SAFARI RAMADHAN MATAN, MENEPIS RADIKALISME DENGAN SPIRITUALISME

Rozik Kasado
Karya Rozik Kasado Kategori Agama
dipublikasikan 10 Juni 2016
SAFARI RAMADHAN MATAN, MENEPIS RADIKALISME  DENGAN SPIRITUALISME

Ajaran radikal bukan sesuatu yang baru. Melainkan sudah ada sejak zaman khalifah Ali bin Abi Thalib yaitu kelompok Khawarij. Kelompok ini selalu melakukan pemberontakan terhadap pemimpin (khalifah) yang dianggap bertentangan dengan pemikiran aqidah mereka. Bahkan bukan hanya itu, mereka tidak segan-segan untuk membunuh orang yang dianggap sesat.

Kelompok ini dalam memahami ajaran Islam (Al-Quran dan As-Sunah) hanya secara teks tual. Tidak heran jika mereka menginterpretasikan ayat-ayat Alquran berdasarkan pemahamannya sendiri atau golongannya. Sehingga, simbol-simbol agama dijadikan sebagai alat intrumen politik untuk mendapatkan simpatisan dan dukungan dari masyarakat. Tidak menutup kemungkinan pula, akibat dari pemahaman yang dangkal, dan watak yang keras, menyebabkan mereka menjadi kelompok yang eksklusif, dan bahkan bisa membahayakan orang lain.  

Pertanyaannya “Apakah Ali tidak melakukan deradikalisasi terhadap kelompok radikal tersebut? Ali melakukannya dengan mengutus Ibnu Abbas. Tetapi, kelompok radikal itu berjumlah sekitar 25 ribu dan yang berhasil disadarkan hanya 12 ribu. Paparan “Kiai Dr. Akhmad Sodik, atau yang biasa disapa dengan nama Abah Sodik selaku pembicara Safari Ramadhan Matan di Masjid Fatullah UIN Jakarta. (Rabu, 8 Juni 2016).

Abah Sodik memaparkan kelompok radikal di Indonesia sering kali menginginkan negara Indonesia menjadi negara Islam. Pertanyaannya “Negara Islam yang model seperti apa”? apa Islam model NU, Muhammadiyah, atau Wahabi. Pastinya tidak ada kesepakatan diantara mereka, jika salahsatu menginginkan model Islamnya diterapkan. Sepertihalnya orang NU menginginkan Islam ala NU nanti orang Muhammadiyah menolak, jika orang Muhammadiyah menginginkan Islam model Muhammadiyah, orang Wahabi langsung menentang, apalagi Islam model Wahabi pasti NU marah.

Seandainya kelompok radikal memahami Islam secara tuntas kemungkinan tidak menginginkan negara Indonesia dijadikan negara Islam. Karena Pancasila sudah sesuai dengan nilai-nilai Islam. Para ulama Indonesia pun sudah tidak mempermasalahkannya lagi mengenai NKRI yang berdasarkan Pancasila. Yang terpenting adalah masih terdapat unsur-unsur Islam dalam negara.

Di satu sisi kelompok radikal itu tidak menyadari bahwa negara sudah memberikan haknya terhadap warga negaranya untuk beribadah. Contoh umat Islam di Indonesia melakukan ibadah madho (pribadi) seperti dzikir, pembacaan berzanzi dan tahlilan dari subuh sampai subuh tidak ada larangan dari pemerintah, kalau di Arab membaca berjanji aja tidak boleh apalagi di makam Rasulullah SAW, pasti langsung dibilang bid’ah dan di usir. Hal seperti inilah kadang dilupakan oleh mereka, sehingga mereka tidak sadar apa yang mereka sudah perbuat di negara yang tercinta, damai dan toleran ini.

Seorang umat Islam terhadap Islam lainnya itu harus saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, bukan saling musuh memusuhi diantara yang lainnya. Karena sifat memusuhi bukan merupakan ajaran Rasulullah SAW, yang merupakan ajaran Rasulullah adalah apabila ada seorang muslim yang disakiti maka orang muslim lainya harus membantu untuk menyelesaikan permasalahannya dengan cara yang baik dan benar, bukan dengan cara ekstrem dan kekerasan untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Karena belum tentu kekerasan dapat menyelesaikan sebuah permasalahan. Sebagaimana dalam hadis Nabi:

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam” (HR. Muslim).

Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mutabaroh An-Nahdliyyah (Matan), murupakan organisasi yang berbasis thoriqoh. Ajaran thoriqoh ini merupakan ilmu-ilmu para ‘ulama yang keabsahannya sampai ke Rasulullah SAW, sehingga wajib diikuti khususnya bagi umat Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi phenomena yang ada ajaran thoriqoh hanya terkesan untuk kaum tua. Sebenarnya tidak demikian, ajaran thoriqoh masuk berbagai kalangan, baik yang muda maupun yang tua. Yang terpenting dapat menjaga prinsif-prinsif ajaran thoriqoh itu sendiri.

Prinsif agama atau thoriqoh adalah Laa Ikraha Fiddin (tidak ada paksaan). Ajaran thoriqoh merupakan ajaran yang lembut dan damai. Sifatnya yang lembut menunjukkan tidak ada unsur paksaan dalam melakukannya. Sehingga pantas ajaran thoriqoh menjadi sebuah benteng untuk mencegah perbuatan-perbuatan yang buruk atau radikal. Karena sifat buruk merupakan penghambat bagi manusia untuk melakukan hal kebaikkan.

Sifat buruk bisa dirubah menjadi baik, dengan cara dzikir, ibadah, wukuful qolbi, tawazun, dan mujahadah. Kelima ajaran tersebut merupakan ajaran thoriqoh yang akan menjadi elemen-elemen kebaikkan bagi manusia. Thoriqoh bagaikan sinar matahari sedangkan sifat buruk bagaikan batu es. Bila batu es terkena matahari, maka batu es akan meleleh dan hancur. Begitu pula dengan manusia, jika manusia sering mengingat Allah SWT serta menjalankan perintahnya-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya, maka akan menjadi insan yang damai dalam kehidupannya, serta tidak mudah menyalakan orang lain, memfitnah, bahkan mengkafirkan, “Pungkas Abah sodik”.

  • view 162