BANTI, DESA KECIL DI TENGAH GEMERLAP “KOTA BESAR”

Rudi Nurcahyo
Karya Rudi Nurcahyo Kategori Budaya
dipublikasikan 28 Februari 2017
BANTI, DESA KECIL DI TENGAH GEMERLAP “KOTA BESAR”

Raksasa pertambangan Freeport membawa perubahan sangat besar pada alam kehidupan masyarakat Irian Jaya. Namun ada satu penduduk di desa kecil yang masih bertahan dengan sifat dan ciri asli suku Amungme, yakni Desa Banti. Kendati mereka tak disukai karena enggan b eradaptasi, acap pula terlibat dalam peperangan antarsuku, Rudi Nurcahyo yang berkunjung pada akhir Desember tahun lalu, merasakan keramahan dan ketulusannya.

 


Honai beratap plastik.

Welcome to Banti – Selamat Datang di Desa Banti”, demikian papan nama yang menyambut pendatang tepat di seberang jembatan besi kokoh yang menyeberangi Sungai Aikwa. Di dekat papan nama tersebut tampak dua wanita setengah baya penduduk setempat, yang duduk di batu kali besar dan tengah menyulam noken, sejenis tas terbuat dari akar tumbuhan/rotan. Keduanya tidak terlalu peduli dan tampak biasa-biasa saja dengan kehadiran pendatang. Mereka mengenakan pakaian seperti layaknya wanita muda di pedesaan pada umumnya di Indonesia, dan tampak cukup bersih dan rapi.

Di kejauhan, sekumpulan orang menggerombol di beberapa tempat, sambil melakukan tawar- menawar harga. Di hari pasar, berbagai barang kebutuhan sehari-hari dijual dan dipertukarkan. Pada umumnya mereka sudah menggunakan uang tukar resmi (Rupiah) sebagai alat jual-beli, tidak lagi menggunakan sistem barter. Namun barang-barang yang dijual masih sangat terbatas, seperti: makanan pokok; petatas, keladi, umbi-umbian, minyak goreng, sayur-mayur, alat jahit-menjahit sederhana, dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari lainnya seperti garam, sabun, bahkan rokok.

Tampaknya saat ini budaya barter maupun alat tukar eral sudah tidak pernah lagi digunakan oleh sebagian besar suku Amungme yang tinggal di perkotaan atau berdampingan dengan budaya kota seperti desa Banti, misalnya. Ini berbeda dengan masyarakat suku Amungme yang tinggal di pedalaman bagian Utara, yakni di daerah pegunungan. Mereka masih menggunakan eral.

Eral sendiri adalah sistem tukar – menukar barang dengan alat tukar sah yang diakui masyarakat Amungme, berupa kulit bia (siput). Kulit bia ini diperoleh dengan tukar-menukar barang dengan masyarakat yang tinggal di pantai. Setelah kulit bia diperoleh, mereka membawa pulang ke tempat tinggalnya di pedalaman dan membentuknya menjadi alat tukar suku.

Tombak untuk Freeport
Magaboarat Negel Jombei – Peibei (tanah leluhur yang sangat mereka hormati, sumber penghidupan mereka), demikian suku Amungme menyebut tanah leluhur tempat tinggal mereka. Suku Amungme tinggal berpencar di beberapa lembah luas di antara gunung-gunung yang tinggi: Lembah Stjinggah, Lembah Oea, dan Lembah Noema. Selain itu ada pula lembah-lembah kecil seperti Lembah Bella, Alama, Anoa, dan Wa. Sebagian lagi tinggal di Lembah Beoga ( mereka disebut suku Damat, sesuai panggilan suku Dani). Ada juga yang tinggal di Agimugah dan Timika.

Masyarakat Irian Jaya sebagian besar hidup di lembah-lembah pegununungan bagian tengah. Masyarakat ini terbagi dalam suku – suku yang dapat dibagi dalam empat kelompok menurut tempat kediamannya, yaitu: di sebelah utara pegunungan bagian tengah didiami oleh suku – suku Damal, Dani, dan Delem. Di sebelah selatan pegunungan bagian tengah didiami oleh suku – suku Amungme dan Nduga. Dan di sebelah timur pegunungan bagian tengah didiami oleh suku-suku Nduga, Kupel, dan Ngalum. Di sebelah barat pegunungan bagian tengah didiami oleh suku-suku Moni dan Ekagi. Sedangkan lebih ke selatan dari pegunungan bagian tengah, yang mendiami pesisir pantai selatan Irian Jaya, adalah suku Komoro.


Penulis bersama penduduk setempat.

