#KurinduITD-Kesatuan dalam Keberagaman: Harmonisasi Pelangi untuk Indonesiaku

Ruthmia Alvianita Br Ginting
Karya Ruthmia Alvianita Br Ginting Kategori Renungan
dipublikasikan 20 November 2016
#KurinduITD-Kesatuan dalam Keberagaman: Harmonisasi Pelangi untuk Indonesiaku

Kesatuan dalam Keberagaman: Harmonisasi Pelangi untuk Indonesiaku

 

              Menjadi suatu kebanggaan tersendiri menjadi bagian dari bangsa ini tentunya sebagai seorang warga negara Indonesia. Tinggal di negeri yang kaya akan beranekaragam kekayaan baik hasil bumi dan budayanya. Negeri ini adalah negeri yang rakyatnya berasal dari aneka ragam latar belakang agama, suku, ras, adat istiadat, bahasa, tempat tinggal, dan profesi, dan lainnya. Jadi, tidaklah mengherankan bahwa bangsa ini ada bangsa yang suku, bahasa daerah, dan pulau terbanyak di dunia.  Tentunya semua keanekaragaman ini patut diacungi jempol dan tetap dilestarikan keberadaannya dan mampu memupuk persatuan dan kesatuan di tengah-tengah bangsa ini. Persatuan dan kesatuan ini terbungkus dalam satu semboyan yang menjadi suatu ciri khas bangsa Indonesia yang kita sebut ‘Bhinneka Tunggal Ika’ artinya walaupun berbeda-beda tetapi tetap menjadi satu. Semboyan ini tentunya dilandasi oleh dasar negara ini yaitu ‘Pancasila’ dengan kelima sila yang terkandung di dalamnya.

              Tujuan dari kehadiran semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ dengan dasarnya Pancasila adalah untuk mencapai persatuan dan kesatuan di tengah-tengah bangsa yang pluralis dan heterogen ini. Diharapkan bahwa ini menjadi suatu dasar hidup yang akan membawa suatu kedamaian di antara setiap bagian di dalamnya. Tuhan yang Esa menciptakan setiap pribadi unik adanya dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tuhan tidak menciptakan manusia dengan kelompok-kelompok tertentu. Kitalah yang menciptakan kelompok-kelompok dan kelas-kelas itu sendiri menurut standart yang kita anggap tepat. Tuhan menciptakan kita sedemikian rupa berbeda dengan orang lain bukan untuk menghasilkan perpecahan tetapi sebagai sebuah jalan agar kita mampu melihat dan mensyukuri semua karya dan keagungan Tuhan. Keberagaman itu hadir untuk memberikan warna-warni yang indah dalam hidup ini. Jikalau Tuhan menciptakan semua manusia persis sama, pastilah hidup ini akan monoton dan tidak memberikan makna yang berarti bagi manusia itu sendiri.

              Alangkah indahnya hidup bermasyarakat di negeri ini jika kita mau membaharui diri lebih baik seperti dalam puisi Denny J.A yang berjudul ‘Berubah’

Aneka Bunga itu layu

Mereka dilarang mekar

Rintik hujan berabad-abad

Bisa mengubahnya menjadi taman

              Meski demikian yang menjadi harapan setiap orang, keberadaan diskriminasi di tengah-tengah bangsa ini tetap ada dan merupakan warna harian yang terus mewarnai perjalanan kehidupan negeri ini. Seluruh keberagaman yang ada baik latar belakang, suku, bahasa, dan lain sebagainya jelas masih melahirkan diskriminasi di tengah-tengah hidup bermasyarakat. Misalnya, konflik Poso, konflik antar kelompok suku, agama, dan lainnya masih merupakan sebagian potret kecil dari diskriminasi yang terjadi. Di bidang lain, kelas-kelas sosial masyarakat dengan status sosial dan ekonomi yang berbeda juga menumbuhkan diskriminasi lainnya menyangkut kepada bagaimana orang-orang diperlakukan menurut status sosial dan ekonominya dalam masyarakat. Bahkan, status pendidikan juga mampu memicu perpecahan dan diskriminasi.

