Saat kita duduk berdua

Ruang Rasa
Karya Ruang Rasa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 Oktober 2017
Saat kita duduk berdua

Saat kita duduk berdua, saat kita bersama, kita tidak pernah membicarakan tentang kita. Tentang bagaimana yang kau rasa. Tentang bagaimana yang ku rasa. Karena kita memang hanya teman biasa. Namun jauh di lubuk hati sesungguhnya kita ingin menjadikan hubungan ini menjadi tidak sekedar hubungan teman biasa.

(Ruang Rasa, Aha Anwar)

 

Sampai kapan aku harus membalik badan dan berpura-pura pergi?! Apakah sampai kamu datang menghampiri? Ataukah sampai kita sama-sama sudah terlampau jauh dan tak lagi mungkin balik badan melangkah kembali.

(Aha Anwar)

 

Kamu hanya perlu duduk diam mendengarkan saat aku marah padamu. Kamu boleh tidak setuju pernyataanku, tapi simpan saja di hatimu. Kamu boleh juga tidak melakukan apa yang ku perintahkan, tapi nanti setelah kemudian. Saat aku masih marah, pura-puralah setuju dan pura-puralah melakukan apa yang ku katakan. Aku marah karena aku ‘ingin’ kamu melakukan sesuatu yang aku ingini. Jika aku tidak ‘ingin’ terhadapmu, mana mungkin aku marah padamu. Bersyukurlah masih ada yang ‘ingin’ kepadamu. Ketahuilah, di dalam ‘ingin’ ada kasih-sayang.

(Zumma: Aha Anwar)

 

Aku adalah daun dari pohon yang tumbuh di permukaanmu. Kamu adalah air danau yang tenang, dalam dan kemilau. Ku lalui hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan untuk menimbang-nimbang, demi untuk mengatakan kekaguman. Hingga ku kering dan berhasil menjatuhkan diri ke permukaanmu. Namun sayang, karena segera setelah itu aku harus menyaksikan diriku hancur perlahan demi perlahan. Aku tak bisa mengenalmu lebih jauh dan lebih dalam. Aku menemui kenyataan cinta yang kelam.

(Ruang Rasa, Aha Anwar)

 

Kau boleh bunuh aku dalam tidurmu. Boleh kau hidupkan dalam mimpimu. Pun boleh kau dekap erat dalam bangunmu.

(Aha Anwar)

  • view 24