Masih ada yang lebih membutuhkan

Rosyid Mu'afa
Karya Rosyid Mu'afa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 November 2017
Masih ada yang lebih membutuhkan

Acara kampus yang masih padat memaksaku berangkat kekampus. Motorku kutitipkan dirumah, kata bapak motornya akan dibawa kebengkel dulu untuk dicek ulang. Setiap hari aku biasa berangkat kekampus dengan motor supra pemberian orang tuaku. Aku tak pernah mengakuinya sebagai barang milikku, karena orang tuakulah yang membelinya, bagiku itu milik mereka dan akan tetap menjadi milik mereka.  Pagi itu aku bangun kesiangan, digrup organisasi sudah ramai dengan himbauan dan pengumuman, agar segera datang sebelum pukul delapan, karena peserta akan datang pukul delapan. Aku dibangunkan ibu, untuk segera mandi dan persiapan berangkat kekampus. Aku ingat ini hari minggu, dan ibu akan berangkat untuk mengikuti pengajian. Seusai mandi, ibu menanyaiku, “kamu berangkat mau naik apa?” Tanya ibu kepadaku. Kujawab “Aku mau naik bus.”  Ibu pun menanyakan hal lain, “sudah sarapan ?” ibu agak cemas. “ ndak ah, nanti disana dikasih makan.” Jawabku pelan.

Aku berjalan dengan menenteng tas berisi buku, baju dan laptop. Aku sengaja tidak memakai jaket karena malas saja. Jarak rumahku menuju terminal sekitar 1 km, cukup melelahkan memang, karena sudah terbiasa, aku tidak terlalu lelah. Sampai diterminal aku membeli tiket bus seharga 3,5 k dan langsung masuk kedalam bus yang masih kosong. Bagiku ini pengalaman pertama setelah 3 tahun aku tak pernah naik angkutan umum. Dulu aku sering naik bus, karena belum punya motor dan setelah ibu membelikan aku motor, aku tak pernah berangkat kuliah dengan naik bus. Sampai dikampus sekitar pukul delapan, berangkat dari rumah tadi aku pukul setengah delapan. Lumayan cepat,  jalanan masih sepi, sebab ini hari minggu.

Aku berpapasan dengan dua temanku yang boncengan naik motor entah mereka mau kemana, aku hanya memandang kedepan, kearah jalanku menuju masjid. Mereka menyapaku dengan memanggil namaku dengan suara lembut sambil menganggukkan kepala. Aku hanya tersenyum dan melanjutkan perjalananku kearah masjid yang 200 meter lagi akan sampai. Setiba dimasjid, aku masuk keruang utama, kulihat jam dinding menunjukkan pukul 08.00 WIB. “ yang lain dimana?”  tanyaku kepada peserta yang sudah datang. “ masih dikos mas, baru mau berangkat.” Jawabnya sambil memandang kearahku.

Acara dimulai pukul 09.00 wib, aku ditugaskan untuk membawakan acara. Sebagai mc, aku membuka acara dengan salam dilanjutkan dengan pembacaan alquran. Aku bingung apa yang harus aku omongkan, karena sudah lama sekali aku tak bicara didepan. Aku terdiam  lama dan membuat basa-basi tiada guna dihadapan para peserta. Entahlah, apa yang kubicarakan, sepertinya tak ada poin yang dapat diambil. Sambutan pertama diisi oleh ketua acara, lalu dilanjutkan dengan materi yang diisi oleh pembicara dari luar. Acara selesai sekitar pukul 11.45 dilanjutkan dengan sholat dhuhur dan makan siang.

Makan siang antara laki-laki dan perempuan dipisah, laki-laki berada disisi utara masjid, sedangkan perempuan berada disisi selatan masjid.  Para peserta sedang menikmati hidangan yang dibeli oleh Lia diwarung padang. Peserta diwajibkan membayar 10 ribu untuk membeli makan. Aku sedang duduk dan ngobrol dengan zaky kawanku didepan masjid. Hanya ada aku dan zaky saja saat itu, aku bercerita tentang  nasi kotak yang kutawarkan kepada seorang teman perempuan, nasi kotak tersebut tidak diterima, dan disamping menolak, dia juga berkata, “aku tak biasa makan nasi kotakan gitu, kasihkan tukang becak aja.” Mak jleb, aku tersontak, lalu kami berdua menertawakan ceritaku.

Ada beberapa makanan yang sisa, dari pihak laki-laki, sedangkan dipihak perempuan aku tidak tahu. Aku mencoba bertanya kepada iqlima yang sedang duduk dipojok selatan masjid. Kutanyakan kepada iqlima, masih adakah nasi yang sisa, kata iqlima ada, ia berdiri dan mengambilkan plastic hitam yang besar lalu memanggilku. Kuanggukkan dan kutunjuk kearah yang dekat dengannya agar dia letakkan plastic itu disana. Sedangkan, Aku masih asyik bercanda dengan zaky, ia masih tertawa terbahak-bahak mendengar ceritaku tadi.

Pukul satu acara akan segera dimulai, aku meminta kunci motor zaky, “ mau kemana ?” Tanya zaky penasaran. “mau nganter nasi yang sisa keorang-orang dipinggir jalan.” jawabku membujuk. Lalu kunci motor zaky, diberikan kepadaku dan akupun segera berangkat untuk membagikan nasi padang sisa makan siang.

