Saat Terpojok

Jay Jaya
Karya Jay Jaya Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 16 Maret 2016
Saat Terpojok

Sebuah Cerpen:?????????????? ???????????????????? ? ? ?? Saat Terpojok?????????????????????????????????????????????????????? Oleh : Jay Jaya

Entah dari mana datangnya 2 brandalan itu. Tiba-tiba saja duduk di kejauhan sana dan mengintaiku. Matanya tidak kalah dengan mata elang, yang mengawasi setiap gerak-gerik calon mangsanya. Jelas! Aku terpojok.

Apa yang bisa dilakukan oleh orang yang kadang disebut-sebut makhluk lemah sepertiku? Meski sebenarnya rasul dan ajarannya mematahkan pendapat itu, dan meski Ibu Kartini membuktikannya, tapi tetap saja aku hanyalah salah satu makhluk yang acap kali dipandang sebelah mata oleh segelintir manusia. Aku hanyalah perempuan berkerudung besar yang tidak sengaja pulang larut malam karena atas nama pertemanan, yang tidak sengaja pula sedang duduk menunggu datangnya supir bis yang mengantarku dengan selamat, ataukah para kriminalis jalanan yang sering menakutiku di berita-berita.

Mata mereka masih saja istiqamah menungguku dan mengintaiku. Hanya menunggu beberapa menit dan mereka akan segera menyelesaikan misi mereka malam ini, memperoleh isi tasku atau bahkan sekalian dengan tubuhku. Malangnya, entah kemana orang-orang di terminal ini? Tak seorang insan pun yang menunggu bus malam ini, bahkan tak satupun musisi jalanan yang show dan meramaikan terminal ini. Jelas! Aku terpojok, bukan?

Sesaat kemudian dari lirikan mataku, keduanya sudah berdiri dan menolah-noleh, memastikan daerah sekitar. Aman! Kali ini mereka siap melancarkan aksinya. 2 berandalan itu berjalan mendekat. Si Berandalan gonrong kemudian mengeluarkan pisau lipat dari saku jaketnya. Sedangkan Si berandalan Gundul tetap mengawasi daerah sekitar.

?Ya Allah, apa yang bisa dilakukan oleh makhluk lemah seperti hamba?? Kataku membatin. Berharap keajaiban datang; Spiderman, Batman, ?atau siapalah dari pahlawan yang ada di negeri ini, datang menolongku. Atau paling tidak baterai hapeku kembali penuh, agar bisa memanggil seorang polisi. Sayang, bukan terpojok namanya bila ada keajaiban seperti yang diharapkan.

Keduanya semakin mendekat, mungkin beberapa meter lagi langkah kaki mereka berhenti tepat di sampingku. Kemudian menodongkan pisau, merampas tasku, bahkan merenggut harga diriku.

?Ironis, aku hanya bisa pasrah dan menyerah pada keadaan. Jikalau harta yang mereka inginkan, akan kukatakan di hadapan mukanya; ?Ambillah semuanya!? Namun jika lebih dari itu, lebih baik aku tusukkan pisau lipatnya ke jantungku, agar mati seketika. Kukira mereka tidak akan tega memperkosa sebuah mayat.

?Tidak! Kenapa aku harus menyerah? Bukankah aku manusia yang masih memiliki Tuhan? Hanya manusia yang tak bertuhan lah yang pantas menyerah, dan menyandang gelar manusia rapuh.? Batinku lagi.

Kuambil sebuah benda keramat ?dari dalam tas, lalu kubaca dengan sepenuh hati, menghiraukan segala hal tadi.

?Audzubillahi minassyaithoni rajim. Bismillahi rahmani rahim. Yaasiin. Walquranil hakim. Innaka laminal mursalin. ?Ala siratin mustakim. Tandzilal ?azizil rahim. Litundzira quman . . . . .?

_____

??????????????? Entah dari mana datangnya 2 lelaki putih bertubuh besar itu. Tiba-tiba saja datang-duduk mendampingi perempuan berkerudung di sana. Jelas-jelas ia terpojok tadi! Dan jelas-jelas tak satupun manusia menemaninya sedari tadi.

Si Gundul juga terperanjat kaget dibuatnya, dari tadi matanya tak pernah lepas dari mengintai perempuan itu. ?Aman, Bos! Sepi betul malam ini!? begitu katanya tadi. Bahkan Si Gonrong masih ingat betul setiap katanya.

?Saya tidak berani mendekat, Bos! Tubuh mereka besar. Kita bisa kalah dan tertangkap saat ini.? Si Gundul mulai menciut rupanya.

?Ya sudah! Kita cari mangsa di tempat lain.?

Sayang sekali! Padahal beberapa menit yang lalu mereka sangat senang, karena malam ini bisa memperoleh beberapa dollar untuk mengisi perut di esok hari. Dan begitulah cara hidup mereka sehari-hari. Sungguh di sayangkan, perempuan rapuh tadi rupanya punya semacam ritual dikala ia terpojok. Ritual yang dapat menenangkan hatinya yang ketakutan, ritual yang dapat menyuruh Tuhan untuk mengirimkan satu atau dua penjaga pada manusia rapuh sepertinya.

?

?