“Sejak awal datangnya Freeport ke daerah suku Amungme di akhir tahun 1960-an, suku Amungme telah menyatakan ketidaksetujuannya. Berbagai cara ketidaksetujuan telah mereka ungkapkan, antara lain dengan menancapkan tombak dan anak panah di lokasi pertambangan, lokasi perumahan di Tembagapura, blokir jalan konstruksi untuk perumahan di Kuala Kencana, bahkan sampai meledakkan pipa penyalur konsentrat tembaga, telah dilakukan suku Amungme…,” demikian salah satu cuplikan tulisan Tom Beanal dalam bukunya, Amungme.

Tom Beanal sendiri adalah salah seorang kepala suku Amungme yang sempat mengalami pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi di Jayapura. Ia sempat pula menjadi anggota DPRD Tingkat II Kabupaten Fak-fak periode 1971 – 1982. Kini Tom Beanal masih dipercaya masyarakat sebagai Ketua Lembaga Masyarakat Adat Amungme (LEMASA).

Makan pinang
Namun di lain sisi, kini banyak di antara penduduk yang telah menjadi karyawan PT Freeport Indonesia, menikmati dan merasakan “sebagian” kekayaan alam milik mereka sendiri. Kondisi inilah yang semakin membuat jarak antara para penduduk yang telah bekerja di perusahaan dengan yang masih harus bergelut dalam keseharian tradisi mencari kerja masyarakat asli; bertani maupun berkebun.

Desa Banti sendiri, merupakan salah satu desa asli pemukiman suku Amungme yang sampai sekarang masih bertahan. Mata pencaharian warganya adalah bertani, bercocok tanam, ternah, dan berburu. Sebagian dari mereka ada yang berjualan kecil-kecilan di sekitar permukiman dan pusat belanja di Tembagapura. Mereka sebagian besar menjual sayur-mayur hasil kebun. Selain itu ada pula yang berjualan pisang, ubi/singkong, labu, maupun petatas. Banyak pula yang berjualan buah pinang, yang banyak dikonsumsi masyarakat Irian yang bekerja di Freeport. Mereka memakan buah pinang sebagai semacam kebiasaan mengunyah sirih orang-orang tua di Pulau Jawa.

Anak – anak sering ke Tembagapura, baik menemani orang tua mereka berjualan, ataupun sekadar untuk bermain-main. Tembagapura – lokasi permukiman utama PT. Freeport Indonesia – menjadi semacam hiburan tersendiri bagi anak-anak kecil. Bukan saja anak-anak, namun juga para remaja atau pemuda yang belum bekerja, banyak pula yang bermain ke Tembagapura. Mereka sering kali memanfaatkan fasilitas umum yang disediakan perusahaan seperti bermain voli, sepak bola, ataupun menonton pertunjukkan film yang memang diputar secara berkala di salah satu gedung di Tembagapura.

Banti, desa kecil yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Mimika Timur, terletak sekitar 4 km dari pusat kegiatan tambang PT. Freeport Indonesia, sebuah perusahaan tambang emas dan tembaga raksasa. Lokasinya jika ditempuh dengan kendaraan hanya sekitar 20 menit. Medan yang berbatu dan jalur yang mengalami pengerasan jalan, tampak cukup “nyaman” untuk sebuah perjalanan ke salah satu daerah pedalaman tempat menetapnya suku Amungme. Menurut catatan Kantor Kecamaatan Mimika Baru, penduduk Banti/Waa – sebuah desa kecil lainnya dekat dengan Banti – penduduknya terdiri atas 112 Kepala Keluarga yang berjumlah lebih dari 823 jiwa.

Honai beratap plastik
Banti berada di sekitar hutan lebat Irian Jaya. Sebagian besar wilayah hutan tersebut ditutupi oleh berbagai jenis flora yang tumbuh lebat dan ditemukan banyak jenis pepohonan. Terdapat juga berbagai jenis fauna seperti babi hutan, burung kasuari, burung mambruk, kakaktua, dll. Menurut Ronald G. Petocz, di wilayah hutan Irian tersebut terdapat 123 jenis mamalia dari 154 jenis mamalia yang dike nal di Pulau Irian. Selain itu juga menyimpan 411 jenis burung dari 639 jenis burung yang ada.

Sebagian kecil dari penduduk mata pencahariannya berburu, walaupun sudah menjadi aktivitas tradisional karena banyak di antara mereka yang sudah bekerja di kota sebagai pedagang ataupun di PT. Freeport. Cara mereka berburu dengan menggunakan tombak dan panah. Kadang mereka membawa anjing peliharaan. Tempat berburu mereka di seberang Sungai Aikwa yang masih berupa hutan dan sudah resmi masuk menjadi bagian dari Taman Nasional Lorentz. Namun mereka tidak terlalu mengerti atau peduli karena mereka beranggapan bahwa wilayah tersebut adalah daerah perburuan mereka sejak dahulu.


Belajar perang-perangan.

