Parakang, mitos abadi dari Tanah Makassar

Jay Jaya
Karya Jay Jaya Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 16 Maret 2016
Parakang, mitos abadi dari Tanah Makassar

PARAKANG

?Mitos abadi dari Tanah Makassar?

??????????? Semua anak kecil nan polos di tanahku selalu saja diperingatkan mengenai Parakang. Makhluk satu itu selalu saja disebut-sebut namanya dihadapan kami para, anak kecil. Di saat kami berbuat nakal, atau di kala kami menangis. ?Diam, Nak! Kalau teruski? menangis, Parakang akan memakanmu.? Itu yang pernah kudengar dari mulut Mama? bila mengancamku di waktu kecil.

??????????? Terkadang juga, di saat kami para warga sedang menyantap makan malam, jika terdengar suara langkah kaki di atas rumah (karena rumah para warga saat itu masih menggunakan seng), pasti Mama? akan berkata;?Sssttt! Parakang sedang lewat di atas rumah kita.?

??????????? Aku pun tidak mengerti, dan rupanya bukan hanya Mama?ku saja yang berperilaku begitu. Hampir semua ibu di perkampungan Makassar, menakut-nakuti anak-anak mereka dengan Parakang. Kami pun para anak kecil yang masih polos atau bodoh, hanya mengiyakan dan ikut takut dengan nama itu. Huh! Nama itu sungguh mujarab untuk anak kecil.

Padahal kami tidak pernah tahu bagaimana sosoknya. Apakah ia berdasi atau berjas? Atau hanya mengenakan kolor berwarna? Dibungkus kain kafan, atau batik? Giginya bak gigi buaya, kah? Atau gigi singa? Kami tak pernah tahu juga tak pernah melihat.???????

Para orangtua hanya memberikan sedikit petunjuk mengenainya. Karenanya, tak jarang kakek-nenek kami ikut turun tangan dan menceritakan mengenai sosok Si Parakang. Kata nenek, Parakang itu ada di sekitar kita. Ia hidup di tengah-tengah kita bila matahari terlihat, namun bila hari menggelap ia menampakkan wujudnya dan mencari sesuap darah-daging.

??????????? ?Lalu, Nek? Parakang tinggal di mana sekarang?? Tanyaku di suatu malam menjelang tidur bersama nenek.

??????????? ?Oh dia tinggal layaknya manusia, di siang hari. Bila malam datang, ia berubah.? Jelasnya.

??????????? ?Kenapa bisa begitu, nek?? Protesku.

??????????? ?Yah, karena ia makhluk terkutuk di tanah ini.? Jawab nenek, kemudian ia memejamkan mata, lalu terlelap. Aku pun ikut tertidur dengan membayang-bayangkan sosok Si Terkutuk itu.

??????????? Aku sempat berpikir bahwa nenekku lah orang yang paling tahu tentang seluk-beluk Parakang. Hampir tiap malam ia menceritakan kisah seram mengenai Parakang. Darinya aku tahu bahwa makhluk terkutuk itu adalah manusia jadi-jadian, tubuhnya hitam pekat, ia mampu berubah wujud menjadi kucing hitam, anjing hitam, atau seekor biawak.

??????????? Kata nenek, dulu Parakang di gunakan sebagai cara menjadi kaya dan tenar. Orang-orang dulu mempelajari ilmu Parakang untuk bisa masuk ke dalam rumah para Meneer Belanda. Namun belakangan, rupanya untuk jadi seorang Parakang, kau harus hidup tersiksa, harus mau memakan orok, ari-ari bayi yang baru lahir, atau isi perut manusia. Sialnya lagi, ia harus diturunkan ke cicitmu. Dan harus rela melihat cicit mu yang akan menjadi seorang Parakang selanjutnya.

_____

??????????? Malam itu keluarga kami sedang bersedih, sedih yang mendalam. Orang tertua di antara kami harus melanjutkan hidup ke alam selanjutnya. Nenek menghembuskan nafas terakhirnya setelah tersiksa dengan penyakit jantungnya. Namun, ada hal aneh sebelum kepergiannya, nenek sempat mengecup keningku diiringi bibir yang berkomat-kamit. itu ritual perpisahan paling aneh yang pernah ada.

