Lebih Baik Tidak Ada Cinta?

RYAR ---
Karya RYAR --- Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Januari 2017
Lebih Baik Tidak Ada Cinta?

"Aku benar-benar tidak mengerti," katamu ketika itu. Kamu duduk di kursi yang berada di tengah taman, sementara aku berdiri mengamati bunga-bunga.

"Memangnya ada apa?" aku menoleh ke arahmu. Wajahmu tampak kesal, dan sedih sepertinya.

"Menurutmu, apakah cinta itu perlu ada?" kamu balik bertanya padaku.

"Tentu, kenapa memangnya?" aku tersenyum, ada-ada saja pertanyaanmu. Tapi, kamu terlihat semakin murung.

"Bagiku, cinta itu tak perlu ada," katamu, lalu diam sejenak, menghela napas. "Bagaimana tidak, ketika kita mencintai seseorang, pasti akan ada orang yang tersakiti," lanjutmu, "pasti akan ada yang jadi korban, dan pasti akan ada yang menangis. Aku benar-benar tidak mengerti." Kamu terdiam lagi. Aku juga terdiam. Taman ini jadi sedikit lengang.

"Buat apa, jika cinta hanya menimbulkan air mata, rasa suka justru memberikan luka. Lebih baik tidak ada cinta, kan?" kamu meminta persetujuanku, lalu menatap mataku.

Aku masih terdiam, dan kamu berkata lagi, "Jika tidak ada cinta, tidak akan ada air mata. Jadi, lebih baik tidak ada cinta, agar tidak ada yang tersakiti."

Dalam hati aku membenarkan perkataanmu, memang benar, jika tidak ada cinta, tidak akan ada rasa sakit. Tapi, aku menolak, benarkah tidak ada cinta itu lebih baik?
Aku lalu mendekatimu, dan duduk di sampingmu. "Memang benar, jika tidak ada cinta, tidak akan ada rasa sakit," kataku, "tapi, aku tidak setuju jika lebih baik tidak ada cinta."

"Kenapa?" tanyamu. Kamu memperhatikanku semakin seksama.

"Bukankah kita terlahir dengan cinta?" tanyaku, tersenyum. "Dan bagiku, meski mencintai mungkin akan memberikan rasa sakit, aku tidak ingin berpikir mencintai seseorang itu adalah hal yang sia-sia. Sekalipun rasa sakit itu kembali kudera, aku akan terus tumbuhkan rasa cinta." lanjutku.

kamu terdiam, masih menatapku. Wajahmu masih murung, meski nampaknya kamu setuju dengan pernyataanku.

"Apakah ada orang yang kamu cintai?" Tanyamu, mengagetkanku.

"Hmm.. kenapa bertanya begitu?" Aku jadi salah tingkah, tersipu malu.

"Jawab!" Serumu, wajahmu serius, kamu tak peduli dengan wajahku yang tampak malu.

"ada," jawabku pelan.

"Siapa?" tanyamu lagi.

Aku diam. Cukup lama.

"Kamu," jawabku.

  • view 85