Masjid, Pelayanan yang Terabaikan

Rosyid Mu'afa
Karya Rosyid Mu'afa Kategori Motivasi
dipublikasikan 30 Juni 2017
Masjid, Pelayanan yang Terabaikan

Sholat jumat menjadi kewajiban bagi umat islam khususnya laki-laki. Tidak hanya laki-laki yang bisa melakukan sholat jumat dimasjid, perempuanpun dibolehkan untuk melaksanakannya dimasjid, tetapi hanya sekedar pembolehan (mubah). Pukul 11.30 WIB, atau memasuki waktu adzan dhuhur, semua laki-laki  berangkat menuju masjid untuk melaksanakan jumatan (sholat jumat). Masjid selalu ramai dikunjungi jamaah laki-laki hanya pada hari jumat. Dari  yang berjalan kaki, bersepeda, dan berkendara sepeda motor mereka  berbondong-bondong dari rumah menuju masjid.

Siang tadi pada saat pelaksanaan sholat jumat, jamaah yang menunaikan sholat membludak sampai keluar gedung masjid. Jamaah yang datang terlambat adalah mereka berada diluar masjid. Oleh pengelola masjid disediakan tikar yang ditata diatas sandal jamaah yang tertata dibelakang. Sayangnya tidak semua jamaah yang datang terlambat mendapatkan pelayanan tikar sekedar untuk alas. Mereka yang tidak mendapatkan tikar terpaksa menggunakan sajadah sebagai alas untuk sholat.

Perluasan wilayah masjid perlu diupayakan,  seiring dengan bertambahnya jamaah. Menurut pengamatan seorang jamaah, dari tahun ketahun jamaah sholat jumat tidak berkurang, akan tetapi semakin bertambah. Bertambahnya jumlah penduduk terutama menjadi sebab bertambahnya jamaah sholat jumat. Untuk memperluas wilayah masjid, dibutuhkan dana untuk membebaskan tanah. Dengan cara menghimpun dana dari masyarakat, adalah cara yang paling mudah untuk dilakukan saat ini. Takmir masjid seharusnya mengumumkan, jumlah dana yang dibutuhkan oleh masjid untuk membebaskan tanah kepada jamaah.

Yang terjadi sekarang, pembangunan masjid yang seharusnya sudah selesai tahun ini, ternyata masih banyak yang belum rampung. Baru bagian dalam masjid yang kurang dari sempurna pembangunannya. Pembangunan terbengkalai  diduga karena dana yang dibutuhkan untuk membangun masjid sangat minim. Dana yang terkumpul dari infak jamaah, hanya mampu menutup kebutuhan sehari-hari masjid.

Pemabangunan awal yang tidak memperhitungkan segi  kebermanfaatan dan kemudhorotan sebuah bangunan, membuat bangunan masjid yang rencananya dibangun menjadi besar, terasa semakin sempit. Walaupun ada fakta lain yang menjadi alasana semakin kecilnya bangunan masjid, yaitu bertambahnya jamaah sholat jumat.

Seharusnya masjid tidak hanya menghimpun dana untuk pembangunan. Pihak masjid seharusnya lebih memperhatikan tingkat pelayanan terhadap jamaah sholat jumat, seperti; kebersihan tempat wudhu,lantai, karpet dan toilet masjid, serta pelayanan ibadah lainnya. Tidak hanya pelayanan secara fisik yang perlu diperhatikan, pelayan rohani dan keilmuan juga perlu ditingkatkan. Pengetahuan keagamaan jamaah yang harus terus diasah, agar tidak terjadi pembodohan yang berkedok agama dimasyarakat. Jika hal tersebut dilaksanakan niscaya masjid akan menjadi produsen umat islam yang berkemajuan, berpendidikan dan berakhlak madani.

Jika masjid diumpamakan sebuah perusahaan jasa, maka masjid akan melayani customer yaitu jamaah dengan baik, agar mendapat kepuasan. Atau jika masjid sebuah perusahaan manufaktur, maka akan mengahasilkan produk unggulan yang paling dicari orang walaupun harganya tidak murah, tidak hanya banyak jumlahnya, tetapi juga hight quality.

  • view 84