Sebatang Rokok

Jay Jaya
Karya Jay Jaya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Februari 2016
Sebatang Rokok

Kali ini Bapak sudah menungguku di hadapan pagar bambu depan rumah. Dengan sebatang rotan panjang di tangannya. Bak seorang anggota Yakuza yang memegang sebilah katana di hadapan lawannya. Aku yang berlari dari kejauhan hanya bisa memasang raut wajah memelas. “Kali ini, habislah awak!” ucapku dalam hati.

______

       Bapak memang seorang lelaki keras serta tegas. Semua peraturan yang bundo buat untuk anak-anaknya, harga mati baginya. Tak seorang pun dari kedua anaknya yang berani melawan dan melakukan kudeta padanya. Badannya gempal dan besar, hampir mirip seorang Muhammad Ali. Kumis tebalnya menambah kesangaran wajah beliau. Betul-betul pria macho.

       Hampir tiap hari aku merasakan sentuhan kasih sayang seorang Bapak. Kadang dengan sebatang rotan, kadang juga dengan sebuah telapak tangan di pipi. Panas rasanya! Aku bingung. Apakah beliau betul-betul sayang, atau hanya sekedar menjadikanku bahan pelepas emosi? pikirku.

______

“Dari mana, wa ang? Haa?!” Bapak memulai percakapan kami dengan gertakan keras.

Awak, abis main sama teman-teman. Tidak usah pake marah begitu!” Aku mencoba melakukan perlawanan kecil.

Alamak! Sudah mulai berani rupanya! Bagus! Tangan bapak mulai melayang dan ...

“Taass!!!” sebuah rotan melayang di betis. Betul-betul panas rasanya!

       Aku berlari terbirit-birit memasuki rumah. Di iringi teriakan-teriakan meminta ampun. Sedangkan Bapak berjalan santai di belakangku. “mau lari kama ang?” ucapnya dengan santai.

       Kegaduhan di rumah kami sudah pasti terdengar orang samping rumah. Mereka hanya berani melihat pertunjukan tersebut. Namun tak berani berkomentar. Sepertinya mereka takut berurusan sama bapakku. Beliau memang bukan orang sembarangan di kampung ini.

       Kami sedang lengkap di makan malam saat ini. Semua anggota keluarga hadir. Namun, di atas meja makan ini tak seorang pun bersuara, hening. Hanya ada gerakan tangan mengambil nasi dan lauk tanpa suara di mulut. Persis seperti sebuah televisi yang diredam suaranya.

       Tiba-tiba sang kepala keluarga memulai percakapan makan malam ini. Selain beliau, semuanya tetap bergerak tanpa suara. Mulut mereka tetap bergerak mengunyah makanan hasil keringat sang kepala keluarga tersebut. Namun masih tanpa suara di mulut.

“Samsul! Main di mana ang tadi? Jangan bilang kalau ang maen sama anak-anak pareman di pos ronda itu!” Suaranya khas. Tajam, tanpa basa-basi.

Mmm.. Awak memang main di sana, Bapak! Tapi tidak ikut-ikut kelakuan mereka.” Aku tetap membela diri. Namun sebenarnya itu bohong. Ya, berbohong demi keselamatanku. Tidak masalah, bukan?

       Sebenarnya aku memang selalu bermain bersama anak-anak preman kampung di pos ronda perempatan jalan sana. Tempatnya cukup jauh dari rumah. Karenanya aku sering terlambat bila pulang ke rumah dan terpaksa menerima sentuhan tangan kokoh orangtua di rumah.

       Tempat itu asyik. Tempat berkumpul, merokok, berdomino, dan kadang menggoda bunga-bunga desa yang sepertinya sengaja berlalu lalang di hadapan pos ronda tersebut. Mereka senang di gombal. Aku bagaiakan lelaki keren bila berada di pos ronda tersebut. Ketimbang harus di rumah. menjaga adikku yang nakal ataupun sekedar menjaga ikan kering yang dijemur oleh bundo di atas atap rumah.

­­­_____

Ang jangan bohong!” Bapak kembali menghardik. “Tadi Si Zainudin melihat ang menghisap sebatang rokok. Mengaku sajo!” tambahnya.

“Zainuddin!!! Awas, Ang! Beraninya lapor-lapor!” ancamku pada adik yang terlihat polos namun menikam dari belakang itu. Kepolosannya yang membuatku selalu celaka.

       Si Zainuddin hanya menunduk dan tetap menikmati makan malamnya. Masa bodoh dengan abangnya yang akan dihajar habis-habisan. Bundo juga hanya sibuk merapikan dapur dan meja makan. Tak ada yang membelaku. Di Jamin, setelah ku kenyangkan perutku ini, Bapak akan kembali memberiku pelajaran. Belajar arti sebuah pentingnya menghargai sebuah peraturan. Pentingnya menghargai pesan orangtua. Apalagi pesan dari bapak bengis sepertinya.

“Dengar, Ang! Bila mata bapak melihat ang ini membawa sepuntung rokok ke rumah. Awas sajo! Habis kepala ang di tangan ini.” Kali ini beliau mengancam dengan ancaman tingkat tinggi. Sepertinya tak ada lagi ampunan dan yang namanya belas kasih.

Aku tak berdaya. Hanya bisa menelan air liur di tenggorokan yang sejak tadi mematung.

       Segera kuhabiskan makan malamku kemudian memasuki kamar dan bergegas tidur. Melupakan semua kejadian dejavu di hari ini, kejadian yang sering berulang kali terjadi. Pulang ke rumah dan dimarahi habis-habisan. Kurang lebih seperti itu tiap hari. Yang berbeda hanyalah faktornya.

