Hujan

RYAR ---
Karya RYAR --- Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 September 2017
Hujan

Senja ini, hujan turun dengan lembut. Sejuk. Menggerus kemarau panjang yang ada di hati. Menemaniku yang sedang sendiri. Mengusir sunyi dengan suara berisiknya. Di hujan itu, aku melihat bayangmu. Air yang turun menjelma menjadi sebuah cuplikan masa lalu. Ya, tersebab kamu selalu mengatakan bahwa kamu suka hujan—kamu selalu berharap hujan turun setiap hari. Aku terheran ketika kamu menceritakan hal itu pertama kali. Bukankah itu terlalu kekanakan?

Aku, entah, akhir-akhir ini juga sama kekanakannya. Mataku berbinar ketika melihat langit mendung. Berharap hujan juga akan turun. Namun sayangnya, langit sering mempermainkanku dengan tega. Mendung tak selalu menghadirkan hujan. Sehingga membuatku seringkali hanya mendengus kecewa. Aku sebenarnya tak apa walau hari ini cerah. Tidak hujan juga tidak masalah. Tapi langit, tolong lebih jujurlah. Jika memang tak ada hujan, jangan menghadirkan mendung. Jangan membuat cuaca hari ini tampak kelabu, yang kita tidak tahu bagaimana nantinya. Karena, hadirnya mendung akan membuat kita menjadi manusia-manusia sok tahu—menyingkap rahasia yang belum tentu benar adanya. Kita jadi bimbang dan penakut. Atau menjadi orang-orang yang terlalu berharap. Padahal ketakutan hanya akan membuat kita tak bisa melangkah lebih jauh. Padahal harapan hanya akan menghadirkan rasa kecewa.

Langit mendung membuat anak kecil yang begitu ingin bermain dengan hujan sepertiku melonjak girang. Hati bersorak riang jika kemudian hujan benar akan turun. Sehingga aku kemudian diam, menunggu. Namun jika tak ada hujan kemudian, akhirnya hanya menyisakan rasa kecewa yang begitu dalam. Andai saja aku tahu, aku takkan menunggu. Andai saja aku mengerti, aku takkan sakit hati. Tapi, apakah benar ini salah langit yang menghadirkan mendung? Sepertinya tidak. Ini salahku sendiri yang banyak mengartikan ekspresi langit—dengan arti sesuai kehendakku. Padahal, terserah langit, kan, mau ia hujan atau tidak, menghadirkan mendung atau tidak? Suka-suka langit jika ia memang ingin menghadirkan mendung tapi tak menurunkan hujan.

Berbicara tentang hujan, saat ini aku memang juga suka jika hujan turun. Sama sepertimu. Entah mulai kapan aku suka hujan. Barangkali saat kita sama-sama terjebak pada hujan yang menahan kita untuk segera pulang dari sekolah. Kita waktu itu hanya menatap hujan, berdiri di dekat gerbang. Kita sama-sama tak membawa payung. “Tiara,” kataku, menyapamu yang tengah melamun. “Kamu bawa payung?”

Kamu menggeleng, menyeringai. “Tidak, aku pikir, jika hujan, akan hujan-hujanan.”

Aku terbelalak, heran. “Hujan-hujanan? Seperti anak kecil saja.” Lalu tertawa. Kamu mengangguk, ikut tertawa.

“Kamu tahu, Rifai,” katamu kemudian, “aku selalu suka hujan. Aku harap hujan turun setiap hari.” Kemudian kamu tersenyum.

“Kenapa memang?” Tanyaku, penasaran, kembali terheran. “Bukankah merepotkan jika hujan turun setiap hari?”

“Bagiku, hujan itu seperti rangkaian puisi, Rifai. Menyampaikan banyak kenangan dan angan. Berirama. Dan begitu syahdu.” Alismu terangkat, senyummu kian mengembang. “Romantis, bukan?”

Aku terdiam. Menatap hujan dengan lebih menghayati. Iya, sepertinya benar pendapatmu.

Entah, waktu itu di mana semua orang. Yang berada di dekat gerbang sekolah hanya kita berdua. Barangkali yang lain sudah pulang dengan membawa payung atau mantel. Dan lainnya mungkin di kelas. Sementara kita masih terus bercakap berbagai topik di tempat itu. Sesekali bercanda dan tertawa. Ditemani hujan yang kian menderas. Seolah mencegah kita untuk bisa pulang. Dalam hati aku berdoa, semoga hujan ini tak pernah berhenti. Agar kita terus terjebak di tempat itu.

Mulai sejak itu, aku selalu suka jika hujan turun. Ah, apakah benar yang kusuka hujan? Setelah kupikir lagi, mungkin tidak. Aku hanya terbawa suasana. Karena kamu mengatakan suka dengan hujan, sehingga, aku pun ikut suka dengan hujan. Barangkali, jika kamu mengatakan lebih suka cerah, aku pun akan lebih suka cerah.

  • view 90