Di antara lembah-lembah besar; Lembah Stjinggah, Lembah Oea, dan Lembah Noema, perumahan penduduk asli Amungme di Banti, tampak berjejer memenuhi lereng-lereng. Honai – rumah asli mereka – yang dahulu atapnya terbuat dari ilalang, kini telah berganti rupa; ter buat dari plastik-plastik bekas yang sudah tak terpakai yang banyak dijumpai di perusahaan Freeport. Walaupun bentuk dan ruangnya masih asli, berbentuk melingkar seperti kubah, namun jelas sekali pengaruh peradaban modern telah masuk ke dalam budaya tradisi mereka.

Penduduk suku Amungme tidak bermukim pada lingkungan yang homogen yang berdasarkan norma-norma dan nilai-nilai tradisionalnya saja, tetapi majemuk, berdasarkan tata cara kota, sehingga dalam kegiatan sehari-hari mereka dituntut untuk dapat bertahan hidup, menyesuaikan diri dengan perkembangan yang selalu membawa perubahan bagi tata cara hidup mereka.

Belajar perang-perangan
Sebenarnya kampung halaman suku Amungme adalah di sebelah Utara dan Selatan G. Carstensz. Namun karena ajakan para misionaris katoli k pada tahun 1954 yang dipimpin oleh pastor Michael Cammerer dengan dibantu penduduk lokal bernama Moses Kilangin dan pemerintah dae rah (Belanda), mereka pindah ke daerah pesisir, di wilayah Kec. Akimuga. Hal ini disebabkan karena proses penyebaran agama dan pelay anan terhadap masyarakat Amungme tidak mungkin dilakukan di daerah pegunungan.

Ada pula penduduk suku Amungme yang tinggal di Timika karena proses resettlement (permukiman kembali) oleh PT. Freeport. Selain itu adanya larangan membuka perkampungan di dekat lokasi penambangan menyebabkan mereka bermigrasi ke Timika sebagai alternatif mendapatkan pekerjaan. Penduduk suku Amungme tersebut, khususnya yang berasal dari Pegunungan Jayawijaya, telah mendapatkan fasilitas perumahan serta lahan perkebunan dari PT. Freeport. Namun kini banyak pula di antara mereka yang akhirnya memilih tetap tinggal di kampung-kampung di sekitar pertambangan, yakni di Kampung Waa, Tsinga, Arwandop, dan juga termasuk Banti.

Di Banti, selain honai-honai tampak pula berdampingan perumahan desa yang dibuat oleh perusahaan, khusus untuk masyarakat pribumi, tentunya dengan desain sebagaimana layaknya perumahan di desa-desa Indonesia pada umumnya, terbuat dari papan, dan memiliki ventilasi yang memadai.

Sebagian besar dari mereka sudah mengenakan pakaian lengkap. Hanya satu dua orang tua yang terkadang masih bertelanjang dan mengenakan koteka (alat penutup alat kelamin pria, terbuat dari buah labu yang dikeringkan). Di antaranya Digaki Biwingme, salah seorang sesepuh suku berusia sekitar 60-an tahun.

“Nama Om siapa?”, tanya seorang bocah berumur 8 tahun, yang ternyata bernama Zonio, kepada saya. Begitu lincah dan ekspresif, langsung dia menawarkan diri untuk mengajak ke tempat tinggalnya di ujung sebuah bukit. Zonio lantas menggandeng dan “menuntun” saya meniti pematang, mendaki bukit, dan menyeberang sungai bak seorang pemandu wisata profesional.

Sambil berjalan, Zonio bercerita tentang perumahan, makanan sehari-hari, binatang babi peliharaan keluarga yang kandangnya bersebelahan dengan tempat tinggal mereka, sampai masalah perang antarsuku. “Waktu dulu, Zaper panah anak ini sampai matanya buta”, demikian tutur Zonio dengan enteng tentang pengalamannya main “perang – perangan” dengan teman sebaya, dalam bahasa Indonesia yang cukup lancar.

Ketika dia bertemu dengan kawannya, segera dia mengajak untuk bersama-sama “menuntun” saya. Mereka bertiga; Zonio, Zoni dan Zaper, bocah kecil, lugu dan penuh harapan dari Desa Banti.

Dengan bertelanjang kaki, mereka bertiga lincah berloncatan melewati pematang sempit dan titian jembatan terbuat dari bambu. “Saya sedang tunggu saya punya paman dari Jayapura, nanti paman kasih saya sekolah,” jelas Zoni – bocah yang paling besar – ketika saya menanyakan kenapa tidak sekolah.

Sebelum berpisah, Zaper menghadiahkan sebuah panah hasil karya sendiri kepada saya sebagai kenang-kenangan.

diterbitkan di intisari : Februari 1999

  • view 189