Mengenang

RYAR ---
Karya RYAR --- Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Mei 2017
Mengenang

Kita terkadang memang butuh waktu luang untuk mengenang. Tentang kisah-kisah masa lalu yang kita rindu selalu. Pada momen-momen istimewa yang membuat kita tertawa. Atau malah pada cerita-cerita yang membuat kita mengurai air mata. Apa pun. Atas segala hal yang pernah kita alami.

Ditemani pesonanya langit senja yang berwarna jingga, akan membuat waktu mengenang menjadi lebih berharga.

Kita mulai menggali-gali potongan-potongan memori yang berserakan tanpa pernah kita rapikan. Butuh waktu untuk mengambil potongan-potongan itu agar dari sana kejadian yang pernah kita alami dapat tergambar. Ada yang jelas, ada yang samar. Tak semua lengkap memang. Apa lagi jika itu adalah file ingatan yang telah lama. Ada yang berhasil kita ingat dengan utuh, ada yang hanya tinggal separuh. Tapi, tak ada yang benar-benar hilang dan kita lupakan. Mungkin jika kita tak sanggup mengingatnya, karena ia terselip. Bukan hilang. Ia tetap ada meski tak bisa kita ingat.

Sesekali kita akan tertawa,  melihat bodohnya laku kita saat masih berkawan dengan kecerobohan. Entah otak kita di mana waktu itu. Barangkali tenggelam pada keindahan-keindahan yang kita bayangkan akan jadi nyata, padahal tidak ternyata. Sehingga yang ada, pikiran kacau, dan hal yang memalukan begitu saja terjadi. Tak terkendali. Bak angin yang tanpa permisi lewat. Hanya kemudian membuat kita tercekat. Bibir kaku, tak dapat bersuara. Dan juga pipi merah padam.

Kita hanya berharap kejadian memalukan itu tak terulang. Cukup saat itu saja kita bodoh.

Kita kemudian mencari-cari lagi ingatan menyenangkan untuk kembali ke permukaan. Sebuah masa di mana kita tak bisa berhenti tersenyum. Detik-detik paling berhaga dalam hidup, yang membuat semangat kita tak pernah redup. Indah sekali. Hal yang kita harap sampai kapan pun dapat terus kita ingat. Dengan cara apa pun ingatan itu akan kita ikat. Melalui sebuah bingkai foto atau rentetan aksara.

Lalu, tiba saat kita akan merasa sedih, ketika yang tergambar adalah memori getir yang memberikan perih. Waktu itu, rasanya ingin menghilang. Lari dari kenyataan. Kini pun, rasa sakit yang telah berlalu kembali membawa sebuah sembilu. Membuat hati kita lagi-lagi teriris. Tak pelak kita akan menangis.

Tapi, sudah cukup. Kita tak mungkin menangisi hal yang sama berulang kali, kan? Apalagi hal itu sudah jauh berlalu. Sudahlah, itu hanya masa lalu.

Akhirnya, kita seharusnya bersyukur telah melewati semua episode itu. Kita tak hanya mengingat hal-hal yang indah saja, tapi yang bertabur luka juga ada. Tak hanya melalui jalan yang mulus-mulus, tapi yang penuh bebatuan hingga membuat jatuh tersungkur juga pernah teralami. Sehingga, kita tetap mampu berdiri tegar, jika akan terjadi lagi sebuah badai. Bayangkan jika kita akan menyambut badai untuk pertama kali, berat sekali, kan? Namun jika hal itu sudah pernah kita alami, kita telah belajar menghadapinya.

Jadi, apa pun yang pernah kita alami, tak ada yang perlu kita lupakan.

Setelah menjelajahi masa lalu, pasti membuat lelah. Sekarang waktunya istirahat. Tidurlah. Kita telah dinanti oleh esok pagi. Di mana kita harus berjalan lagi. Tataplah ke depan. Mulailah lagi perjalanan.

  • view 42