Bapak Bilang, Saya Punya Ibu

Nurul Fatimah
Karya Nurul Fatimah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Januari 2018
Bapak Bilang, Saya Punya Ibu

Ejekan-ejekan itu di mulai di suatu pagi di hari rabu ketika Bu Marni menulis tiga huruf di papan tulis dengan kapur yang berdebu. Pagi itu sebenarnya sama seperti pagi biasa di mana Bu Marni memulai kelas dengan memukulkan tongkat kayu panjang di papan tulis hingga membuat Sri yang duduk di bangku paling depan batuk-batuk oleh debu kapur yang beterbangan.

I B U

Huruf-huruf itu ditulis dengan huruf kapital seluruhnya di papan tulis. Tugas yang diberikan Bu Marni pagi itu adalah membuat karangan singkat tentang ibu sebelum mengancam seluruh siswa untuk tidak ribut dan diam di kelas selama ia pergi mengajar ke kelas lima. Hanya ada beberapa guru di sekolah itu, ada enam jumlahnya, namun tidak semuanya masuk setiap hari hingga guru-guru yang datang kadang harus mengajar dua kelas dalam waktu yang bersamaan.

Harusnya pagi itu hanya menjadi pagi seperti biasanya. Namun, lahirlah ejek-ejekan itu.

Ejekan-ejekan itu di mulai ketika Anto bertanya pada Jamil tentang apa yang akan ia tulis. Jamil tidak punya ibu, kata Anto dan Joko, Jamil adalah anak pungut.

Ejekan-ejekan itu kemudian berlanjut ketika Jamil meneriaki Anto dan Joko yang menertawainya karena tidak punya ibu, ketika mereka bertiga akhirnya berkelahi.

“Pak, katanya saya tidak punya ibu.” Lauk hari itu hanya kerupuk kulit sapi yang tidak laku dengan nasi kering dicampur jagung, meski begitu Jamil makan dengan lahap di samping bapaknya.

“Siapa yang bilang? Kamu ndak mungkin lahir kan kalau ndak ada ibu?” Bapaknya makan lebih sedikit, ia memberi setengah porsi nasinya untuk anak lelakinya yang sedang dalam masa pertumbuhan

“Kata Joko, saya lahir di selokan, dipungut.” Jamil masih makan dengan lahap.

Bapaknya berhenti makan, dilihatnya anak semata wayangnya yang mulai tumbuh besar. Suatu saat tentu anaknya akan menanyakan kemana ibunya. Tapi kemana ibunya? Bahkan siapa ibunya pun, bapaknya tidak tahu.

“Mana bisa selokan punya anak, kalo selokan punya anak, bisa penuh dunia ini. Manusia ya jelas dilahirin sama ibu to?”

Jamil melihat bapaknya, dalam otaknya yang belum berkembang sempurna, ia mencoba menimbang-nimbang apa yang bapaknya katakan.

“Jadi saya punya ibu?”

“Ya jelas, Jamil manusia juga to?”

 

*****

 

            Jamil berangkat sekolah keesokan harinya dengan mantap. Ia memiliki ibu, ia sudah tanyakan pada bapaknya, dan sekarang ia bisa membalas ejekan teman sekelasnya kemarin. Namun ketika pulang sekolah, bapaknya mendapati Jamil tertidur dengan mata bengkak dan sarung bantal yang basah.

            Bapaknya menawari makan namun Jamil tidak mau menyentuh makanannya. Tentu Jamil belum makan semenjak sarapan tadi pagi, Jamil tidak pernah dibekali uang jajan,.

            “Jamil kenapa ndak mau makan? Ndak laper?

            “Kata Anto, Jamil ini dibuang sama ibu.” Tangis anak itu pecah kemudian. Ia peluk bapaknya yang ikut sedih melihat anak satu-satunya ini menangis.

            “Jamil sekarang ada dimana?” Sambil menepuk-nepuk punggung Jamil, bapaknya diam-diam ikut menangis. Ia peluk Jamil erat agar air matanya tidak kelihatan. Ia bapak, pantang menangis di depan anak.

            “Di rumah.” Kata Jamil dengan terisak. Ia memeluk erat bapaknya.

            “Kalo Jamil dibuang, Jamil mesti ada di tong sampah to?”

            “Jadi, Jamil ndak dibuang sama ibu?”

            Cepat-cepat bapaknya mengusap air mata ketika Jamil melepaskan pelukan. Bapak, pantang terlihat lemah di depan anak.

            “Ya ndak, kalo Jamil dibuang, Jamil ada di tong sampah sekarang.”

 

****

 

            Keesokan paginya, Jamil pergi lagi ke sekolah dengan mantap. Ia tidak dibuang oleh ibunya. Namun, ketika pulang dari sekolah, Jamil menangis lagi.

            “Kok iya nangis lagi Mil?”

            “Kata Anto sama Joko, kalo Jamil ndak dibuang, berarti ibu sudah mati.” Jamil berteriak keras, menangis sekeras yang ia bisa. Ia memang tidak pernah bertemu ibunya, tapi membayangkan kematian membuatnya takut.

            “Kok percaya sama Anto sama Joko, temen Jamil pernah liat kuburan ibu ndak? Kalo ibu mati, ya pasti ada kuburannya.” Bapaknya tersenyum, namun ia mengepalkan tangan, gugup mencari alasan untuk anaknya. Entah esok atau lusa, apa lagi yang akan dikatakan teman anaknya.

            “Orang mati memang ada kuburannya Pak?”

            “Ya jelas dong, kalo ndak ada kuburannya, tiap hari Jamil liat mayat di jalan. Kan serem.”

            “Jadi ibu ndak mati?”

