Mahasiswa Lilin

Jay Jaya
Karya Jay Jaya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 April 2016
Mahasiswa Lilin

“Siapa yang tidak ingat dengan kejadian 1998? Itu adalah sejarah menegangkan bagi bangsa ini? Di mana seluruh mahasiswa di negeri ini bersatu untuk menghentikan gerak-gerik para pemerintah kala itu. Bukan main, aksi besar-besaran itu berujung pada turunnya bapak Presiden dari singgasana yang puluhan tahun dipeluknya. Kurasa semua orang menolak lupa akan sejarah penting ini?” Si Mahasiswa ber-Almamater Merah membuka diskusi tertutup hari itu.

                “Betu! Sejarah ini berhasil mengukir sebuah torehan di setiap kepala rakyat bahwa, para mahasiswa bisa saja menjadi harimau kesetanan bila melihat rakyat telah ditindas oleh pemerintah, mereka tak segan-segan menjadi liar bila melihat rakyat Indonesia tercekik terus-menerus.” Si Mahasiswa ber-Almamater Biru mendukung pembicara pertama.

                “Tak sampai di situ, Bro! Tahun-tahun setelah itu, bila pemerintah mengeluarkan kebijakan yang dianggap mrugikan rakyat, lagi-lagi para mahasiswa menghiraukan nilai mereka dan memilih untuk turun ke jalan, ataupun melakukannya tepat di depan gedung DPR. Tentu saja hanya karena membela rakyat, kecil ataupun yang kaya seperti keluargaku.” Meskipun terdengar sombong, Mahasiswa ber-Almamater Cream ikut bersahut.

                Dengan di awali ketiga mahasiswa tadi, maka mulailah riuh ruangan pertemuan antar mahasiswa Indonesia ini. Setiap anak muda yang ada di tempat itu mengeluarkan pendapat dan pemikiran mereka kepada masing-masing orang di samping mereka. acara ini mulai tak terkendali.

                “Stoooopp!!” teriak seorang Mahasiswa ber-Almamater Hijau. Badannya gempal, berambut metal gondrong, dan celana bolong. “Mari kita lanjutkan diskusi dan pertemuan ini secara terkontrol, Guys!” Lanjutnya.

                “Okey, Entah itu harga minyak naik, subsidi BBM-lah, harga sembako-lah, para mahasiswa tetap akan berada di pihak rakyat dan berdiri di barisan paling depan dalam membela mereka di hadapan pemerintah yang Dzalim.” Si Almamater Orange mengawali kembali diskusi.

                Ya, asal tahu saja! Sampai detik ini pun, masih ada sebagian mahasiswa di “negeri ajaib” ini yang tetap melakukan aksi dan memperjuangkan hak rakyat, masih banyak mahasiswa yang tak rela melihat rakyatnya tercekik, dan yang pasti mereka tidak akan segan-segan menjadi harimau kesetanan bila pemerintah lagi-lagi mencekik rakyat.

_____

                Siapa yang tahu, rupanya mahasiswa-mahasiswa yang tengah berkumpul ini adalah mahasiswa yang baru saja mengalami tragedy sadis dalam lika-liku hidup mahasiswa. Siapa yang tahu, rupanya mereka sedang tercekik saat ini. Siapa yang tahu, mereka dicekik oleh rakyat sediri. Menderita karena sikap rakyat yang semakin apatis pada hidup mereka. tersiksa karena sifat rakyat yang cinta rupiah.

                Si Almamater Merah misalnya, hari ini adalah hari pertamanya hidup sebagai “MANGAN”, mahasiswa gelandangan. Benar, gelandangan, ia tak tahu lagi mau tidur-berteduh di mana, di rumah siapa. Baru saja kemarin malam ia harus merasakan pahitnya “Terusir” dari kamar kos-nya tercinta, terusir karena tak sanggup lagi merayu Ibu Kosnya untuk menunggak sebulan atau dua bulan.

                Ingin menumpang tidur di rumah keluarga, tapi tak punya. Karena ia mahasiswa rantau dari Indonesia Timur sana. Hendak tidur di rumah teman, ia takut menjadi parasit di tempat temannya yang kenyataannya jauh dari kata luas. Ia hanya bisa merasakan nikmatnya tidur di lobi kampus bersama Jin-jin penghuni kampus.

                Begitu juga dengan Si Mahasiswa Almamater Biru, sudah seminggu ia merasakan hidup seorang pengungsi bencana banjir. Baju, sarung serta kolor yang terlipat rapi di dalam kardus, ditemani selimut blaster di tiap tidurnya di pojok kamar yang bila siang disebut Kantin Kampus. Seminggu pula ia bersembunyi dari kejaran-mata Satpam kampus, agar tetap bisa tidur di kamar yang juga di sebut kantin tersebut.

                Lain lagi dengan Si Almamater Cream, ia sangat bosan dan tersiksa melihat Ayahnya yang sebagai Juragan Kos-kosan di Kota ini. Ia tersiksa melihat ayahnya yang Raja Tega mengusir teman-teman mahasiswanya yang terlambat bayar penginapan. Ia bosan dengan sikap ayahnya yang isi kepalanya hanyalah rupiah semata.

                Hingga ia memilih untuk tinggal bersama anak jalanan yang tak jelas tempat ngamennya. Di segala perempatan bangjo kota ini adalah tempat kau bisa menemukannya. Ia hidup menumpang di rumah anak-anak jalanan itu. Jadi, kesehariannya hanyalah kuliah-ngamen, kuliah-ngamen.

                Sedangkan Mahasiswa Almamater lainnya tidaklah jauh beda, mereka dipaksa untuk harus memaksa bapak-ibu mereka untuk mendapatkan beberapa juta tiap tahunnya. Belum termasuk biaya makan mereka yang 2 kali sehari.

_____

Diskusi mereka malam ini semakin riuh-hampir ricuh. Tidak terkontrol, mungkin kepala mereka panas sedangkan hatinya dingin. “Entah ada apa dengan rakyat saat ini? Mereka terlihat haus akan rupiah!” Seorang di antara mereka mencoba mengatur jalannya diskusi.

“Aku juga heran, bisa-bisanya kita dijadikan mesin atm dan dompet bagi mereka. lihat saja harga yang mereka patuk! Mulai dari tempat berteduh sampai yang kita makan, semuanya gila-gilaan,” ucap yang lainnya.

“Sudahlah! Sekarang sudah tengah malam. Diskusi ini ditunda dulu, kita lanjut minggu depan! Yang jelas, dari diskusi ini kita harus bisa menyadarkan para rakyat bahwa kita, kita adalah rekan mereka, bukan mahasiswa lilin, bukan pula mesin ATM. Itu tujuan kita. Mengerti?” berkata Si Almamater Merah.

“Mengerti!” Semuanya serentak menjawab. Mereka bergegas cuci kaki di toilet kampus, kemudian bersama-sama merebahkan tubuh di lobi kampus itu. Berjejer rapi, layaknya ikan teri yang yang siap dijemur kembali di esok hari.

  • view 164