Ketika Niat Puasa Kami Diragukan

Nurya Auris
Karya Nurya Auris Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Juni 2016
Ketika Niat Puasa Kami Diragukan

Kok saya sedih ya baca berita di beberapa daerah satpol PP razia warung yang masih buka di siang hari selama Ramadhan dengan alasan tidak menghormati yang berpuasa.

Pengen banget bilang sama para Satpol PP untuk belajar lagi tentang islam, biar mereka tau bahwa islam itu agama dengan penuh toleransi. Bahwa muslim yang baik tidak perlu dihormati oleh mereka yang tidak berpuasa, justru muslim yang baik itu menghormati mereka yang tidak berpuasa.
Bukankah sesungguhnya puasa itu adalah satu-satunya ibadah yang hanya Allah saja yang tau, apakah puasanya itu baik atau tidak, diterima atau tidak?

Atau mungkin seharusnya Presiden Joko Widodo menginstruksikan ke seluruh gubernur di Indonesia untuk tidak merazia warung-warung yang berjualan siang hari saat Ramadhan? Karena ini Indonesia, ada lima agama yang diakui oleh undang2. diantara lima agama itu ada empat agama yang tidak berpuasa saat Ramadhan. Lalu apakah mereka yang bukan Islam dan tidak berpuasa itu harus menanggung akibat dari Puasanya orang Islam?

Bahkan yang beragama islam pun ada keringanan untuk tidak berpuasa seperti misalnya wanita yang sedang haid, orang yang sedang sakit, dan orang yang ada uzur. Apakah mereka tidak boleh bergantung dengan warung makanan di siang hari?

Dan bukankah ini negara Bhinneka Tunggal Ika, yang menghormati perbedaan?
bukankah Gus Dur (kyai dan mantan Presiden yang dihormati seluruh lapisan rakyat Indonesia) juga pernah bilang "islam tidak membuatmu menjadi Arab, dan mengganti saya menjadi ana, kamu menjadi antum"??

Saya sedih, dan jujur saya malah tersinggung dengan razia itu. kenapa?? Karena dengan mereka merazia warung-warung yang jualan di siang hari saat Ramadhan sama saja seperti mereka meremehkan "Niat Puasa" saya, mereka menganggap saya bakal tergoda dengan sepiring nasi plus sayur asem dan telor dadar, lalu membatalkan puasa.

Duh Pak satpol PP...saya bukan anak kecil yang dengan mudah berbuka saat beduk Dzuhur. saya ini manusia tua (mau nulis dewasa tapi ko ndak yakin saya dewasa) yang bakal malu kalau membatalkan puasa disiang bolong karena liat orang jual es kelapa muda dipinggir jalan. saya juga bakal malu sama yang ngatain saya jomblo akut yang sudah terlalu lama sendiri, karena mereka bakal bilang "dikatain jomblo bertahun-tahun aja kuat, masa puasa ndak makan 12 jam aja gak kuat?".

saya tidak tersinggung dengan mereka yang ngatain saya jomblo (lha wong kenyataan kok :D.), tapi saya tersinggung dengan njenengan-njenengan yang seenak udelnya bertindak mewakili kami yang puasa dengan niat, karena gara-gara tindakan njenengan-njenengan itu kami (yang puasa dengan niat) dianggap manja dan tidak mampu menjaga niat kami.

Saya juga membaca di media sosial komentar para satpol PP yang berdalih bahwa mereka hanya menjalankan tugas. Pak setahu saya melaksanakan tugas itu bisa dengan menggunakan hati nurani, dengan kebijakan (jika njenengan-njenengan bijak), misal para pedagang cukup di peringatkan, toh saya liat di televisi warung si ibu sudah di tutupin horden, kenapa pula makanannya disita?

Ya Allah, saya ndak tau sejak kapan njenengan-njenengan itu berubah jadi asisten nya Yang Maha Menilai, ketika njenengan-njenengan dengan pede dan arogannya menyita dagangan pemilik warung makan, seolah orang yang jualan makanan di siang hari itu penggoda iman manusia yang berpuasa. Lha kok dipadakke setan. Setan itu gak perlu jualan es dawet atau nasi padang tapi dia tetap bisa kok bikin orang yang (pura-pura) puasa jadi batal puasanya hanya karena liat paha mulusnya mbak-mbak cherrybelle. Apa ndak sekalian saja itu mbak-mbak yang pake rok mini atau celana gemes di bulan puasa di razia?? Kan yang mbatalin puasa itu bukan sekedar mulut yang kelamutan makanan saja, tapi juga mata, mulut, dan sikap yang tak terjaga. iya apa iya??

Jadi untuk Bapak-bapak yang berwenang mengeluarkan perda "Penutupan Warung Makan Di siang Hari Selama Ramadhan", mohon untuk dipikirkan lagi nggih perdanya, saya tersinggung berat lho ini, apa njenengan mau lomba kuat-kuatan puasa di depan orang makan nasi padang dan es degan? Biar njenengan yakin gitu kalau niat puasa kami ndak main-main?

yo weslah gitu aja..
kalau kepanjangan nulisnya saya takut nanti capek terus malah beli es campur.

  • view 134