HIkayat Gadis Kuyang

Jay Jaya
Karya Jay Jaya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 April 2016
HIkayat Gadis Kuyang

Gadis mana yang tak ingin tampil menawan bak rembulan, menjadi incaran setiap lelaki dalam hidupnya? Dan tak seorang gadis pun yang ingin merana, karena tak ada perjaka yang menginginkannya di seumur hayat. Betul begitu? Namun apalah daya, bila Sang Pencipta para gadis tersebut justru menginginkan salah seorang dari gadis ciptaannya itu di beri wajah yang tak seindah rembulan, hingga para perjaka tak berhasrat pada si gadis itu?

            “Sudahlah, Mus! Hidupmu tak layak kau tangisi hanya karena tak seorang perjaka menghendakimu,” ucap Selfa pada tetangganya itu, Si Mustikanti, gadis celaka yang hari-harinya dilalui dengan menangis dan menangis.

            Seorang Mustikanti cukup tenar di kampungnya, namun tenar karena penduduk menganggapnya sebagai gadis celaka yang tak memiliki wajah seorang gadis. Mereka lebih suka menganggapnya sebagai pria gelap berambut keriting, beralis tebal, namun dada dan kelaminnya adalah milik seorang gadis. Ada pula yang menuduhnya sebagai gadis celaka yang keluar dari rahim seekor ajak betina. Bahkan, Si Eka akan mengumpat jika melihat gadis yang wajahnya lebih luka dari wajah Si Cantik miliknya itu. Jadi tak usah ditanya perihal kerjaan si gadis celaka yang tiap hari hanya mentangisi hidup.

            Padahal, hampir setiap gadis lain di kampung itu telah sudih berteman dan membujuknya setiap hari. Mencoba menyenangkan hati gadis itu, selalu ada di sisinya, dan menghabiskan waktu untuk ikut prihatin dan siap menyeka air mata Si Mustika. Walau sebenarnya semua itu mereka lakukan hanya karena begitu kasihan pada wajahnya yang tak sedap dipandang itu. Dan meski terkadang mereka juga tak bisa menahan diri untuk menertawakan wajah itu.

            Di suatu hari yang tak terduga, telah hinggap suatu kabar angin di telinga Mustikanti yang sedang sibuk menjatuhkan bulir-bulir airmata di atas kasur dan bantal di kamarnya. Entah dari mana asal kabar angin itu, dan entah bagaimana ia bisa sampai di lubang telinga gadis malang itu. Mungkin kabar angin itu di tiup oleh bibir-bibir para gadis yang gemar berkumpul dan bergunjing ria di warung-warung pagi hari.

            Rupanya kabar itu bukan kabar angin biasa. Bagi Mustikanti, kabar itu adalah kabar angin nan sepoi-sepoi, yang dapat menyejukkan hatinya yang telah lara sekian lama. Kabar itu mengabarinya bahwa ada seorang dukun tua yang dengan ilmunya, dapat merubah wajah orang secantik wajah Nawang Wulan, gadis kahyangan yang mulai terlupakan. “Aku harus menemui dukun tua itu, dan menerima semua ilmunya,” pikir Mustikanti dalam hati.

            Dukun tua itu cukup jauh dan musykil ditemukan. Ia bermukim di antara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, dekat dengan Sungai Mahakam. Cukup jauh dari tempat kaki Mustikanti berpijak yang berada di Kalimantan Barat. “Hanya dengannya, aku dapat merubah nasibku yang celaka menjadi bahagia,” lagi-lagi pikirnya dalam hati.

            Ajaib. Tak butuh waktu lama bagi seorang gadis sakit hati seperti Mustikanti untuk menemukan Si Dukun Tua. Meski hilang nurani, hatinya yang mantap, dan tekad bulatnya-lah yang memudahkannya menjumpai dan berdiri di depan mata Si Dukun Tua.

            “Seberapa dalam keputus asaanmu, hingga datang ke mari?” tanya Si Dukun Tua.

            “Parasku adalah alasan kedatanganku ke sini. Aku tak bisa menangis lagi. Airmataku telah surut, Nek! Bahkan gadis jelek sepertiku, juga ingin bahagia,” desak Si gadis. Seakan matanya ingin kembali menangis, namun sayang, ia telah mengering.

            “Kau sudah tahu bahwa aku bukan Tuhan, bukan? Jadi pertolongonku ini sudah pasti berbatas dan ada kekurangannya.”

_____

            Dari pintu rumah Si Dukun Tua, ia pulang dengan begitu riang, terpancar senyum lebar dari wajah buruk itu. Ia tak pernah segembira ini sebelumya. Di sepanjang jalan, orang-orang hanya tersenyum-kebingungan dibuatnnya. Bahkan sebagian mengejek, melihat senyum gadis itu. “Apa yang terjadi, Nak? Sudah ada perjaka yang mempersuntingmu kah?” tanya seorang wanita paru baya di dekat rumahnya. Namun gadis itu hanya berlalu tanpa jawaban.

