Bagaimana jika aku ragu menentukan pasangan?

Ruang Rasa
Karya Ruang Rasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Oktober 2017
Bagaimana jika aku ragu menentukan pasangan?

"Hai, apa kabar Bos? lama kita tidak jumpa! Akhirnya kita dipertemukan kembali di acara ini!"

"Wah iya, lama tak jumpa. Kabar baik. Kapan ya kita terakhir ketemu? Dua tahun lalu apa ya?"

"Iya, aku rasa juga begitu. Terakhir kayaknya pas kita tasyakuran wisuda di fakultas kita. Sejak saat itu kita tak pernah ketemu lagi."

"Betul, betul. Tinggal dan kerja dimana sekarang?"

"Aku sekarang kerja dan tinggal di Batam Bos. Kamu?"

"Aku tinggal di kampung halaman, buka usaha di rumah."

"Wah...keren-keren! Sudah berumah-tangga?"

"Sudah dong Bro. Beberapa bulan setelah wisuda aku langsung nikah sama Rita, pacar aku yang dulu itu. Kamu gimana? Sudah juga?"

"Aku belum Bos. Aku masih bingung dengan pilihanku. Semua yang ku kenal membuatku ragu. Gimana dong??"

"Iya sih, aku dulu juga sempat ragu sama Rita. Tapi meskipun ada ragu aku tetap memperistri Rita. Faktanya setelah menikah sudah tidak ada ruang untuk aku ragu lagi. Ragu itu wajarlah!"

"Oh, kamu juga mengalami hal seperti itu, dan memutuskan menikah? Wah, apa kamu tidak takut kalau nanti ada masalah setelah pernikahan?"

"Dari awal aku sudah menerima bahwa di dalam pernikahan pasti akan ada masalah. Itu pasti. Tapi soal keraguan itu, nyatanya tidak jadi masalah. Tiba-tiba saja aku yakin sama Rita. Karena setelah menikah aku jadi meyakini bahwa jika Rita mau menikahi aku, berarti dia memang benar-benar mau denganku. Meski pun mungkin dia juga sempat merasa ragu dan tidak benar-benar menginginkan aku, tapi faktanya kita menikah. Jadi akhirnya tak ada celah buat ku ragu lagi. Mau ragu atau tidak, kenyataannya Ritalah istriku. Kewajibanku sekarang ya menjaga dia, menyayangi dia, dan haram hukumnya buat aku melihat yang lainnya, mengkhianatinya. Karena itu melanggar janji setiaku padanya."

"Oh, ternyata seperti itu ya... Tetap menikah meski ragu..."

"Iya... Menimbang-nimbang mana yang lebih baik, mencari mana yang lebih pantas untuk dijadikan pasangan hidup rasanya adalah hal yang tak bisa sampai pada titik yang diinginkan. Semakin kita mengenal orang itu semakin kita menemukan kejelekkannya. Itu yang membuat kita jadi ragu.."

"Iya sih, benar-benar...!"

"Akan selalu ada kekurangan yang mampu meragukan pilihan. Karena pasangan memang bukan makanan yang bisa kita bayar setelah kita puas menikmatinya. Tapi lebih seperti tiket film yang mengharuskan kita bayar di depan. Senang atau pun kecewa setelah itu adalah risiko yang mau tidak mau kita terima. Kita hanya perlu membeli tiket dengan gembira di awal tanpa harus tahu persis jalan cerita filmnya."

  • view 159