Demi menggandeng tanganmu yang hangat setiap saat

Ruang Rasa
Karya Ruang Rasa Kategori Puisi
dipublikasikan 25 Oktober 2017
Demi menggandeng tanganmu yang hangat setiap saat

Demi menggandeng tanganmu yang hangat setiap saat, aku rela menempuh jalan panjang kemandirian dan restu yang berliku. Menjadi dewasa dengan kecakapan pantas adalah keharusan yang ku bangun sebagai syarat dapat membersamaimu. Dan kamu mungkin hanya butuh cinta dan percaya, tapi orang tuamu tentu berbeda. Mereka realistis menyerahkan pada siapa. Tetap saja kamu adalah seorang anak yang amat dicinta dan dikhawatirkannya. Pernah dirawat lama dengan penuh perjuangan dan luka.

(Aha Anwar)

 

Aku mengamatimu diam-diam, tapi kamu malah memergokiku terang-terangan. Aku berharap bertemu denganmu tak sengaja, tapi kau mencariku dengan sengaja. Aku merasa tak pandai membuatmu bahagia, tapi segala gerak-gerikmu membuatku bahagia. Aku lelaki yang masih saja bingung cara mencintai, tapi pesonamu membuatku sibuk memikirkanmu sampai lupa diri.

(Aha Anwar)

 

Aku mengkhawatirkanmu setiap hari, setiap saat. Selalu begitu. Selalu saja lebih memikirkanmu dari pada memikirkan diriku sendiri. Mengkhawatirkan keselamatanmu dari pada masa depanku sendiri. Mungkin begitulah rasa cinta itu bekerja; memikirkan dan mengkhawatirkan. Aku pun selalu menyembunyikan kekhawatiranku darimu. Aku tak mau membebanimu dengan tahumu aku mengkhawatirkanmu. Aku ingin kamu terus baik-baik saja tanpa beban di kepala. Dengan kamu baik-baik saja, maka hidupku akan tenang dan bahagia.

(Aha Anwar)

 

Kau baik hati padaku sekali saja sudah mampu membuatku setengah jatuh hati. Apalagi jika kamu baik hati berkali-kali. Aku pasti diam-diam sudah jatuh tersungkur tak bisa mengelak lagi.

(Aha Anwar)

 

Kamu boleh menilai siapa pun dari sudut pandangmu. Hasilnya pun terserah yang kamu mau. Baik atau pun buruk. Begitu pun orang lain. Orang lain juga boleh menilaimu dari sudut pandang mereka. Hasilnya pun terserah mereka. Baik atau pun buruk, kita harus mau menerimanya. Karena itu hanya sebatas penilaian mereka, tetap saja kita sendiri yang jauh lebih tahu seperti apa diri kita sebenarnya. Pastikan nurani kita tidak membenci diri kita sendiri.

(Aha Anwar)

  • view 116