Aku meluncur dengan motor revo hitam merah milik zaky. Menyusuri jalan imam bonjol sambil mengamati, adakah orang yang pantas kuberi sebungkus nasi dan segelas air mineral. Sampai perempatan lampu merah, aku tidak menemui satupun orang yang mengais rejekinya disana. Biasanya mereka ada disana, entah itu untuk menjual Koran atau bahkan mengemis kepada para pengendara. Kubelokkan motor kearah jalan pemuda, aku lirik kepedestrian, siapa tahu ada orang. Yap, aku kelewatan, kulihat sekilas ada orang yang sedang duduk diemperan toko, rambutnya gondrong kumal, pakaiannya lusuh kecoklatan. Aku putar balik motor dan menuju kearah orang tersebut. “pak,…?” panggilku pelan. “ purun sekul pak? “ tambahku. Bapak itu diam tak menjawab sapaanku, kukira orang itu gila. Ah sudahlah, aku tak peduli dengan hal itu. Kuberikan satu bungkus nasi padang dari Lia dan segelas air mineral yang kuambil dari kardur depan masjid. Kulihat ada dua laki-laki gagah yang sedang duduk-duduk dikursi pedestrian sedang memperhatikanku, sebelum Kutinggalkan bapak itu,, dan kuucapkan terimakasih kepadanya.

Masih ada dua bungkus nasi lagi yang kubawa, aku menuju jalan pemuda, disisi kanan jalan terdapat beberapa warung makan dan restoran. kulewati warung-warung yang berjejeran tersebut, terlihat hiruk pikuk orang yang ada disana, sangat ramai dengan pengunjung. Pelan-pelan kujalankan motor tersebut, sambil lirik kanan-kirim siapa tahu ada orang lagi yang pantas kuberi sebungkus nasi. Disisi kanan jalan kudapati ada seorang laki-laki paruh baya, sedang memikul karung dan memungut sampah dipedestrian, aku menepi dan menemui bapak tersebut. Usianya  sekitar 50an kulihat bapak ini pakaiannya kumal dan rambutnya berantakan, tapi sepertinya tak separah orang yang tadi. “ mau nasi pak ? “ tanyaku sambil mengambil nasi didalam plastic. “ iya mas, makasih mas.”  Bapak itu dengan senyum lebar. Kulihat ada tato kecil ditangannya dan tato yang panjang dibetis kakinya. Aku sempat berfikiran negative tentang orang ini, tapi kuurungkan.

Aku baru sadar, kalau tadi salah satu nasi yang sisa, sudah kubuka dan kuambil ayamnya kuberikan kepada kucing yang ada dimasjid. Aku mendorong motor revo dari pedestrian pemuda dan mencoba untuk mencari satu orang lagi yang pantas menerima nasi bungkus dari Lia. Kudapati tak jauh dari bapak-bapak pemungut sampah tadi, ada seorang laki-laki yang sedang mencari sesuatu ditong sampah. Aku coba dekati orang tersebut, pakaiannya hitam kotor dan banyak lubangnya. Rambutnya panjang dan kulitnya tak terawat. “pak mau nasi?” kutanya dengan nada tenang. Orang itu masih diam tak menjawab pertanyaanku. Kubuka plastic hitam yang kubawa, aku ingat nasi ini tak ada ayamnya, “bagimana ini, bapak ini akan makan tanpa lauk ayam.” keluhku dalam hati. Ah tak apa lah dari pada kubuang, kan sayang, mending aku kasihkan keorang ini saja. Kulihat orang itu sedang memungut sesuatu dari sampah warna biru. Dia mendapatkan sisa nasi bungkus dan tulang ayam yang ada didalamnya. Semua makanan yang ada dalam tong sampah sepertinya sudah ia keluarkan untuk santapan makan siang. Aku datang membawa plastic hitam berisi makanan dan air mineral. Sepertinya orang ini juga gila, aku merasa sangat kasihan dengan nasib mereka. Kuberikan nasi bungkus dari Lia dan segelas air mineral. Melihat air mineral yang kuturunkan kebawah, orang itu langsung mengambilnya, sepertinya dia sedang haus. Ia mencari sesuatu untuk membuka aqua gelas tersebut. Dia mengambil tulang ayam yang ada disampingnya, tentu saja sangat tumpul untuk bisa membuka aqua gelas tersebut. “tuk..,,tuk.,.,” orang itu mencoba membuka aqua gelas tersebut, namun masih gagal. Aku menunjuk sedotan yang ada disampil aqua gelas, yang ia ambil sebelumnya. “ buka pakai itu! “ aku menunjuk kearah sedotan kecil tersebut. Dia mengambil sedotan itu, dan membuka aquanya, lalu ia meminumnya. Mungkin ia sangat haus sekali, begitu melihat ada air ia langsung ingin menghilangkan dahaganya.

Kuputar motor dan menyalakan mesinnya. Kutinggalkan orang tadi, lalu aku pulang menuju masjid untuk melanjutkan acara. Sepanjang perjalanan aku merenungkan banyak hal, tak selamanya ada warung makan atau restoran atau kafe atau apapunlah toko yang menjual makanan, bisa membuat orang yang ada disekitarnya kenyang. Tak semua orang bisa makan, oleh karena itu jangan menyia-yiakan makanan. Makan secukupnya, jangan mentang-mentang kaya, kau buang makanan, tak dihabiskan. Diluar sana masih banyak orang yang membutuhkan makanan, bahkan hanya demi sesuap nasi mereka rela memungutnya dari tong sampah yang peuh dengan kuman dan kotoran.

  • view 19