sosial Ingin Setiap Daerah Di Indonesia Memiliki Desa Inklusi, Kaum Difabel Minta Perbaikan Kesejahteraan Dan Jaminan Hak, http://www.rappler.com/indonesia/144361-rekomendasi-temu-inklusi-2016 (Diakses pada 2 November 2016 pukul 20:55 WIB)

http://programpeduli.org/agama-budaya-kisah-inklusi-dari-tambora/ (Diakses pada 4 November 2016 pukul 06:34 WIB).

  • view 336