Indonesia Layak Diperjuangkan

Nurya Auris
Karya Nurya Auris Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 Agustus 2016
Indonesia Layak Diperjuangkan

Pagi ini ada sedikit kesedihan di hati saya,
Bermula dari obrolan dengan sahabat saya yang sudah 10 tahun tinggal di negara "super power" membahas tentang perayaan 17 Agustus.
 
Saya tanya, "Lu besok gak ke embassy? ikut upacara gih, makan-makan juga kan biasanya di embassy"
 
Dia menjawab, "Males ah, makan-makan juga gak gratis kali, orang Indo (maksudnya Indonesia) parah gila, jual makanan harganya malah lebih mahal"
 
saya ketawa aja, ya memang sifat "memanfaatkan situasi" atau "aji mumpung" itu sangat lekat dengan beberapa orang Indonesia yang berada di luar negeri, jadi ketika ada momen tertentu berbau ke-Indonesia-an mereka akan berusaha mencari keuntungan dari itu. Saya juga pernah merasakannya saat bekerja di negara lain beberapa tahun lalu. Tapi saya pikir bukankah kita semua senang memanfaatkan situasi jika itu memang menguntungkan? Dan saya rasa bukan hanya orang Indonesia saja yang seperti itu.
 
Lalu obrolan berlanjut dan saya bertanya dengan nada bercanda tapi sebenarnya saya serius dengan pertanyaan ini, "Tapi lu masih cinta kan dengan Indonesia?"
 
Selanjutnya jawabannya bikin saya sedih.
 
Dia bilang,"Enggak, Indo parah, korupsi dimana-mana"
Trus saya menyahut, "iya memang banyak orang Indonesia yang buruk, tapi kan gak semua, gue yakin Indonesia bisa diperbaiki.." belum selesai saya memberi argumen dia menimpai, "Oh hell no, Indo negaranya parah.."
 
Saya lalu bertanya, "kenapa lu gak ngajuin greencard (Green Card merupakan proses imigrasi untuk menjadi warga negara Amerika) ?"
 
dia menjawab dengan nada putus asa, "keluarga gue di Indo semua, and it takes forever untuk ngurus itu dan belum tentu disetujui..salah2 malah jadi tahanan negara.."
 
Saya tidak menyalahkan teman saya, tapi saya jadi kasihan dengan teman saya, dia sudah tidak mencintai negaranya, tapi dia tidak bisa berbuat apa2, dia menjadi warga negara Indonesia dengan "terpaksa", sedangkan kekagumannya ternyata untuk negara lain yang belum tentu menerimanya. (semacam dipaksa untuk terus bersama dengan seseorang yang tidak kita cintai, tapi orang yang dia cintai juga belum tentu membalas cinta dia :D )
 
Dan pengakuan teman saya pagi ini, berhasil membuat saya mempertanyakan kembali apa sih Nasionalisme itu? Seberapa cintanya saya dengan negara Indonesia? apakah saya juga "terpaksa" menjadi Indonesia?
 
Jujur, saya pun pernah tergiur menjadi warga negara lain. Lalu sebuah kesadaran muncul ketika tiba-tiba terbersit pikiran
"Jika.. Jika semua orang Indonesia memilih untuk menjadi warga negara lain karena kecewa dengan negaranya, lalu siapa yang akan melakukan perubahan?"
 
Bukankah perasaan kecewa itu timbul karena kita ingin sesuatu yang mengecewakan itu dirubah menjadi lebih baik agar kelak tidak mengecewakan lagi?
 
Jika demikian bukankah hanya kita yang kecewa yang tau bagaimana seharusnya merubah sesuatu agar tidak mengecewakan lagi?
 
Lalu jika semua orang yang kecewa dengan "Indonesia" yang saat ini, pergi begitu saja meninggalkannya, bagaimana bisa "Indonesia" memperbaiki dirinya?
 
Siang ini, saya merenungi kembali obrolan saya dengan sahabat saya. Saya menemukan satu kesimpulan, bahwa sebenarnya bukan Indonesia yang mengecewakan, tapi mereka yang diberi wewenang "mengelola" Indonesia lah yang belum mengerti hakikat kebaikan. Seandainya mereka semua memiliki satu visi dan misi yang sama yaitu kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia, maka mungkin mereka tidak sempat berpikir untuk korupsi.
 
Memang saat ini, Indonesia masih banyak kekurangan, korupsi, ketidakadilan, ketidakpastian di mana-mana. Indonesia belum bisa mewujudkan apa yang dulu menjadi cita-cita para proklamator yaitu untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945.
 
Memang Indonesia masih jauh dari sempurna, tapi Indonesia layak di beri kesempatan untuk memperbaiki diri, dan Indonesia layak diperjuangkan*, dan tugas kita yang "kecewa" dengan Indonesia lah yang wajib memperjuangkannya.
 
16.08.2016
 
#DirgahayuNegeriku #KamiPutradanPutriIndonesia #BanggamenjadiIndonesia

  • view 195