Heartache

RYAR ---
Karya RYAR --- Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Januari 2017
Heartache

Expectation, Kata Shakespeare, is the root of all heartache. Harapan adalah akar dari semua rasa sakit hati.

Dari awal, aku sudah memperingatkan hati ini agar tak terjatuh padamu terlalu dalam. Bahkan, awalnya aku sempat berpikir untuk tak mengejarmu. Melihatmu masih bisa tersenyum, itu sudah cukup, pikirku.

Tapi kemudian, aku tak bisa mengelak, ketika kau tersenyum, aku tak mau hanya menjadi penonton yang menikmati senyum itu. Aku juga ingin menjadi penyebab senyum itu hadir. Aku sudah lelah terus-terusan menjadi udara yang tak pernah bisa kaulihat. Aku juga ingin menjadi lelaki yang keberadaannya kauanggap—aku ingin menjadi tempatmu menyandarkan diri jika lelah.

Hingga suatu waktu, aku memutuskan untuk mengejarmu. Aku kemudian memasang rencana dan juga harapan—harapan indah bisa hidup bersamamu. Tapi, apa? Gara-gara harapan itu, aku menjadi orang yang tak bisa membedakan angan dan kenyataan. Semua tentangmu menjadi semacam ilusi, yang aku tidak mengerti kebenarannya.

Berkali-kali akal sehatku menyuruhku untuk membuka mata: melihat semua dengan keadaan yang semestinya. Namun sayang, mataku pun telah teracuni oleh harapan. Yang kulihat hanyalah fatamorgana. Aku benar-benar hidup dalam bayang-bayang semu.

Hatiku memeluk harapan terlalu erat. Dan ia terbang tinggi. Aku tak mampu menggapainya lagi. Jika ia jatuh, barangkali akan hancur berkeping-keping.

Namun, temanku sering menyadarkan, jangan berharap terlalu tinggi. Membuatku yang tadinya melayang, berhasil kembali ke daratan. Aku mengerti, tersebab masa depan yang masih kelabu, janganlah terlalu berharap dulu. Aku kemudian menepuk-nepuk pipi, membuka lebar mata, agar yang kulihat benar-benar realita.

Kata temanku lagi, yang hanya boleh kita harap hanyalah Tuhan, agar tak ada sakit hati. Ya, aku membenarkan. Tapi aku tidak berhenti. Aku tetap maju—tetap mengejarmu. Dan, sadar diri. Untuk tidak berharap terlalu tinggi. Semoga tidak sakit hati.

  • view 57