Hawa-hawa dingin pagi, sadarkan aku bahwa dia tak lagi pantas ditunggui

Ruang Rasa
Karya Ruang Rasa Kategori Puisi
dipublikasikan 25 Oktober 2017
Hawa-hawa dingin pagi, sadarkan aku bahwa dia tak lagi pantas ditunggui

Hawa-hawa dingin pagi, sadarkan aku bahwa dia tak lagi pantas ditunggui. Aku memang sangat mengingini, tapi dia sudah tak menginginiku lagi. Tak ada yang perlu dipaksakan dari hubungan asmara bukan?! Bukankah semua hubungan asmara menginginkan bahagia. Pemaksaan kehendak hanya menyayat-nyayat luka.

(Aha Anwar)

 

Tak ada yang salah dari terlalu cinta, bukan? Meski akhirnya mengucurkan luka yang dalam, tapi awal dari itu adalah niat baik. Bahwa dalam kebersamaan haruslah diawali dengan sangat cinta dan dijaga terlalu cinta. Meski jelas ada yang lebih besar cintanya. Tak mungkin dua orang sama persis kekuatan cintanya. Dan perpisahan bukanlah hal yang dikehendaki sejak awal. Bukankah semua pasangan membersatu dengan komitmen akan bersama-sama selamanya?! Terlalu cinta adalah kewajaran.

(Aha Anwar)

 

Cintailah ibumu seperti kau mencintai kekasihmu. Mesralah kepada ibumu seperti mesramu kepada kekasihmu. Sebab, ibarat lahan, ibu adalah tanah tandus yang lama tak tersentuh hujan perhatian dan kasih sayang.

(Aha Anwar)

 

Kenapa aku tertarik padamu? Kenapa aku kagum padamu? Karena apa yang ku harapkan ada dalam diriku, ternyata ku temukan di dalam dirimu. Maka wajarlah jika nanti aku memintamu untuk melengkapi sisa hidupku. Kamu boleh menolak, tapi aku ingin kamu menerimanya.

(Aha Anwar)

 

Kesedihan mendalam karena kematian seseorang seperti guyuran hujan. Tak lama pasti reda. Tak ada hujan berhari-hari, atau berminggu-minggu. Setelah hujan pasti ada cerah yang bergairah. Terik pun mengembalikan kehidupan seperti biasa. Bekas hujan pun segera tergantikan. Kesedihan pun terlupakan.

(Aha Anwar)

  • view 32