              Bukankah kita lebih suka menonjolkan diri kita demi mendominasi sesuatu. Hal itu tidaklah baik karena setiap dari kita memiliki hak dan kewajiban yang sama. Namun kembali lagi diskriminasi terjadi seperti dalam puisi Denny J.A berjudul ‘Menyeragamkan (2)’

Merah, kuning, hijau, jingga

Warna pelangi yang setara

Tidak, ujar halilintar

Langit hanya untuk jingga

              Sebenarnya, setiap konflik yang muncul di tengah-tengah masyarakat bahkan di negeri ini, dimulai dari konflik kepentingan individu. Ketika kita mementingkan kepentingan kita di atas kepentingan umum sebagaimana harusnya sesuai dengan semboyan bangsa ini dengan dasar Pancasila maka konflik itu akan muncul dengan sendirinya. Kita tentu tidak ingin ada diskriminasi suatu kelompok terhadap kelompok tertentu, suatu kelompok yang kuat mendiskriminasi kelompok yang lemah.  Sebab setiap pribadi memiliki hak dan kewajiban yang sama di tengah-tengah bangsa ini.

              Jikalau kita berkaca diri dan menyadari setiap dampak yang akan terjadi, kita seharusnya tidak memicu timbulnya diskriminasi. Diskriminasi inilah yang akan melahirkan konflik yang pada akhirnya mengorbankan banyak hal sperti jiwa, materi, mental, bahkan nyawa manusia. Diskriminasilah juga yang akan menghambat pertumbuhan negeri ini. Diskriminasi muncul karena suatu kelompok mengklaim dirinya lebih besar dan lebih penting bahkan lebih berkuasa daripada kelompok lainnya. Kembali lagi stratifikasi sosial melahirkan perpecahan di tengah-tengah masyarakat itu sendiri. Jadi, ketika masih ada dominasi di dalamnya, maka diskriminasi akan tetap ada mewarnai hidup manusia.

              Jadi, apa yang akan kita katakan mengenai semua hal ini. Siapa yang akan membaharui bangsa ini. Siapa yang akan berjuang untuk meraih kembali persatuan dan kesatuan bangsa ini seperti lantunan semboyan bangsa kita ‘Bhinneka Tunggal Ika’ dalam keberagaman ini. Tidak ada jawaban lain selain daripada ‘diri kita sendiri’. Kita lah dengan diri kita sendiri yang harus memulainya. Memang setiap bagian dan elemen dari negara ini harus mengambil setiap bagian untuk memperjuangkan hal ini yang dengan susah payah dibangun oleh pendahulu bangsa kita ini. Mimpi yang mereka bangun sejak lama haruslah kita wujudkan sekarang.

              Mari melihat jauh ke dalam diri kita dan tanyakan sudahkah kita secara pribadi memperjuangkan kesatuan dalam keberagaman itu? Ataukah kita juga masih menjadi seseorang yang juga melakukan diskriminasi dalam porsi yang kecil. Tidak peduli kecil atau besar suatu diskriminasi yang kita lakukan atau suatu kelompok tertentu, itu tetaplah sebuah ‘diskriminasi’.

              Untuk mengatasi hal ini, kita sebagai masyarakat Indonesia harus kembali menyadari dan memaknai seperti apa upaya, mimpi, dan cita-cita pejuang dan para pendiri bangsa ini untuk memerdekakan bangsa ini tanpa memandang latar belakang masing-masing. Semangat patriotism dan nasionalisme harus kembali dipupuk di dalam diri kita masing-masing. Sense of belonging kita terhadap bangsa kita harus kembali digetarkan di dalam jiwa kita. Upaya ini dapat dilakukan dnegan menumbuhkan kembali sikap gotong royong yang mulai pudar. Sikap ini mengandung banyak nilai-nilai kehidupan seperti kerjasama tanpa pandang bulu dan rela berkorban. Di dalam semua hal ini, ada satu bagian yang terpenting yang tidak bisa lepas dari dalam hidup kita yaitu bagaimana kita menyadari bahwa segala sesuatu boleh terjadi karena perkenanan dari pada Tuhan yang Esa. Setiap orang boleh mereka-rekakan sesuatu namun Tuhan lah yang tetap berotoritas di dalamnya.

