Politik Berkeadaban

Rovii
Karya Rovii  Kategori Politik
dipublikasikan 09 Juli 2018
Politik Berkeadaban

Oleh Rovii

Aktivis Muda Muhammadiyah Jawa Barat

MEMBACA berita di koran dan media online akhir-akhir ini membuat bulu kuduk saya merinding. Di satu sisi miris dan di sisi yang lain taku, menyaksikan dagelan luar biasa dari para politisi di negri ini. Betapa tidak, kekuasaan plus kesenangan duniawi selalu menjadi daya tarik, yang menyebabkan mereka lupa atas fungsinya sebagai hamba Tuhan (abid). Kekuasaan seolah menjadi tujuan hidup utama (ultimate goal) mereka yang dengan gagah mengidentifikasi diri sebagai "wakil rakyat". Dalam bahasa Agama, mereka berlomba latah menyebut dirinya sebagai "khalifah" di muka bumi (khalifah fi al-ardh). Kekuasaan pun merayu mereka dengan daya tarik seksis dan erotis. Kekuasaan berubah jadi titik awal mengobarkan nafsu "penguasaan atas aset berharga" milik orang banyak: menggadaikan suara rakyat untuk tujuan pribadi dan kelompoknya.

Jangan heran bila demokrasi di negeri ini menghalalkan ajeknya "politik aristokrat". Sedulur-dulur namanya nangkring di kursi birokrasi dan pemerintahan. Bahkan, simbol keagamaan pun dijadikan pelindung ampuh untuk menipu rakyat. Keshalehan berpolitik hanyalah simbol belaka atau reflika yang hanya dipajang secara seremonial. Bersama kekuasaan inilah nilai-nilai keshalehan diperjualbelikan karena Tuhan berada di luar jauh dari segala aktivitas politiknya. Kita, tidaklah usah heran bila saja kemiskinan dan kesengsaraan dijadikan objek pencitraan di berbagai media untuk mendongkrak elektabilitas. Tak usah heran pula bila saling jegal terjadi tatkala umat manusia berebut kekuasaan. Bahkan, jangan heran kalau nyawa seseorang dipertaruhkan untuk merebut kekuasaan. Ketika kekuasaan itu dapat diraih, maka tak ada lagi kemiskinan dan kesengsaraan dalam empati mereka. Inilah yang saya takutkan dan khawatirkan ketika Islam dijadikan platform politik yang sekadar simbolik.

Tepat kiranya, bila Pramoedya Ananta Toer, mengatakan bangsa Indonesia tengah menjadi "bangsa budak dari bangsa sendiri". Artinya, kita berada pada aktivitas penjajahan terselubung, kepura-puraan politis, dan kepedulian imagogi politik. Sekadar berpura-pura peduli dan mendengar aspirasi karena hendak menjadi pembual sebagai penguasa yang adil, bijaksana, dan peduli dengan derita rakyat. Meminjam suara rakyat saat hendak berkuasa, namun sesaat kekuasaan diraih dan dipegang suara nyaring rakyat tidak lagi didengar. Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Seperti halnya ajaran langit yang membebani setiap hamba memikul tanggung jawab kemanusiaan. Ajaran ini hanya dijadikan cuap-cuap politik an sich, hanya bumbu penarik selera politik kalangan sektarian semata, bahkan hanya jadi penghias di halaqah hijbiyah tanpa pengamalan dalam ujud nyata para politisi.

Islam yang tidak bersalah pun tentunya menjadi objek kekesalan warga karena ajaran Ilahi menjadi garis perjuangan partai berasaskan Islam. Namun, kenyataannya masih melangit dan menciptakan kemunafikan diri. Kita (umat Islam) berdosa karena ajaran luhung yang berasal dari langit, tidak lagi membumi. Bahkan, tidak lagi membebaskan umat manusia karena telunjuk kita banyak menyalahkan orang lain sementara nafsu keserakahan di ranah kepolitikan dalam diri tidak kita bentengi dengan nilai, moralitas, dan etika.

Saya tidak begitu faham dengan pola pikir politisi yang menjadikan Agama sebagai aksesoris politik kekuasaan. Bahasa agama, yang disakralkan kini menjadi bahan olok-olok warga dari mulai para pengangguran, karyawan, buruh, tokoh, dan kaum nasionalis. Betapa tidak, ajaran Islam yang rahmatan lil alamin dan begitu santun dari sisi akhlak politik, begitu rendah dalam pandangan mereka.

Kendati tidak mencerca secara frontal terhadap Islam, saya begitu khawatir pesan kebaikan (al-ma'ruf) yang disampaikan ustaz, Kyai, dan ulama tidak akan membekas di hati publik. Alhasil,  kebaikan dan kebenaran pun menjadi abu-abu.  Akhirnya, kalau para politisi Partai Islam tidak bisa menjaga moralitas, nilai luhur, dan etika kepolitikan; saya pikir kemajuan Islam dihalang-halangi oleh oknum aktivis yang menjual simbol agama untuk meraih suara rakyat.  Wallahua'lam

  • view 69