Tempat Terindah

RYAR ---
Karya RYAR --- Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Mei 2017
Tempat Terindah

Aku suka menjelajah tempat-tempat indah. Menikmati panorama alam sangat menyenangkan. Mendaki gunung. Bermain di pantai. Semua tentang alam benar-benar menenteramkan. Ciptaan Tuhan memang tak ada tandingan.

Pada waktu itu, di tengah pantai saat kita berkunjung bersama, aku untuk kesekian kalinya terpesona. Senja menghadirkan langit jingga yang merona. Pesona alamnya memukau. Terima kasihku untukmu karena mengajakku ke sini. Aku tersenyum penuh syukur bisa berkunjung di tempat ini.

Kita lalu melampiaskan penat kita di tepi pantai. Kau benar-benar seperti anak kecil yang sedang mendapat mainan yang diinginkannya. Senyummu tak henti-henti teriring sambil sesekali jahil memainkan air dan pasir. Kau mencoba untuk membuatku basah dan kotor. Aku turut meladeni permainanmu. Kita dua orang dewasa yang tak terlihat dewasa. Bermain. Tertawa. Lepas.

Momen-momen bertamasya memang momen yang ditunggu-tunggu. Atas rutinitas yang membuat kita penat. Pekerjaan-pekerjaan yang tanpa ampun datang membuat bosan. Kita butuh menyegarkan diri dengan berkunjung di tempat-tempat yang memanjakan mata. Dan, terbukti selalu ampuh. Bertamasya benar-benar mampu mengembalikan kaki-kaki yang tengah terjatuh. Suasana alam yang sejuk selalu mampu mengembalikan keyakinan yang tengah terpuruk. Ia menyalakan lagi semangat hidup yang mulai redup.

Entah, sudah berapa tempat indah yang telah kukunjungi, kaki ini tak pernah bosan memijakkannya lagi dan lagi. Pada jenuh yang mencoba membunuh. Juga, pada malas yang kian mengganas. Aku butuh berkunjung lagi di tempat indah agar senyum kembali merekah. Tapi, tak bisa kupingkiri, bagiku, tempat paling indah masih tetap pantai saat kita tertawa bersama waktu itu. Kukunjungi pantai-pantai lain, namun, tak kudapati yang seindah dengannya. Kukunjungi wisata-wisata lain, namun, masih belum ketemu yang lebih baik darinya. Sehingga kuputuskan untuk mengunjungi pantai itu lagi. Kali ini aku hanya sendiri. Aku tak tahu kamu ada di mana.

Kakiku sudah berdiri di mana kita dulu pernah di sini. Ya, pantai ini masih tetap sama, tetap memesona. Pasir putihnya terlihat manis. Air lautnya sangat biru. Sudah tiga tahun sejak terakhir aku berkunjung, tapi tak banyak berubah. Masih indah. Aku tersenyum menikmati alam. Membuang semua lelah pada lautan.

Setelah mentari melambai undur diri, kuputuskan untuk pulang. Dan dari sana aku menyadari satu hal; Pantai ini memang sangat indah, tapi ternyata, dibanding dengan tempat-tempat yang kukunjungi lainnya, ini bukan yang terindah. Penilaianku dulu salah. Kini aku mengerti, mengapa pantai ini terngiang di memoriku sangat indah. Aku mengerti, karena ternyata, tempat terindah adalah, tempat di mana senyummu berada.

  • view 80