Bagian 2- Gendis

Ryan Hamim
Karya Ryan Hamim Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Agustus 2016
This Is Love

This Is Love


ini tentang karikatur hati, hampir se per empat manusia di dunia pernah berjalan diatasnya. ini Cinta, se ekor makhluk fatamorgana terdahsyat yang bisa menyerang siapa saja

Kategori Cerita Pendek

980 Hak Cipta Terlindungi
Bagian 2- Gendis

Masih tentang dia yang membuatku cenat-cenut. Sejak hari itu, hari-hariku pun seakan berbeda, aku yang awalnya selalu datang paling siang ke kampus kini aku menjadi orang yang pertama ada dikampus. Setiap malam selalu teringat wajahnya yang begitu ayu, matanya yang sayup-sayup indah menggetarkan hatiku. Pokoknya mulai saat itu aku seakan hidup kembali didunia ini, apa ini yang dinamakan jatuh cinta, jawabku “iya”.

Aku berharap hari-hari yang seperti ini tak akan mudah berlalu. Waktu itu langit cerah berawan aku berjalan di taman kampus menikmati semilir angin, bunga dan kumbang berkejar-kejaran yang memang sudah menjadi kebiasaan ku setiap usai kuliah. Hal ini cukup membuat ku tersenyum dan rileks kembali setelah berjibaku dengan dosen, tugas  yang cukup menguras tenaga dan pikiran seharian ini. Entah mengapa, hari itu mungkin hari paling mujur yang pernah aku alami, mau tau kenapa? Yaaapp hari itu lah hari kedua setelah waktu ospek  aku bisa bertemu dan beriringan jalan pulang bersamanya tanpa sengaja. Tak menyianyiakan moment itu aku pun menyapanya

“Haii, Pulang biasanya nunggu bis dimana ?” tanya ku ,

“Biasa di lampu merah kalau tidak di halte St. Carolus kak” , jawabnya. 

“Oohh yuk bareng, kebetulan aku juga pulang se arah lewat situ.’’ kata ku mengajaknya.“

Yaudah”, jawabnya singkat.

“Ehh.. mmm enaknya aku panggil kamu pakai nama biasa apa gimana”, celotehku.

“mmm..” belum sempat dia menjawab aku langsung bilang “yaudah aku panggil kamu gendis aja ya”.

“Gendis??” sambil menghentikan langkahnya. “kenapa gendis?”

“emm gpp, soalnya kamu manis kaya gula, hehe” canda ku. Dia tersenyum sambil melanjutkan langkahnya, “YESSSSSSSSSS‘’ dalam hati kuberteriak, ada lampu hijau yang berhasil kulewati. Hehee..

                Akhirnya disela-sela waktu berdua aku dan dia pun banyak bercerita, entah berapa banyak kata-kata pujian ku lemparkan untuknya. senja di halte bis pun menghiasi langit biru saat itu. teeeet teeetttt klakson bis terdengar, benar saja   bis yang ditunggu pun muncul dari kejauhan, dengan senang hati ku akhiri perjumpaan ku lalu ku tuntun dia menuju bis itu.

“Daaaahhhhh, sampai jumpa besok laaaagii yaaaa” dengan tangan melambai-lambai dan mimik wajah tersenyum,  dia pun berlalu.

 “Hmmm…” Kuhela nafas panjang kemudian aku pun segera pulang kerumah untuk beristirahat. hari yang melelahkan tapi menyenangkan, bisikku bergumam.

  • view 278