            Bapaknya tersenyum, tidak mau menjawab iya atau tidak. Jangankan  masih hidup atau tidak, ia bahkan tidak tahu siapa ibu Jamil. Ia hanya menemukan Jamil ada di depan masjid tergeletak pucat hampir mati tanpa ada seorang pun yang mau menolongnya. Takut polisi, alasan warga sekitar. Tidak mau menjadi saksi di kepolisian jika menyelamatkan bayi yang dibuang.

            “Jamil ndak pernah kan liat kuburan ibu?”

 

*****

 

            Sekali lagi Jamil merasa yakin bahwa ia masih memiliki ibu. Namun, ketika pulang sekolah Bapaknya menemukan Jamil melamun dan terlihat lesu. Saat itu bapaknya baru selesai shalat zuhur dan akan menyiapkan makan siang, jadi dia biarkan anaknya dengan pikirannya sendiri.

            “Pak, kata Joko kalo ibu masih hidup, apa dia ndak rindu sama Jamil?” Jamil menunduk, ragu akan menyampaikan keinginannya. “Jamil mau ketemu ibu.”

            Kini bapaknya hanya bisa diam. Ia tatap wajah anaknya yang terlihat lesu, kesulitan mencari alasan untuk menutupi kebenaran sebenarnya.

            “Jamil makan dulu.” Katanya kemudian sambil menyiapkan makan siang seadanya lalu segera pergi lagi untuk berjualan keliling sore hari.

 

****

 

            Semua teman sekelasnya menyelesaikan tugas karangan yang diberikan Bu Marni. Jamil dihukum berjemur karena tidak menyelesaikan tugas karangan tentang ibu. Ejekan-ejekan tentang Jamil yang tidak memiliki ibu harusnya sudah sampai di telinga para guru tapi tidak ada satu pun dari mereka yang peduli. Ajarkan saja apa yang ada di buku lalu tugas mereka selesai, tidak peduli pada bagaimana keadaan siswanya atau apakah siswanya menerima pembelajaran dengan baik atau tidak.

            Jamil murung saat pulang. Bapaknya tidak berkata apa-apa lagi tentang ia ingin bertemu ibunya.

            “Kenapa Jamil kok murung?”

            “Jamil di hukum Bu Marni Pak.”

            “Dihukum? Jamil salah apa?”

            “Ndak kerjain PR.”

            “Loh, kok Jamil nakal? PR kok ndak dikerjakan?”

            “Jamil ndak ngerti Pak, PR nya disuruh bikin karangan tentang ibu, Jamil ndak pernah ketemu ibu.”

            Bapaknya tidak bisa berkata-kata lagi. Air mata serasa berkumpul di pelupuk matanya. Tanpa berkata apa pun lagi, bapaknya pergi. Ia menangis sambil berjalan, tidak ingin dilihat anaknya saat menangis.

 

****

 

            “Pak?” Sudah malam, bapaknya belum pulang. Listrik rumahnya diputus dua bulan lalu dan Jamil belum pernah menyalakan api sendirian. Kata bapaknya, ia belum boleh main api.

            “Pak?” Ada suara pintu tapi tidak ada salam. Kalau ayahnya yang pulang, pasti ayahnya akan memberi salam. Tidak mungkin ayahnya lupa mengucapkan salam.

            “Ibu siapa?” Lampu templok di ruang tamu tahu-tahu menyala, seorang wanita duduk di sana dengan dandanan menor, tersenyum pada Jamil.

            “Ini ibu.” Sosok wanita itu terdengar sedikit serak. “Ibu dateng, kangen sama Jamil.”

            “Ibu, ibunya Jamil?” Jamil perlahan mendekat. “Mana bapak? Ibu selama ini kemana aja?”

            “Ibu sekarang sedang kerja, kapan-kapan ibu dateng lagi tengokin Jamil. Maafin ibu ya karena ndak tengokin Jamil dari dulu.” Wanita itu berdiri, memeluk Jamil. Jamil hanya diam, air matanya mulai jatuh.

            “Jamil yang rajin shalatnya, yang rajin sekolahnya. Kalau Jamil jadi anak baik, nanti ibu dateng lagi.”

 

*****

 

            Jamil berangkat sekolah dengan mantap. Ia sudah bertemu dengan ibunya semalam. Namun setibanya di kelas, ia tidak memberi tahu teman-temannya. Ia terima saja saat Anto atau Joko mengejeknya lagi. Dalam tasnya, ada secarik kertas tentang karangan berjudul ‘Ibu’ yang hari ini ia akan kumpulkan pada Bu Marni.

 

*****

 

 

            Kata bapak, aku punya ibu. Tapi, aku tidak pernah ketemu ibu. Kata bapak aku dilahirkan sama ibu, tapi aku tidak pernah ketemu ibu. Kata bapak aku tidak pernah dibuang ibu, tapi aku tidak pernah ketemu ibu. Kata bapak, ibu belum dikubur, tapi aku tidak pernah ketemu ibu. Aku tanya bapak kapan bisa ketemu ibu, tapi bapak tidak jawab.

            Tadi malam aku ketemu ibu. Aku tidak terlalu suka ibu, dandanannya menor, bau bedaknya bikin pusing. Tapi, ibu mirip bapak. Tingginya mirip bapak, badannya mirip bapak, bulu kakinya juga mirip bapak.

            Kalau aku tahu ibu semirip bapak, aku tidak perlu ketemu ibu. Kalau mereka punya dua orang yang satu ibu yang satu bapak, aku punya satu orang tapi ada ibu sama bapak. Aku punya ibu, bapak bilang begitu.

 

Catatan : Bapak jelek kalo jadi ibu-ibu.

 

  • view 102