Rasa selalu saja menemui jalan kebosanan dan kejenuhan

Ruang Rasa
Karya Ruang Rasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Oktober 2017
Rasa selalu saja menemui jalan kebosanan dan kejenuhan

"Aku mau putus aja sama Lusi!"

Tiba-tiba Dodi nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu. Ngomel-ngomel soal Lusi kekasihnya.

"Bukannya kemarin kamu bilang mau ngelamar dia?"

Aku sebenarnya lelah melihat Dodi seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi. Dodi memang selalu seperti itu. Mau putus kalau abis berantem, bilang mau ngelamar kalau lagi seneng bahagia.

"Tadinya sih begitu. Tapi rasanya sekarang berat untuk ku lakukan! Lusi berubah. Dia sekarang makin sering marah, sering nuntut banyak, aku jadi tak suka dengan sikapnya! Aku mau mengakhirinya saja!!"

Aku menghela napas. Tak berkata-kata lagi menanggapinya. Ia merebahkan badan ke sofa. Sambil terus memaki-maki kekasih yang katanya dicintainya setengah mati itu.

Dodi memang begitu. Tiap kali ada masalah ia datang ke kontrakkanku. Meminta saran-saran kepadaku. Padahal, dalam hal asmara, harusnya dia jauh lebih berpengalaman ketimbang aku, yang sampai sekarang masih memilih tidak berpasangan. Sementara dia dengan Lusi sudah berpacaran tiga tahun lamanya. Harusnya dia jauh lebih dewasa mengenai hubungan asmara.

"Gimana menurutmu? Tidak apa-apa kan kalau aku putusin Lusi?!", dia meminta saranku.

"Ya, kalau itu keinginanmu ya tidak apa-apa. Tapi apakah Lusi menginginkan itu juga? Bagaimana kalau Lusi justru tidak mau?"

"Tapi apa ya harus minta dia menyetujui keinginanku? Bukannya tinggal aku mengatakan putus saja?!"

"Ya jangan sepihak begitulah. Gak adil itu. Bukankah dulu kalian membersama karena kesepakatan berdua? Putus pun menurutku juga harus begitu."

"Iya juga sih. Coba nanti aku tanyakan ke dia."

Dodi mengalah, menuruti saranku. Baginya, semua saranku selalu dianggap benar olehnya. Padahal aku cuma memakai logika-logika, yang aku sendiri belum pernah mencobanya. Haha. Tapi setidaknya itu yang membuatnya menjadikanku sahabat yang hebat baginya. Yang selalu bisa mengatasi masalah-masalahnya. Sahabat memang orang yang dibutuhkannya.

"Tapi kalau aku lihat-lihat, nampaknya Lusi sayang banget lho sama kamu Dod. Bukankah wajar kalau dia marah sama kamu, jengkel sama kamu, juga minta banyak hal sama kamu. Berarti dia membutuhkanmu, punya harapan besar kepadamu. Kalian kan sudah bersama-sama cukup lama, bukankah hal-hal seperti itu wajar terjadi?"

"Iya juga sih. Tapi aku merasa dia tak lagi sayang seperti di awal-awal kayak dulu lagi. Aku pun merasa seperti itu juga ke dia. Aku merasa tak lagi cinta, dan tak lagi merasa senang karena perlakuan-perlakuannya."

Dalam hati aku menanggapi. Iya sih ya. Dalam kebosanan, kejenuhan, orang-orang memang menjadi lupa caranya merasa, lupa caranya mencinta. Bahkan lupa janji yang pernah dikatakannya. 

Memang tak ada hal-hal menarik yang selamanya menarik. Rasa selalu saja menemui jalan kebosanan dan kejenuhan. Maka, seharusnya kita tak perlu percaya janji yang dikatakan saat bahagia. Percaya saja pada perubahan, ketidak-abadian dan kedinamisan. Agar tak menuai kecewa demi kecewa.

  • view 34