Pesan Untuk Adikku

Rosyid Mu'afa
Karya Rosyid Mu'afa Kategori Motivasi
dipublikasikan 22 April 2017
Pesan  Untuk Adikku

Tanganku masih hangat karena sejak tadi ku panaskan dengan emosi. Aku tidak bisa menahan emosiku untuk memukul wajah adikku. kumpulan emosi masa lalu karena perilakumu adikku, kau selalu membantah apa kata orang tua.

Adikku yang kusayangi, jangan sampai kau seperti kakakmu yang penuh dengan dosa. Yang dulu membuat ayah ibumu menangis setiap malam karena tidak mengiyakan apa kata mereka. Hari ini Aku marah padamu bukan karena aku membencimu. Aku tidak tega, tapi apa daya, kau terus saja tak mengindahkan nasihatku. Mungkin juga karena setan sedang menyertai nasihatku, sehingga tanganku terangkat untuk mengenai wajah halusmu.

Menjadi merah membekas telapak tangan, panas tapi kau tahan dengan tangis tersedu-sedu. Kau pulang tanpa pengetahuan, hal yang mengejutkan untuk kita yang sedang santai bersama dirumah. Kedatanganmu memang kami tunggu, tapi kau datang disaat yang tidak tepat. Tetangga berdatangan menanyakan kabarmu, mengapa kau pulang setiap minggu.

Aku sedih menamparmu, aku menyesal telah melacuri tangan kananku dengan menyakiti wajah manismu. Adikku yang ku sayangi, aku emosi karena rasa sayangku kepadamu tak bisa aku ukur dengan alat pengukur modern buatan negeri Eropa. Apalagi jika aku hitung rasa sayangku padamu, yang membuat kalkulator jepang tak mampu menampung hitungan rasa sayang.

 Adikku maafkan aku, sekali lagi maafkan kakakmu yang membakar tangannya diwajahmu. Kalau saja waktu itu aku ingat dengan sifatmu yang tak mau mengalah dan disalahkan, tak akan terjadi pipimu merah tertampar hasta penuh dosa. Semoga menjadi pembelajaran bagiku dan kamu.

Aku tak akan mengulanginya lagi, hatiku menangis penuh penyesalan mendengar sedu sedan tangisanmu yang kau tahan. Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku. Aku tahu aku bukan orang yang sempurna untuk kau jadikan suri tauladan. Mungkin saat kutampar wajahmu kau ingat kata Muhammad “orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan emosinya saat marah“. Bahkan, terkadang pagi subuh kau yang membangunkan. Tapi sayang, kau tak mengindahkan semua itu dengan diam mendengarkan. Yang kuinginkan agar kau selalu mendengarkan nasihat orang tuamu.

 Seperti kakakmu ketika dinasihati hanya diam membisu, karena aku tahu, setiap orang butuh penghormatan, butuh pendengar saat bicara, butuh diam saat mendengar orang berbicara. Tapi kau, kau beda dik, kau selalu menyela saat ibu berbicara, saat ayah sedang mencoba memberitahumu akan mara bahaya. Kau harus tahu itu dik, ayah ibumu sangat sayang padamu. Bahkan kau pernah dinasihati lalu ingin minggat pergi dari rumah. Pernah kau dinasihati, lalu respon yang kau berikan ingin menancapkan pisau keperutmu, bunuh diri, diusiamu yang masih kanak-kanak.

 Gila! Gila! Gila! Kau ini terkadang membuatku bangga tapi terkadang membuatku terletup-letup ingin segera melampiaskan emosiku. Kau cerdas memang, selalu mendapatkan peringkat satu dikelas. Kau juga aktif, menjadi penanggung jawab organisasi OSIS sekolah. Kuakui aku kalah dengan prestasi didalam dan diluar sekolah denganmu. Kau memenangkan kompetisi cerdas cermat tingkat kecamatan, kau juga pernah menjuarai gulat tingkat kota, dan yang paling membanggakan kau memenangkan lomba gulat tingkat provinsi, walau dapat peringkat tiga. Tapi itu semua tidak cukup dik, kehidupan ini bukan soal memenangkan pertasi ini itu, lalu bangga dengan piala dan medali.

Bukan! Bukan itu dik, kehidupan harus kau lewati dengan sikap, sedangkan sikapmu yang kurang sesuai dengan ajaran membuat prestasi-prestasimu tak berguna bagiku dan ayah ibumu. Kami sekeluarga mencintaimu, kau harus merubah sikapmu yang pembangkan itu. Jangan mentang-mentang kau punya segudang prestasi,  lalu kau anggap dirimu selalu benar dalam semua hal!.

 Tidak adikku, Tidak! Kau hafalkan saja kitab yang diturunkan Tuhan kepada Muhammad, lalu kau dengar dan diskusikan apa kata gurumu. Hormati gurumu juga orang tuamu. Tidurlah dik, jangan memaksa ingin segera berangkat menemui gurumu. Sudahlah dik, kakakmu hanya mencoba menasihatimu baik-baik, semoga kau selalu mendapat naunganNya selalu berada dijalanNya mendapatkan petunjukNya.

Kalau Izroil mengambilku sebelum bertemu denganmu, semoga kau membaca pesan terakhirku untukmu.

Sincerely yours

masmu