Menunggu

RYAR ---
Karya RYAR --- Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Mei 2017
Menunggu

Pada malam yang dingin, aku mendapatimu duduk di depan sebuah toko yang telah tutup. Sendiri. Sedang menunggu. Dia, seseorang yang kau sayang.

Aku waktu itu berada di kafe yang berseberangan dari tempatmu. Sedang menikmati novel dan kopi panas. Sedang memperhatikanmu. Dan... juga sedang menunggu—hal yang berharga bagiku.

Kita tengah menjalani pekerjaan yang sama. Pekerjaan yang tak butuh banyak gerak tapi begitu menguras tenaga. Pekerjaan yang tak perlu banyak berpikir tapi begitu membuat kita tak berdaya. Pekerjaan paling membosankan, juga meresahkan dan melelahkan. Ya, menunggu. Barangkali lebih melelahkan daripada mengitari lapangan sepuluh kali. Karena yang lelah bukan fisik, tapi perasaan. Dan lelah perasaan lebih melelahkan daripada fisik.

Aku mencoba membunuh rasa bosan dan resah dengan novel yang kubaca. Juga dengan menyeruput kopi sesekali. Tapi tak bisa kupingkiri, pikiranku masih berkecamuk. Ruang nyaman kafe tak bisa meredakan sesak. Dan jantungku kian berdegup cepat, saat melihat jam di tangan terasa begitu lambat. Aku mulai khawatir. Kapan ini berakhir? Pertanyaan yang terus bergentayangan bagai hantu.

Di tempatmu, ditemani udara yang kian dingin menusuk tulang, kamu juga tampak khawatir. Kepalamu menunduk. Wajahmu pucat pasi. Pemandangan paling kelam dari dirimu yang biasanya tampak menawan.

Sudah banyak jam telah terlewati, kita sama-sama masih bertahan dengan apa yang kita nanti. Membiarkan diri terus tersayat karena akhir penantian yang indah ini belum kita dapat. Kamu masih bertahan menunggunya. Aku masih bertahan dengan apa yang kutunggu.

Dan, hei, apa yang sebenarnya kutunggu dari tadi?

Aku menunggu... kamu berhenti menunggunya.

  • view 44