_____

       Sebatang rokok yang masih perawan kuselipkan di saku kemeja sekolahku. Sebatang racun ini aku dapatkan dari salah seorang teman yang dikatai pareman oleh Bapak kemarin. Membawa benda kecil ini ke rumah, sama halnya membawa sebuah bom grenade. Membuat keringat dinginku selalu keluar. Hidup jadi tidak tenang. Padahal di rumah sendiri. Kujaga baik-baik benda ini agar tak terihat oleh siapapun.

Tapi tiba-tiba panggilan kamar mandi mengharuskanku untuk membuang sisa-sisa sarapan tadi.Karena memang, setoran di kakus sebelum ke sekolah baik untuk pelajar menengah atas sepertiku. Biar lebih sehat, begitu kata Bu Maisarah, guru biologi di sekolah.

       Kutanggalkan kembali seragam sekolahku. Takut jika bau kakus memeluk seragam kebanggaanku ini. Kusimpan di atas maja makan dan bergegas berlari memasuki kamar mandi, sebelum sisa-sisa makanan tercecer di lantai.

Plung!! Plung!! Terdengar jelas suara sisa-sisa ini berjatuhan di bawahku. Sesekali aku menatapnya sambil membayangkan bila Bapak sampai menemukan sebatang rokok itu. Mungkin aku akan bernasib sama dengan kotoran yang aku buang saat ini, dileburkan dan dibuang.

Sayangnya, di saat aku sedang asyik-asyiknya berimajinasi di atas kakus, tiba-tiba kusadari bahwa sebatang rokok tadi masih terselip di saku kemejaku. Alamak! Semoga tak seorang pun melihatnya, ucapku penuh harap.

       Dengan kecepatan tinggi. Tanpa mermperhatikan bersih atau tidak, aku siram kakus di bawahku ini dan bergegas keluar. Menyelamatkan sebatang rokok tadi. Karena keberadaanku sebagai anak tergantung pada benda yang berisi asap itu.

       Kuhampiri seragam tersebut yang masih pada tempatnya semula. Sepertinya tak seorangpun memegangnya. Lansung kukenakan kembali seragam keren ini dan kurogoh sakunya. Ternyata…

Tidaak!!! Tamatlah riwayat awak!” Sebatang rokok itu hilang tak berbekas. Pasti jatuh atau ada yang mengambilnya. Semoga bukan Zainuddin, apalagi Bapak. Jangan sampai beliau yang menemukannya. Bila beliau, maka sungguh celaka aku di dunia ini. Celaka pula di akherat. Karena aku akan ditanyai malaikat kubur tentang alasan kematianku. Bagaimana aku menjawabnya?

Awak mati terbunuh di tangan Bapak, hanya gara-gara sebatang rokok,” batinku tanpa henti. Bila benar Bapak yang menemukan benda celaka itu, akan mati konyol awak. Dihajar sampai mati oleh bapak sendiri.

       Tiba-tiba sepasang kaki menghampiriku yang sedang sibuk merangkak-mencari-cari sesuatu yang hilang di bawah meja, mencari sebatang rokok yang hilang. Tanpa sadar tindakanku mengundang sepasang kaki itu untuk datang dan bertanya.

“Cari apa ang di bawah situ? Macam tikus mencari makan sajo!” Ternyata itu Bapak. Suaranya jelas terdengar. Hanya kakinya yang terlihat dari bawah meja ini.

Awak Cuma mencari uang awak yang jatuh di bawah sini.” Aku yang masih merangkak di bawah sini hanya bisa melihat perut dan sarungnya. Mencoba melihat wajahnya yang garang, dan ternyata Bapak terlihat mencurigakan. Perasaanku tidak enak.

Halah! Coba ang berdiri! Siapa tau menemukan barang yang ang cari.” Perintah Bapak.

Astaga naga!!! Sebatang rokok dengan asap mengepul di ujungnya tengah bertengger di antara kedua bibir Bapak. Padahal, beliau bukan perokok. Aku yakin seratus persen beliau salah satu dari golongan pembenci rokok. Kupasang wajah memelas dan memucat, mungkin saja Bapak akan kehilangan kebengisannya saat melihat wajah nan malang ini. Tidak. Sebaiknya aku segera berlutut di hadapannya. Meminta ampun atas pelanggaran berat ini.

“Bapak jangan marah dulu! Awak belum menyentuh rokok itu. Awak janji tidak akan bawa barang macam itu lagi.”

Sudahlah! Biar Bapak sajo yang yang menghisapnya. Bapak tidak mau kalau ada putra Bapak yang sakit-sakitan karena barang bodoh ini. Sana! Cepat ke sekolah! Ang nanti terlambat.” Kata-katanya begitu manis di telinga. Rupanya Bapak lebih memilih menghisap racun itu ketimbang membiarkan aku, anaknya yang menghisapnya.

Baru kali ini beliau bernasihat tanpa ada pukulan rotan. Baru kali ini pula beliau menghisap sebatang rokok. Rela menghisap racun itu hanya untuk melindungi putranya yang bengal dan tak tahu diri ini.

Terima kasih kembali, Bapak! Kau bapak terhebat yang diberikan Tuhan padaku. Maafkan bila selama ini aku salah sangka terhadapmu. Kusadari betul bahwa hardikan serta pukulan rotanmu yang lalu adalah sebuah pelajaran berharga yang mungkin takkan kudapatkan dari sekolah manapun di negeri ini,” ucapku penuh syukur.

 

 

 

Yogyakarta, 2015