Telur dan Air Mata

Jay Jaya
Karya Jay Jaya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Februari 2016
Telur dan Air Mata

Sebuah Telur Dan Air Mata Mama?

Oleh : RS Jaya

?

Teriknya matahari menemani langkahku sepulang sekolah. Panas sekali. Cuman itu yang dapat dikeluhkan oleh manusia tak tahu diuntung sepertiku. Diberi panas, protes. Diberi hujan, malas. Tak tahu apa maunya. Tapi anehnya Tuhan selalu saja memaafkan makhluk tukang protes sepertiku.

??????????? Seperti biasa, dengan sepatu sobek yang seakan bisa menggigit ini, kulangkahkan kakiku menuju rumah yang Ibu guru bilang ?rumahku surgaku?. Tapi aku merasa rumahku itu tidak ada istimewanya. Jauh berbeda dari rumah Haji Hamjah depan rumahku. Pekarangannya luas, berpagar besi, lantainya tingkat pula. Antonim dari rumahku.

??????????? ?Sudah pulang,nak?? Sambut mama? di balik kamarnya.

??????????? ?Iya,Ma?!? Balasku singkat

??????????? Tiba-tiba mama? keluar dari kamar diikuti dengan wajah? melasnya.

??????????? ?Ini uang terakhir mama?. Kamu beli telur di warung bu? Siti,nah! Biar kamu bisa makan siang,nak! dengan nada rendah dan menyodorkan kertas bergambar bapak Pattimura padaku.

??????????? ?Mama? sendiri sudah makan, kah?? Kurapikan kembali kancing baju sekolahku yang hampir terlepas dari badan.

??????????? ?Kau beli telur saja dulu! Soalnya mama? tidak ada uang lagi.? Cuma bisa beli satu telur itu. Yang harus makan itu kamu! Bukannya mama?. Kalau kamu bisa makan, berarti bisa sekolah. Kalau kamu bisa terus sekolah, bakal jadi orang. Kalau sudah jadi orang, kamu kasih makan mama?mu ini sepuasnya. Sana! Cepat!? Wajah mama? mulai terlihat kesal. Mama? memang seperti itu orangnya. Suaranya keras dan mudah marah.

____

??????????? Bergegas kumasukkan jempol kakiku ke jepitan sandal karet jepit khas orang kampung ini. Ku berlari kecil, kegirangan setelah mendengar kata bijak mama? tadi. Jarang-jarang mama? menasihati seperti itu. Biasanya kalau mama? menasihati, jemarinya ikut menasihati di telingaku. Terkadang juga mama? hanya marah, marah, dan marah bila aku bermain terlalu jauh. Begitu pula di kala aku pulang sewaktu azan maghrib. Tidak jarang juga mama? memukulku dengan sebatang lidi dikala pulang ketika azan maghrib tersebut.

??????????? Mama? memang terkesan sadis orangnya. Nenek sering? bilang bahwa mama?mu memukulmu karena saying padamu. Itu yang selalu dilontarkan nenek dikala aku minta tolong dan menangis karena dihajar mama?. Kendati demikian, kata-kata nenek tadi tidak bisa mengobati rasa sakitku. Aku merasa mama? teralalu kejam. Apa salahnya anak seusiaku bermain dan bermain?

??????????? Sebenarnya aku menyadari betapa besar rasa kasih mama? padaku. Beliau tidak mau kalau anaknya jauh-jauh darinya. Karena mama? pernah mengizinkan suaminya pergi jauh, tapi sang suami malah kembali bersama peti mati dan kain kafan. Sedari itu, kuyakin mama? tidak akan lagi mengizinkan anak-anaknya jauh darinya.?

____

??????????? ?Telurnya satu, bu! Mau makan enak ini. Telur goreng!? kataku sambil menyodorkan selembar uang pemberian mama? tadi.

??????????? ?Biasanya beli mie instan kamu, Dir! Tumben! Lagi banyak uang kau rupanya.? Bu Siti selalu berceloteh jika aku berbelanja di warung kecilnya. Meski terkadang celotehnya tidak sesuai realita.

