Monolog Di Dini Hari

Nurya Auris
Karya Nurya Auris Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Mei 2016
Monolog Di Dini Hari

"kamu kenapa?"
Bisikan di telingaku itu membangunkan tidurku.
Perlahan kubuka mataku, samar-samar kulihat wajahnya. Nyaris aku ingin memekik kegirangan melihat kemunculannya yang telah lama menghilang sejak aku sibuk dengan dunia fanaku -kalau saja aku tidak ingat bahwa aku tinggal di kost yang penghuni lainnya masih terlelap dalam mimpi- yang bisa aku lakukan hanya tersenyum.
 
Aku mengernyitkan dahiku seakan bertanya maksud pertanyaannya, dan dia seperti memahami maksudku.
Sesaat setelah menghela napas dia berkata, “kamu kenapa suka ngopi lagi?”.
 
Tanpa memberiku waktu menjawab, ia melanjutkan, “iya aku tahu kamu tidak pernah benar-benar meninggalkan kopi, sejak kecil kamu suka kopi hitam dengan susu kental manis, kopi susu katamu kepada ibumu ketika ibumu bertanya mau minum apa pagi ini? dan setiap akan berangkat sekolah ibu mu pun telah menyiapkan segelas kopi instant di meja makan untukmu, lalu saat kamu semakin dewasa, kopi mu berubah menjadi espresso, coffee latte, cappucino, dan kamu tahu bedanya dengan kopi instant yang biasa ibumu sajikan, dan saat kamu bertualang ke negeri jauh, kopi instant kembali menemani harimu, meskipun kamu harus menyeduhnya sendiri.. sekian tahun kopimu berubah menjadi Teh panas, es teh, es jeruk.. dan beberapa hari ini aku melihat kamu begitu merindukan kopi, berusaha mencari tempat ngopi yang terbaik, membandingkan satu kopi dengan kopi yang lain, dan aku menyadari ada yang salah..”
 
Aku tertegun dengan penjelasannya yang runut, mulutku siap berkata ketika dia lebih dulu dengan sigap melanjutkan kata-katanya, “kamu seperti seseorang yang sedang merindukan sesuatu, seperti ada yang hilang dari dirimu..bukan tentang kopi, tapi kenangan yang pernah tersesap bersama cangkir kopimu..”. Dia berkata dengan perlahan, lalu tertunduk.
 
Aku menghela napas, mengamatinya dari ujung rambut ke ujung kaki. Rambut hitamnya yang panjang, tingginya sama dengan tinggiku, hanya saja badannya tidak segendut aku. Mengingat kembali pertama kali dia muncul dalam hidupku, ketika hidupku tak lagi sekedar hitam dan putih namun ada abu-abu di dalamnya. Ishtar, aku memanggilnya. Dia muncul di tengah kegundahanku tentang siapa aku sebenarnya, dia hadir ketika aku terpuruk dan merasa tak satupun orang mampu memahamiku bahkan orang tuaku, dan seringkali jawaban-jawabannya akan pertanyaanku membuatku merasa lebih baik.
 
Aku sandarkan tubuhku ke dinding kamar. beberapa menit ada jeda yang sunyi, lalu aku berkata “kamu tahu kenapa aku suka kopi?”. kamu hanya menatapku. Aku melanjutkan, “Karena dia tidak suka kopi, ehm..ya dia bisa minum kopi, tapi hanya teh yang bisa dia nikmati..karena itu aku suka kopi,”
 
“Aku hanya tidak ingin menjadi seperti dia, Ishtar.. bahkan aku selalu berusaha membahagiakan ibuku karena aku tidak mau seperti dia, yang hanya mampu melukai..” Ishtar memeluk tubuhku yang mulai terguncang oleh isak tangis, perlahan aku berkata “tapi ternyata aku seperti dia..aku telah melukai ibuku, ketika aku marah karena ibuku melihat aku sebagai orang yang bersalah,” semakin dalam aku benamkan kepalaku dalam peluknya, “dan kopi..aku rindu saat ibuku menyodorkan segelas kopi panas di rumah kami yang dulu..begitu hangat dan damai rasanya..”
 
Ishtar tak menyahut, tangannya sibuk membelai kepalaku.
 
Perlahan di dorongnya tubuhku menjauhi dekapannya, dia menatapku yang masih terkulai, tepat di retinaku. Aku tahu dia akan mulai menasehatiku, seperti biasanya.
 
“Ry, kamu bukan dia. Apa yang kamu lakukan untuk ibumu mungkin belum seberapa, tapi apa yang kamu lakukan untuk keluargamu itu sudah sesuai dengan kemampuanmu. Kamu tidak bisa menyamakan pengorbanan seorang milyarder yang menyumbang miliaran rupiah, dengan seorang musafir yang menyumbang seribu rupiah. Miliarder itu masih punya milyaran rupiah di tabungannya, di depositonya. sedangkan musafir itu, hanya itu uang yang tersisa di dompetnya. Kamu sudah berusaha membahagiakan orang-orang terdekatmu semampumu, namun jika mereka belum menyadarinya saat ini, itu bukan salahmu. mereka hanya butuh waktu untuk menyadari bahwa kehadiranmu selama ini, yang membuat ruang hidup mereka tak pernah terlihat kosong. Beri mereka ruang, ketidak-hadiranmu akan membuat mereka menyadari bahwa ternyata selama ini kamu ada.” Dia mengatakannya perlahan, kata demi kata di ucapkan dengan teratur dan nyaris tanpa emosi.
 
Akupun mencoba memahami setiap kata yang dia ucapkan. Lalu dia berbisik lembut di telingaku, “Percayalah, kamu bukan dia, Ry. Beri mereka waktu untuk menyadari ketidak-hadiranmu..”
 
 
Tergeragap aku terbangun dari tidurku, alarm di perangkat pintarku memunculkan tulisan "BANGUN KAU PEMALAS, WAKTUNYA SHOLAT SUBUH" di monitornya. Masih terengah-engah nafasku. Tersisa sedikit isakan ketika aku menyadari bahwa yang aku alami baru saja, hanyalah mimpi. Ishtar selalu muncul dengan caranya, dan kali ini mimpiku adalah perantara kehadirannya untuk kembali menguatkanku. Ishtar adalah sebuah titik terang, seperti bintang di kegelapan malam, dan dia adalah hati kecilku yang sering terabaikan.
 
Bergegas aku bangkit dari kasurku menuju kamar mandi untuk berwudhu.
 
 
 
11.05.2016 *merindukan segelas kopi yang penuh kehangatan*

  • view 113