Bagian 4- Romansa

Ryan Hamim
Karya Ryan Hamim Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 September 2016
This Is Love

This Is Love


ini tentang karikatur hati, hampir se per empat manusia di dunia pernah berjalan diatasnya. ini Cinta, se ekor makhluk fatamorgana terdahsyat yang bisa menyerang siapa saja

Kategori Cerita Pendek

935 Hak Cipta Terlindungi
Bagian 4- Romansa

Trrrrrr….trrrrrrrrrr….trrrrrrrr…..Alarm dihandphone ku bergetar. Pagi yang cerah, segera ku beranjak dari kasur tak lupa pula sesekali melirik surat yang sudah kubuat semalam. Senyum merona pun timbul, aku masih tak percaya.

Hari ini seperti biasa aku kembali melakukan aktivitasku sebagai mahasiswa, hanya saja hari ini terasa berbeda. Benar, sesuai rencanaku hari ini aku akan memberikan surat kepada gendis, gadis hitam manis yang berparas ayu nan cantik. Persis sesuai panggilan ku padanya “gendis”, gula jawa yang manis. Hati getar getir pun menyelimuti tak kuasa menahan bimbang. Apakah teman juga merasakan hal yang sama? apakah perasaan seperti tersengat listrik di sekujur tubuh itu hal yang wajar ketika seseorang sedang jatuh cinta? Benar saja getaran itu semakin menguat, terlihat dia dari 50 meter sisi barat daya ku berjalan dengan menenteng tas dan buku. Sepertinya baru selesai kelas.

Aku mencoba melangkah dengan niat menghampirinya, tapi aneh ada yang memegang langkah ku. Ku putar kepala kebelakang, kesamping, kanan, kiri bila ada yang menahannya tetap tak bisa. Dia semakin dekat, 20 meter, 15 meter, astaga urat saraf ku semakin tak bisa ku kuasai. Dan ketika itu berjarak selangkah dari ku. “ haiii…” dengan raut muka campur aduk ku sapa dia dengan senyum lebar yang kumiliki. “gendis…” panggilku, dia menoleh. “tunggu.. tunggu” ulangku. “iya , kenapa kak?” balasnya. “enggg engggaaa.. aku cuma mau ngasih ini.” Sambil menunjukkan surat beramplop dan kuserahkan ke dia. “ini surat aaa” belum selesai. “itu surat buat kamu, nanti aja bacanya, okee”. Aku pun berjalan mundur beranjak menjauh lalu berbalik. Selangkah dua langkah, “ Genndiiiissss” panggilku lagi dengan dua telapak tangan menangkup di bibir. “kaaamu caantik hariiii iniiiii” aku pun melesat berlari sambil tetap menoleh kepadanya. Kulihat ada senyum tipis yang mengalir disitu. “ahhh aku semakin gila” bisikku.

Kulewati berbagai kegiatanku dengan semangat berapi-api, hari ini milikku malam datang aku menyambutnya dengan perasaan yang merona-rona. Masih di atas kursi yang sama, aku duduk memikirkan tentang apa yang aku lakukan hari ini. Ingin ku rekam ingatan ini biar menjadi kenangan terindah. Ku toreh balik pena dan kertas, tanganku bergerak sendiri tanpa perintah.

Wahai romansa, bolehkah aku memanggilmu.

Janganlah kau menatapku seperti itu.

Sini, mendekatlah, aku punya hadiah untukmu.

Ambillah, jauh ku simpan hanya untuk orang yang terpilih.

Iya aku memilih mu.

Hai kau romansa, apa kamu mendengarnya.

Cobalah, cobalah kau dengar sini.

Tak jauh dari sana kau akan temukan satu .

Indah bukan, aku tak ingin meminta mu untuk menjawab.

Cukup lihat dan dengar saja.

Iya itu dia, dia yang mengadopsikan secuil perasaannya.

Namun kini itu tumbuh,

Benda asing yang aneh, tapi aku mulai menerimanya.

Apakah harus kubiarkan atau ku tinggalkan.

romansa? Heii.

-Romansa.

Itu puisi pertama yang ku buat. Dan benar saja aku semakin gilaa.

  • view 168