Tersesat

RYAR ---
Karya RYAR --- Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 Desember 2017
Tersesat

Kepadamu, aku terus berjuang. Tapi dengannya, kau mengikat sayang.

Letih kaki yang terus berlari, tak cukup untuk mendekat. Tanganku yang terulur, hanya angin yang kudapat. Jarak kita masih terlampau jauh. Lima tahun berlalu, tak sejengkal pun jarak itu luruh. Kau bagiku tetap sangat jauh.

Aku dari awal tersadar, mengejarmu pasti kan membuatku terkapar. Aku harus berlari sekuat tenaga sampai lelah menghadirkan dahaga. Nyatanya, usahaku tak ada yang berarti, hanya membuat sakit hati. Lima tahun terlewat, tak sejengkal pun kita mendekat.

Anehnya, kenapa aku terus saja berharap?

Berharap kamu berhenti berjalan. Lalu aku bisa mendekatimu pelan-pelan. Tapi kamu terlampau angkuh untuk menghentikan langkah. Kamu benar-benar tak mau mengalah. Kamu terus saja berjalan, bahkan berlari. Sedang aku masih tertatih, mencoba berdiri.

Aku mengerti, di depanmu, banyak hal yang kau kejar memang. Kamu takkan sampai jika berjalan pelan-pelan. Dan yang tak kau sadar, jauh di belakangmu, ada aku yang mengikutimu. Kau tak pernah tahu. Benar-benar tak pernah tahu. Kau terlalu silau dengan apa yang ada di depan, hingga tak sedetik pun mau menoleh ke belakang.

Aku meratap, juga masih terus berharap. Kau yang ada di hati, semoga bisa kudekati.

Tapi, di tengah itu, di tengah jalan di mana ada aku dan kamu, dia datang, membawa sejumput perasaan yang sama denganku; bisa berjalan beriringan denganmu. Hei, apa yang terjadi? Dengan gagah ia sudah berada di dekatmu. Aku masih tertinggal jauh di belakang. Dia entah berkata apa. Dari jarak sejauh ini, aku tak bisa mendengar; tapi aku mengerti apa yang ia maksud. Kamu lalu mengangguk.

Tunggu. Anggukanmu itu, apa maksudnya? Hei, dia baru datang, sedang aku yang sudah lama berjuang. Tapi mengapa? Langkah kakinya denganmu sudah seimbang. Jaraknya denganmu sudah setara—bahkan sudah habis, sudah tak berjarak.

Aku lalu berhenti berjalan. Mengerti. Seberapa pun jauh aku berjalan, aku takkan sampai di tempatmu. Sudah ada dia sekarang. Yang membuatmu berjalan lebih cepat. Dan dengannya, kamu saling bergandengan erat. Aku mengerti. Di sini, aku harus berhenti. Tak ada langkah kakiku lagi yang mengikutimu. Dan memang, tak mungkin lagi mengikutimu. Aku hanyalah bayang-bayang yang selalu berada di belakang. Tak mungkin ada di dekatmu, dan di sampingmu.

Padamu, sepertinya aku hanya tersesat. Bukan ini jalan yang harus kutapak. Aku harus segera menemukan jalan lain agar hilang semua sesak.

  • view 67