Mushab Bin Umair: Saat Airmata Cinta Al Amin berderai karenanya

S Suryana
Karya S Suryana Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 28 Januari 2017
Mushab Bin Umair: Saat Airmata Cinta Al Amin berderai karenanya

Beribu cerita yang mengisahkan hidupnya, sebanyak itu pula rasa kagum selalu menghinggap di dada. Terkadang diri merasa ragu nyatakah lelaki ini bernafas dan menjejak warna sejarah di bumi yang sama ? Benarkah kabar nun jauh berabad terpisah ribuan amal ianya nyata berdetak ? Bagaimanalah, mengucap namanya pun membuatku cemburu. Cemburu berat. Ia mendapat limpahan kasih Al Amin yang teramat sangat. Yang begitu diharapkan olehku, si jalang.

“Tak ada yang lebih baik tatanan rambutnya dan kualitas pakaiannya diantara kalian selain Mushab bin Umair. Dia berbeda dari kebanyakan pemuda Mekkah lainnya.” begitulah kesan Nabi saat melihatmu. Ya, kau memang berbeda dari kebanyakan pemuda lainnya. Birunya matamu, tampan parasmu seolah terpahat sempurna, bagusnya pakaianmu, semerbak parfummu sampai ianya tercium bahkan sebelum kau datang dan yang ramai dikelilingi jelita saat kau ada. Luasnya pergaulanmu, baiknya perangaimu sampai yang lalu lalang harus berhenti karena pengaruh pikat kata saat kau mulai berucap. Berucap untaian kata hikmah nan menyejukkan, bukan kata dusta menyesatkan seperti lelaki zaman sekarang.

Desak bersesak riak jiwa yang meminta cintamu namun akhirnya Allah lah yang mengambil hatimu lebih dulu. Iya, saat mula langkahmu berjalan menuju tempat paling berbahaya kala itu. Darul Arqam. Tempat Rasulullah menyampaikan wahyu. Bergetarnya jiwamu mendengar sabda Rasul, bahagianya hatimu menemukan cinta lewat kata kataNya. Cinta dalam memurnikan ketaatan. Aduhai Mushab, kau membuat cemburuku makin menghebat. Menghebat karena hatimu begitu bersih sehingga bisa menerima sinar kebenaran, sedangkan diriku terasa susah untuk sekedar pergi ke tempat kalam Allah diperdengarkan.

“Dia sudah mengikuti Muhammad !” ujar saudaramu yang mengawasi tiap kali engkau pergi ke Darul Arqam untuk mengikuti bimbingan. Cinta selalu meminta pengorbanan dan engkaupun seakan sudah bersiap. Tenangnya pembawaanmu saat dicecar keluarga terlebih ibumu, Khunais Binti Malik, wanita yang disegani dan ditakuti di kalangan Mekkah, sekaligus yang sangat menyayangimu dan juga sebaliknya. Dimasukkannya dirimu kedalam ruang terkunci berhari hari nyatanya membuat imanmu semakin menjadi. Dicerabutnya semua fasilitas kemewahan nyatanya membuat cintamu pada Rasul dan Allah semakin bergelora. Disiksa sedemikian hebat sampai kulitmu melepuh nyatanya tetap tak goyahkan cintamu. Cinta murni. Cinta mulia. Cintamu kepada Rasul, Allah dan Islam. “Ibu tidak akan makan dan minum sampai kau kembali pada ajaran nenek moyangmu.” ancam ibumu. Ancaman pamungkas sekaligus penentu jejakmu selanjutnya. Namun, begitu tenang nya engkau berkata “wahai ibu, seandainya engkau mati karenanya kemudian hidup lagi dan begitu seterusnya sampai seribu kalipun, aku akan tetap bersama Muhammad Rasulullah.” 

Langkahmu tegap meninggalkan Mekkah. Diusir dari keluarga. Mushab sekarang bukanlah ia yang berbaju mewah nan semerbak harum namun ia yang memakai baju seadanya dan sandal lapuk yang hampir habis serta darah yang keluar dari sela kakinya karena berjalan berhijrah mengikuti Rasul. Engkau yang setibanya disana langsung disambut oleh pelukan dan airmata mengharu disaat yang lain menundukkan pandangan karena tidak tega menyaksikan keadaanmu yang jauh berbeda. “ Dialah yang berhijrah karena Allah dan Rasulnya. Dialah yang meninggalkan semua kenikmatan dunia demi akhirat. Semoga rahmat selalu tercurah padamu.” ujar Nabi dengan bangga. Iman itu sudah bertatap jauh sebelum ia ada. Iman itu sudah akrab sebelum dipertemukan dengan Saad Bin Muadz, saudara seimannya sampai Madinah disiapkan olehnya untuk dijadikan kota tegaknya aturan Sang Maha Pengenggam Hidup. Olehnya. 

Tumbuh dibawah bimbingan Rasul. Dewasa dengan amanah dari Rasul. Hidup berdampingan dengan Rasul. Mengikuti apa yang Rasul ikuti. Mencintai apa yang Rasul cintai. Cintamu, tanpa syarat. Cintamu melebihi cinta yang ada. Sampai di Perang Uhud, cinta pun masih meminta  bukti.  Terpotong tangan kanan tak menjadikanmu menyerah sebagai pembawa bendera, sekelebat kilat bendera dipindahkan ke tangan satunya sampai terus terpotong kedua tangan tak juga menyurutkan niat tuk mendekap benderanya didalam dada. Hingga akhirnya engkau menemui Sang Cinta dengan para syuhada lainnya. “Ya Allah, aku menjadi saksi dari apa yang dia lakukan bersama lainnya” derai airmata Rasul melihat jasadnya dan kain bajunya yang bahkan tak cukup untuk dijadikan kain kafan. Ditutup sebagian maka terbukalah sebagian lainnnya sampai Rasul menyuruh sahabat untuk menutup bagian jasad yang terbuka dengan rumput yang ada disana.

Duhai yang tercatat namanya sepanjang masa. Duhai yang dijanjikan surga. Duhai yang dirindukan langit. Kau membuktikan bahwa tak ada yang lebih membahagiakan selain menyandarkan seluruh ketaatan dan harapan kepada Allah. Kau membuktikan bahwa tak kan sia sia semua pengorbanan bukti cintamu membersamai Rasul mewujudkan cita cita mulia. 

 

Duhai Mushab, cemburuku akan tetap berat padamu yang sudah berhasil menjalankan fungsi dan peran semasa di dunia dengan hebat, sedang aku masih hina.

Duhai Mushab, kagumku akan tetap menghebat padamu yang sudah mengambil sikap atas ujian sebagaimana sebenarnya kau bisa melepas dengan mudah, sedang aku masih takut melangkah.

Duhai Mushab, semoga akupun bisa sepertimu, menjadi yang mengiringi cita cita mulia Rasul sebagai bukti cinta mulia, sama seperti cinta yang kau punya kala itu.

  • view 86