??????????? Hal mengerikan sering terjadi setelah kepergian nenek di malam itu. Aku sering menggigil dan merasakan mual yang hebat bila tengah malam mengampiri. Malam-malamku berlansung seperti itu hingga aku menikah dengan seorang anak dara dari kampung sebelah.

??????????? Setelah menikah pun, penyakit mual dan menggigilku tak kunjung hilang juga. ?Anda tidak menderita penyakit apapun, Daeng.? Itu kata dokter di puskesmas saat aku memeriksakan penyakit anehku. Ku putuskan penyakit ini kutanggung sendiri di setiap malam-malamku.

??????????? Hingga sampai di suatu malam, seperti biasa di saat malam telah pekat, rasa mual dan menggigilku muncul. Kutahan rasa sakit itu hingga aku tertidur dan bermimpi.

??????????? Malam itu, untuk pertama kalinya aku bermimpi menjadi seorang makhluk aneh bisa dikatakan monster. Dalam mimpi tersebut, aku sedang kelaparan yang mendalam dan berusaha mencari penjanggal perut. Hingga kulihat diriku memasuki sebuah rumah di kampung sebelah, itu adalah rumah Latunrung yang bayinya baru saja keluar? 3 hari yang lalu.

??????????? ?Menjijikkan!!? Batinku berkata ketika melihat diriku sedang menikmati kepala bayi yang masih suci itu. Darah segar di mana-mana, sebagian berserakan di sekitar pipiku. Ibu si bayi masih tertidur pulas, tidak menyadari kehadiranku. Ini benar-benar mimpi yang menjijikkan.

??????????? Pagi-pagi buta, warga kampung sudah ribut. Biasanya kalau ribut sepagi ini, berarti ada sapi warga yang hilang. Sayangnya, bukan. Ternyata anak Latunrung yang berusia 3 hari telah hilang. Sang maling bayi hanya meninggalkan jejak berupa darah. Latunrung dan istrinya stress berat kulihat pagi itu.

??????????? ?apa ada hubungannya dengan mimpi burukku yang semalam?? Gumamku saat ikut berbelasungkawa di rumah Latunrung. Latunrung hanya yakin bahwa anaknya di culik orang. Tapi para warga kampung, mengatakan kalau anak Latunrung telah jadi santapan Parakang. Aku mulai berprasangka buruk pada diriku sendiri.

??????????? Sekali lagi larut malam telah menandakan bahwa penyakit anehku kambuh. Hingga seperti malam kemarin, lagi-lagi aku ketiduran karena menahan sakit. Dan lagi-lagi aku bermimpi menjijikkan. Kali ini, aku melihat diriku sedang menghisap-menarik keluar segala isi perut Daeng Tonro?. Ia tak mampu melawan, hingga ia lemas-tewas tak mampu melawan.

??????????? Di waktu dhuha, lagi-lagi kampung sedang ramai. Kali ini diramaikan dengan penemuan sebuah mayat di dekat kali Je?ne berang. Itu mayat si Tonro? yang ada di mimpiku semalam. Waktu dan baju yang dikenakannya, persis dengan yang ada di mimpi. ?Ini tak bisa dibiarkan! Apa mungkin mimpiku berbahaya?? Pikirku.

??????????? Maghrib itu, istriku merasakan rasa sakit di perutnya. Sepertinya Si Bayi hendak memperlihatkan dirinya kepada bapaknya ini. Segalanya pun di persiapkan, Sanro (dukun beranak) juga sudah siap dari tadi.

??????????? Tepat sehabis isya?, anakku tersayang akhirnya berhasil memecah malam itu dengan tangisnya. Betapa bahagianya aku. Kukecup kening istriku yang sedang menangis. Raut wajahnya sedikit khawatir, mungkin ia takut bila bayinya bernasib sama dengan bayi Latunrung. ?Malam ini jangan menghilang dulu dari tempat tidurmu, Kak! Jaga bayi kita!? Katanya.

??????????? Berarti beberapa malam ini, aku telah menghilang dari samping istriku? Yang benar saja? Ini semakin membungungkan.