              Seperti yang tersirat dalam puisi oleh Denny J.A  yang berjudul ‘Kicauan Burung’

Laut memberi uap pada hujan

Hujan memberi air pada bunga

Bunga memberi cinta pada burung

Burung member kicauan, indahkan pagi

              Sebagai penutup sekaligus menjadi doa dan harapan bagi negeri ini, negeri tanpa diskriminasi kita boleh belajar dari satu hal yang sering kita lihat ‘PELANGI’. Tidak ada orang yang tak suka melihat benda ini karena keindahannya. Tetapi pernahkah kita menyadari bahwa PELANGI yang indah itu muncul dari warna-warna yang sangat berbeda dan PELANGI itu muncul setelah hujan berhenti. Pelangi itu terdiri dari tujuh warna yang berbeda yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Warna-warna itu tidak pernah bercampur dan tak pernah saling mengganggu. Juga kompsisi warnanya tidak pernah saling bertukar walaupun satu warna terletak di atas warna lain. Dan masing-masing juga tak pernah mendominasi. Namun justru karena itulah PELANGI terlihat indah.

              Analoginya dengan kehidupan bangsa kita adalah bahwa setiap individu dan masyarakat sudah memiliki IDENTITAS masing-masing sebagai jati diri mereka dan kita tidak perlu mengubah indentitas kita untuk menjadi orang lain karena kita tetap Bangsa Indoesia. Sama halnya dengan pelangi warna merah tidak perlu berubah menjadi warna hijau untuk menjadi pelangi karena mereka tetap bagian dari pelangi itu sendiri. Mereka adalah pelangi itu sendiri dan kita juga adalah bangsa Indonesia sendiri.

              Pelangi selalu muncul setelah hujan datang, artinya bahwa tidak ada bangsa yang tidak memiliki problema. Namun ketika pelangi hadir problema itu menyusur sirna. Jadi, kesatuan dalam keberagaman itu juga ibarat pelangi yang mampu menyirnakan diskriminasi di tengah-tengah bangsa kita.

              Warna-warna pelangi mengajarkan kita agar selalu bersikap arif dan bijak dalam menghadapi perbedaan. Sebab keindahan warna yang muncul sebagai akibat pertemuan antara sinar matahari dan hujan rintik. Secara alamiah, Tuhan juga menciptakan manusia secara berbeda-beda juga sesuai dengan pemahaman masing-masing. Namun dalam sebuah bangsa, satu hal yang sangat penting untuk dijag adalah “KEHARMONISAN” demi tercapainya tujuan bersama. Jikalau pelangi takkan indah jika hanya terdiri dari satu warna dan itu bukan pelangi, maka kita juga tidak akan harmonis jika di dalam keberagaman tidak ada kesatuan dan itu bukan Indonesia kita.

             

 

              Tuhan menciptakan setiap pribadi secara unik dan spesial. Bahkan sidik jari pun tidak ada yang sama. Jadi, jangan sekali-kali kita memaksa orang lain untuk menjadi sama dengan kita  atau menganggp mereka musuh kita tetapi berpikirlah bahwa setiap orang punya jati diri mereka masing-masing. Belajar untuk menerima diri orang lain apa adanya dan menyadari bahwa setiap hal merupakan awal dari sebuah proses dinamis menuju hal yang lebih baik.

              Aku merindukan Indonesiaku tanpa diskriminasi. Bagaimana denganmu?

              Bagaimana aku harus memulainya? Mulai dari mu sendiri, ya dirimu dan sekarang lah waktunya.

  • view 208