            Sesampainya di rumah, cermin adalah hal pertama yang ingin ia lihat. Dan benar saja, wajahnya tak lagi menyerupai wajah lelaki. Pun dengan kulit gelapnya kini menjadi putih bersih dan pipi merah merona, serta rambut keritingnya seakan sehalus dan selurus benang sutera. Ia habiskan hari dengan menyisir dan bercermin di hadapan kaca.

            Pagi-pagi buta, ia sudah siap dengan dandanan yang sempurna. Mustikanti hendak memamerkan ujung kaki hingga ubun-ubun kepalanya pada semua pasang mata di keramaian itu. Ia benar-benar tampil menawan pagi itu. Ia bukan lagi gadis celaka yang buruk rupa, kini ia gadis mutiara yang bahkan lebih indah dari Nawang Wulan, sang bidadari kahyangan. Antara percaya dan tidak. “Kaukah itu Mustikanti? Si Gadis Celaka di kampung ini?” teriak seorang perempuan separuh baya padanya.

            Entah perjaka mana yang akan siap menjadi Jaka Tarubnya di hari itu. Bukan main, seisi pasar heboh dibuatnya. Perjaka-perjaka muda dibuat sibuk olehnya. Mata mereka dipaksa sibuk melototi seluruh lekuk tubuh, pun dengan mulut mereka yang disibukkan dengan siulan-siulan.

            Bahkan di hari itu, ada beberapa perjaka yang datang ke rumahnya. Tak sabar untuk mempersunting diri Mustikanti. Namun, karena sifat dengki masih menjarah hatinya, Mustikanti mematahkan semua hati perjaka yang datang. Tanpa terkecuali hinaan juga ia keluarkan dari bibirnya, persembahan untuk para perjaka hidung belang itu. Dendamnya dibayar tuntas di hari itu juga.

            “Rasakan apa yang kurasa! Dasar perjaka kadal! Dikala aku terhina, melihatku pun kau enggan,” ucapnya lantang di depan para perjaka itu.

_____

            Malam itu begitu mencekam. Kesunyian turut ikut andil dalam memeriahkan malam celaka ini. Pun dengan lampu-lampu rumah penduduk yang biasanya menyala remang-remang, kini serentak padam. Hanya senter yang kadang berkedip-kedip secara acak.

            Tepat pada satu jam setelah tengah malam, tiba-tiba para penjaga kampung di depan sebuah gardu tua dikagetkan dengan munculnya makhluk yang hanya berkepala dan ber-jeroan, sedang berjalan-melayang, berlalu di hadapan para penjaga tersebut. Para penjaga tak kuasa berteriak, tak mampu pula bergerak, menjauh dari makhluk itu. Beruntung, hantu aneh itu hirau pada mereka.

            Sesaat setelah makhluk berkepala dan ber-jeroan itu berlalu dan hilang ditelan gelap malam, seorang dari penjaga itu tersentak, kemudian menarik kedua temannya. “Segera sampaikan ke seluruh penduduk desa, bahwa mulai malam ini, desa kita dihantui oleh Si Kuyang!” perintah sang penjaga pada kedua temannya.

            Sekonyong desa jadi geger pagi itu. Seorang perempuan paruh baya menjerit histeris, melihat perut sapi ternaknya berlubang-koyak. Seisi perutnya pun telah hilang. Seperti ada segerombol ajak kelaparan menghabisinya. Segera para penjaga memberitahukan perihal kejadian semalam. Tentang adanya hantu Kuyang yang berjalan-melayang di hadapan mereka. “Desa kita tak aman lagi,” teriak Pak Lurah di depan warganya.

            Pagi itu pula, rumah Mustika si gadis yang baru saja dicap kembang kampung itu, kembali diramaikan oleh para warga. Naas, kali ini bukan untuk melamar. Melainkan meminta agar Mustikanti tidak melahap hewan ternak para warga ataupun bayi-bayi yang sedang tertidur pulas di dalam perut para ibu.

Warga tahu, bahwa Mustikanti Si Kembang Desa di siang hari adalah Mustikanti Si Gadis Kuyang di malam hari. Hantu kuyang yang tak segan-segan melahap segala ari-ari perempuan bunting, isi perut hewan ternak di kampung, ataupun hanya sekedar menjilat-jilat teras rumah penduduk.

Sejak itu,warga ataupun para perjaka tak lagi mengelu-elukan kecantikan Mustikanti. Secantik apapun ia di siang hari, ia tetaplah makhluk mengerikan di gelap malam. Tak ada lagi perasaan takjub pada kecantikannya itu. Seluruh warga mengucilkan gadis malang itu. Tak satupun warga yang berani mendekatinya. Orangtuanya pun, lebih memilih berpindah ke kota dan meninggalkan anak gadisnya yang membuat malu tersebut.

Namun, ada seorang pemuda di kampung itu, yang masih setia pada kecantikan Mustikanti. Pemuda itu sungguh jatuh hati padanya. Siang dan malam, ia selalu ada di samping gadis jadi-jadian itu. Hampir setiap subuh, Si Pemuda selalu setia mengantar-jemput kekasihnya itu dengan menggendongnya dengan sebuah bakul. Mengantarnya kembali ke rumah, bila Si Gadis Kuyang terlalu jauh bermain di malam hari.

                                                                                                                                                                                    Yogyakarta, 23 Maret 2016

  • view 226