??????????? Tepat tengah malam. Mual-menggigil lagi-lagi menyerangku. Seperti biasa, aku tahan rasa sakitnya hingga tertidur di samping anakku. Mimpi buruk mulai mempermainkanku lagi, entah tentang apa kali ini.

??????????? Dalam mimpi, ku lihat diriku sedang mengejar seseorang. Rupanya itu Sanro yang telah membantuku maghrib tadi. Mengapa aku mengejarnya?

??????????? Sekali lagi, kusaksikan diriku sedang membunuh bahkan memakan segala isi perut manusia. Layaknya kanibal. Betul-betul isi perut manusia terasa lezat dalam mimpiku. Semoga besok pagi, tidak terjadi apa-apa dengan Si Sanro. ?ini, kan hanya mimpi!? Gumamku lagi.

??????????? Sinar matahari membangunkanku. Tapi ada yang aneh, aku bangun di tengah ladang. Kenapa bisa aku bangun di sini? Siapa yang memindahkanku dari samping anak-istriku? Kurang ajar!!

??????????? Beranjak dari ladang berjalan pulang ke arah rumah, orang-orang warga kampung berbondong-bondong berjalan bersamaku. Berjalan ke arah yang sama, menuju rumahku. ?Sabar saja, Daeng! Nanti di gantikan sama Yang Kuasa.? Seseorang menepuk bahuku dan berkata demikian. ?Aneh??

??????????? Kulihat di depan rumah sudah banyak orang yang berkumpul. Sebagian berkumpul di depan pintu, berlomba untuk masuk ke dalam. ?Ada apa ini?? Teriakku dari kejauhan.

??????????? ?Anakmu Daeng! Anakmu!? Salah seorang di depan pintu menjawab.

??????????? ?Kenapa anakku? Dia terlahir sehat dan lengkap kemarin!? kepanikan mulai merongrong hatiku. Bergegas untuk melihat ke dalam, apa yang sebenarnya terjadi?

??????????? ?Innalillahi.. Anakku tersayang, anakku yang malang!? Ia mati, hanya jempol kakinya yang tersisa. Siapa yang tega melakukan hal ini? Biadab!

??????????? Istriku belum bangun dari pingsannya. Jelas ia pingsan melihat anaknya yang mati mengenaskan. Sedang aku meronta, berteriak-bertanya, siapa yang melakukan hal ini?

??????????? Orang-orang yang berkumpul di sekitarku menjawab, ?Nakanrei Parakang anjo anatta! (Anak anda dimakan Parakang!)?

??????????? Sungguh biadab makhluk itu! Ia makhluk terkutuk! Aku menaruh dendam padanya mulai saat ini. Akan kucari dia, di manapun dia berada. Bagaiamanapun seramnya sosoknya. Akan kubuat ia merasakan apa yang anak-istrikuku rasa.

??????????? Setelah hari itu, kujalani malam-malamku dengan mimpi buruk. Mimpi yang selalu sama, berjalan mengitari kampung dan menghisap-menyantap isi perut orang. Dan keesokan harinya, warga kampung heboh dengan temuan mayat tanpa isi perut. Aku yakin karena mimpiku. Aku berharap, mimpiku akan mengenai Parakang yang telah membunuh anakku di malam itu. Berharap mayatnya akan ditemukan warga kampung di pinggir kali atau di dalam kakus sekalian.

_____

Ada banyak jenis makhluk aneh dan mistis di negeri ajaib ini, mulai dari yang berkain kafan, yang hanya bisa ngesot di sekitar rumah sakit, ataupun yang sering menjaili tukang sate seperti di teve. Namun yang pasti, mereka tak pernah kudengar aksi berdarahnya.

Berbeda dengan makhluk terkutuk di Tanah Makassar, Parakang. Ia kejam, lebih sadis dari kanibal, menyaingi para siluman tikus berdasi sekalipun. Ia memberi bukti bahwa ia ada di sekeliling, dan ialah makhluk mistis yang paling menakutkan. Ia bukan makhluk berdasi dan berkain kafan, ia makhluk terkutuk yang ikut hidup di sekitarku. Sialnya lagi, Sang Parakang adalah termasuk aku.

?

??????? Oleh Jay Jaya

???? Maret, Yogyakarta

  • view 401