Salah Tempat Belanja

Rosyid Mu'afa
Karya Rosyid Mu'afa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Agustus 2017
Salah Tempat Belanja

Bangun tidur saya dibangunkan oleh ibu. saya diminta untuk belanja sayur matang untuk sarapan bapak. Pesan ibu kepada saya saat saya masih diatas tempat tidur setengah sadar, “ beli sayur kangkung dua ribu, sisanya terserah kamu! , ets uangnya Cuma lima ribu, jangan bawa banyak-banyak.” Setelah itu saya langsung mengambil kunci motor supra hitam jadul saya, dan berangkat kewarung penjual lauk, tanpa cuci muka, kaki dan tangan, saya langsung kelokasi. Perjalanan menuju warung makan saya naik motor sambil ucek-ucek mata, masih ada belek (bahasa indonesianya) dikelopak mata saya, kucek-kucek agar terlihat jalan didepan, karena agak burem mata saya memandang. Setelah saya mendapatkan apa yang dipesan ibu saya, langsung saya pulang kerumah. Eh sebelum saya sampai diwarung tersebut, saya sempet kesel dibuat oleh pembeli sayur lain yang memarkir motornya ditengah jalan, yang menutupi jalan motor saya untuk masuk kewarung. Tapi akhirnya saya coba masuk, dan Alhamdulillah cukup untuk masuk satu motor.

Dirumah ibu dan bapak sudah menunggu sayur untuk dimakan berdua. Ibu saya meminta saya untuk kulakan lagi, saya disuruh kulakan ditoko kondang. Oke, I get it. Saya menyiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk menyangga barang-barang kulakan tersebut seperti ; tali, tas, uang, eh, catatan belanja. Saya berangkat tanpa menggunakan jaket, hanya memakai kaos berkerah dan celana jins yang bagian lututnya sobek dua. Saya ditegur oleh ibu dan bapak saya, tapi saya tidak menghiraukan keduanya. Sayapun berangkat dengan motor bapak, lengkap dengan perlengkapan belanjanya.

Sampai dijalan saya mengambil jalur sukarno hatta, jalan pintas menuju tlogosari. Kali ini tujuan saya adalah toko snack kuda mas. Selama lima belas menit saya menempuh perjalanan, saya tidak ingat pesan ibu, nanti belanja ini, itu dan anu. Saya yakin semua sudah tercatat dikertas catatn belanja yang ditulis ibu. Setelah lima belas menit berlalu, sampailah saya ketoko kuda mas. Disana saya disambut oleh karyawannya yang sudah mengenal saya, karena saya sering belanja kesana. Eh  bukan  saya terkenal, tapi bapak saya yang mereka kenal. Saya hanya meneruskan bapak saya yang sering belanja snack disini. Saya turun dari motor, saya letakkan helm, sedangkan earphone masih menemper ditelinga saya. Saya buka dompet dan saya baca sebentar. loh kok isinya pangsit, kacang tj, dan belanja retail lainnya yang tidak tersedia ditoko kuda mas. Hampir saja saya serahkan catatan tersebut kepada karyawan yang mendekati saya, setelah saya baca, ternyata saya salah tempat. Belanja yang seharusnya ke toko kondang dargo, malah salah tempat ketlogosari toko kuda mas. Para karyawan yang siap melayani apa yang saya akan beli kecewa melihat saya, yang tidak jadi belanja, dengan yang tidak masuk akal “ alasan waduh mas, catatnnya salah, yang asli ketinggalan dirumah.” Terang saya. “Wah piye to mas,”  sahut mereka.

 Tidak menunggu lama saya langung menunggangi motor saya dan menuju kepasar dargo. Ketika saya sampai dipasar dargo, saya dikecewakan oleh keadaan, iya, toko kondang tutup. Tapi saya tidak menyerah begitu saja, saya bertanya kepada tukang parkir yang sedang berdiri didepan toko, pak tokonya tutup ? Tanya saya penuh kekecewaan. Ndak mas, masnya saja yang telat, tadi buka kok, coba ketuk saja. Jawab tukang parkir tersebut. Akhirnya saya memarkirkan motor saya didepan toko dargo.

Tok,..tok.took.. mbak, mbak…mbak….

Apa mas..?

Pak sakri belanja, ini mbak.

Tapi ciknya masih istirahat, ndak bisa langsung,

Masak sih, saya pensaran. Saya intip pintu yang sedikit terbuka, iya memang benar didalam tidak ada ciknya yang biasa melayani ditempat kasir. Yang ada hanya anak perempuan ciknya yang tidak tahu harga barang-barangnya.

Yaudah mbak ini catatannya, ambil jam berapa?

Jam tigaan mas,

Oh oke

Saya pun meninggalkan toko kondang dan pulang kerumah dengan membawa sedikir belanjaan dari toko Gloria yang menjual plastik.

  • view 47