??????????? ?Mau dibungkus, tidak?? tanyanya dengan menawarkan secarik Koran di tangan.

??????????? ?Tidak usah! Saya disuruh ?Go Green? sama ibu guru di sekolah.? Balasku sambil membelakangi warungnya dan berlari kecil.

??????????? ?Apaan lagi itu ?Go Green!?

??????????? Kini sebutir telur sudah didalam genggamanku. Senang sekali rasanya bisa makan telur goreng buatan mama? nanti. Maklum, telur goreng memang menjadi makanan langkah di dapur rumahku. Biasanya ikan dan Cuma ikan. namanya saja yang berubah tiap hari. Lure, Lajang, bolu, dan asin. Jenisnya tetap satu, ikan.

Telur gorengnya akan kupotong dua nanti. Sepotong buat perut kecilku. Selebihnya buat mama?. Aku tahu kalau beliau belum makan sedari pagi tadi. Terlihat dari suasana kosong dan ambar di dapur yang aku intip sepulang sekolah tadi.

??????????? Bruuk!!!

Oh Tuhan! Telur mama? jatuh. Tidak tertolong lagi. Betapa cerobohnya anak mama? satu ini. Harus bilang apa sama mama? nanti? Padahal tinggal beberapa langkah saja telur akan sampai kepada mama?. Goblok!

??????????? ?Ma?! telurnya jatuh di jalan tadi.? Wajah menunduk serta memelas minta ampunan.

??????????? ?Apa?? Kurang ajar betul kamu ini,Dir!? suaranya lansung pecah. Sudah pasti terdengar oleh telinga haji Hamjah di depan.

??????????? ?Tiba-tiba saja jatuh, Ma?!? aku membalasnya dengan sedikit menghardik. Membela diri.

??????????? ?Ya Allah! Didiir! Didiir! Sungguh kurang ajar kamu, nak! mama? sudah tidak ada uang lagi buat beli lauk.? Tangannya melayang ketelingaku kemudian memutar-mutarnya.

??????????? ?Udidih, Ma?! Sakit, Ma?! Ampun! Ampun!? aku hanya bisa teriak dan menangis.

??????????? Terlihat air mata mama? jatuh membasahi pipi kurusnya. Aku tidak tahu mengapa bisa mama? yang menangis? Yang kutahu pasti, bila seorang anak membuat air mata ibunya menetes, nerakalah tempatnya. Tak ada ampunan lagi. Itu yang pernah disampaikan ibu guru di sekolah. Matilah Aku!

??????????? Kini jari-jari mama? melepaskan telingaku yang memerah. Beliau lansung pergi dari hadapanku. Diiringi airmata di pipinya. Mama? lansung memasuki kamar lalu menutup pintu. Terdengar isak tangis mama? dari dalam kamarnya. Kecil sekali suara isak tangisnya, namun masih terdengar di telingaku yang memerah.

???????????

?Oh suamiku! Seandainya saja kau masih ada di sini, anakmu Didir bisa makan enak tanpa kelaparan!? tiba-tiba mama? berbicara sendiri di dalam kamar. Aku pikir bapak datang menenangkannya. Ternyata, tidak. Dibalik celah pintu kamar, kulihat mama? sedang berbaring memeluk gulingnya dan masih terisak-isak. Isak tangisnya membuatku pilu.

??????????? ?Tidak! Apa yang telah kulakukan pada mama??? Hatiku bergeming.

??????????? Aku hanya bisa berlari ke luar rumah. Menangis sejadi-jadinya. Mendatangi lokasi di mana telurku jatuh tadi. Dengan Sendok makan di jemari, kupungut apapun yang masih bisa kupungut. Kubawa ke dalam rumah lalu bergegas kugoreng dengan tanganku sendiri.

??????????? ?Maa?!! Didir masih bisa makan, ma?.? Kujejalkan sesuap nasi dengan secuil telur goreng hangus bercampur sedikit pasir ke mulutku. Masih dengan menangis. Aku ingin menemani mama? meneteskan air mata. Agar Tuhan tahu apakah aku durhaka atau tidak. Kuyakin Dia maha tahu segalanya.