Siapa teroris sebenarnya?

rumah musim hangat
Karya rumah musim hangat Kategori Lainnya
dipublikasikan 05 Februari 2016
Siapa teroris sebenarnya?

?

Ini film yang dibintangi Liam Neeson, salah satu aktor favorit saya. Tidak sengaja saya dan Gita menonton film ini sambil menunggu serial The Big Bang Theory yang sekarang tayang lebih malam.

?

Bercerita tentang seorang Polisi Lintas Udara yang memiliki masalah kepribadian semenjak ditinggal mati anak perempuannya. Ia terjebak dalam sebuah penerbangan komersial yang telah dipasangi bom oleh sekelompok teroris. Akhir cerita, setelah alur laga yang kurang lebih sama seperti tipikal film pembajakan pesawat pada umumnya, sang polisi berhasil mendarat dengan selamat.

?

Dalam film ini, ada karakter seorang dokter muslim. Ia menggunakan jenggot dan peci putih sebagai penanda khas seorang muslim. Si dokter adalah salah satu penumpang pesawat tersebut. Saya dan Gita yang terbiasa menyaksikan produk film/serial Amerika yang kerap menyudutkan kelompok Islam mulai deg-deg-an saat tokoh ini muncul. Alhamdulillah, dalam alur cerita, sang dokter bukan teroris sama sekali. Ia justru berperan besar dalam usaha penyelamatan para penumpang yang terluka. Ya Allah, betapa inferior dan insecure-nya kami di hadapan produk layar kaca Barat ini sebagai seorang muslim. Tapi untunglah, tidak ada tendensi negatif yang disematkan pada tokoh berkarakter muslim tersebut.

?

Yang menarik dari film ini adalah para pelaku teroris itu sendiri yang ternyata adalah mantan para tentara sukarelawan invasi Afghanistan dan Irak era 2000-an. Mereka adalah para kerabat korban serangan Black September yang meluluhlantakkan gedung kembar WTC di New York. Kebencian dan dendam mereka terhadap pelaku teror tersebut menggiring mereka untuk berangkat bersama pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat ke Afghanistan dan Irak. Namun, setelah invasi berakhir, mereka sadar kalau apa yang telah mereka perbuat adalah sebuah kesalahan. Mereka sadar kalau mereka telah menjadi teroris itu sendiri yang telah menghancurkan kehidupan rakyat sipil Afghanistan dan Irak sampai kedua negara itu menuju negara gagal (failed state). Ditambah lagi, mereka tahu kalau serangan teror di New York itu adalah operasi yang melibatkan orang dalam gedung putih (internal job).

?

Pada titik balik kesadaran itulah, mereka menjadi sosiopat yang berusaha membalas kebijakan teror Amerika Serikat terhadap warga negara mereka sendiri. Beberapa orang di antara mereka memiliki motif ekonomi di luar motif balas dendam yang pada akhirnya menyebabkan kisruh di antara mereka sendiri dan berujung pada gagalnya aksi teror mereka.

?

Kalau tidak ada plot mengenai motif para pelaku teror tersebut, niscaya film ini tak ubahnya seperti Die Hard 2 atau Air Force One. Sayang, plot ini hanya sebuah skenario film. Seandainya benar terjadi sebuah percobaan atau aksi teror dengan motif seperti itu, konstelasi dunia hari ini pasti sangat berbeda. Yang jamak diketahui adalah, para mantan tentara yang pulang dari medan perang Timur Tengah berakhir sebagai pasien rumah sakit jiwa, pengangguran, bahkan pelaku kriminal skala kampung di lingkungan mereka. Biasanya keluhan mereka seputar mimpi buruk dan trauma yang tak kunjung hilang sejak mereka dipulangkan. Beberapa dari mereka yang waras dan menyesal biasanya menggalang aksi sosial atau simpatik dengan agenda menentang kebijakan perang. Ada juga yang membuat semacam ritual ?membuang? medali yang mereka dapatkan ketika pulang perang.

?

Yah, apa pun itu, menyesal memang adanya di belakang. Dan tentu saja, penyesalan tidak membuat manusia-manusia yang hangus terpanggang bom bisa hidup kembali. Bom yang dulu mereka beri nama ?enduring freedom? untuk Afghanistan dan ?Iraqi freedom? untuk Irak. Freedom, hah?

  • view 134