Pengunjung Nakal Perpustakaan

Rosyid Mu'afa
Karya Rosyid Mu'afa Kategori Motivasi
dipublikasikan 27 Maret 2017
Pengunjung Nakal Perpustakaan

Pengunjung Nakal

Waktu menunjukan pukul 12.24 WIB, masih bingung soal menuliskan huruf besar atau kecil dalam WIB ( waktu Indonesia barat). Huruf k saya dalam keyboard juga sedang bermasalah. Dipencet sedikit saja dia tidak mau muncul, harusnya dua kali pencet sampai dia bunyi tek. Hehe

Saya sedang duduk disamping kaca, diruang paling barat lantai dua, bersebelahan dengan loket peminjaman, hanya kaca saja yang memisahkan. Didepan saya ada laptop dan empat buah buku yang siap saji untuk disantap siang ini. Disamping saya ada seorang wanita yang sedang memainkan gatgetnya, scroll naik turun, saya melihatnya sambil mengetikkan kata-kata dims word. Saya takut kalau dia melihat tulisan saya, eh malu bukan takut. Sambil mendengarkan lagu-lagu santai milik grup bend asal Jogjakarta, saya menuliskan apa yang sedang terlintas dalam kepala.

 Pusing saya bca buku grammar, saya lebih suka menulis dari pada membaca, untuk saat ini. Keinginan saya akan berkembang, seiring berjalannya waktu, emm,, sesuai dengan kebutuhan pikiran. Kalau sedang galau, ya pengennnya nonton film, pasa bosen nonton film, saya lebih memilih untuk berdiam diri diruang kosong perpustakaan. Sejak smp sampai sma saya lebih suka menyendiri dari pada berkumpul dengan teman-teman saya. Karena kalau saya kumpul bareng temen, saya cenderung nakal, maksud saya yang nakal itu saya, hehe, diantara teman-temin jenis orang yang sangat jail itu saya.

Grammar Grammar dan grammar, harusnya buku ini selesai saya baca satu minggu yang lalu. Karena kesibukan saya yang sedang merintis bisnis baru, ciye…. Haha, saya sedang mencoba bisnis kuliner saya yang sedang hits dikalangan temen-temen rohis, karena salah satu kegiatan mereka saya sponsori. Tidak banyak memang, tapi lumayanlah buat tambahan belanja.

Didepan saya ada buku grammar yang sedang saya buka. Baru saja saya selesaikan satu halaman yang berisi tentang, sebentar, saya lupa judulnya, yap deskripsi structural kata benda. Sekarang inget lagi, hehe karena buka lagi.  Sedang saya luruskan satu artikel yang saya tidak tahu berapa jumlah kata yang sudah jadi, ctrl J. Nah, sudah baguskan sekarang.

Perpustakaan hari ini cukup ramai dikunjungi, mungkin sekitar 60an lebih termasuk saya didalamnya. Tapi mungkin saya tidak masuk hitungan, kalau yang menghitung pihak perpusda. Pasalnya setiap saya datang keperpusda saya tidak prnah mengisi absen yang ada didepan pintu masuk Hehe, pengunjung nakal.

Saya juga sering telat mengembalikan buku pinjaman, hehe. Kenakalan saya masih berlanjut sampai jadi mahasiswa. Perpusda memberikan kuota peminjaman kepada setiap pengunjung hanya dua buah buku, selebihnya illegal. Kebetulan dulu ketika saya sedang gila baca, saya pernah mengambil kuota yang illegal. Dan apa yang terjadi? Haha tidak ketahuan, disamping kanan dan kiri pintu masuk ada alat pendeteksi buku-buku milik perpusda yang tidak terdaftar diloket peminjaman.

Bukan saya namanya kalau tak punya sejuta cara untuk mendapatkan apa yang saya inginkan. Buku illegal yang saya pinjam, eh bukan pinjam tapi saya pinjam diam-diam hehe, saya masukkan kedalam tas bersama dengan buku yang saya pinjam secara resmi. Selesai mendaftarkan buku keloket saya merancang rencana yang matang. Satu persatu tangga saya lewati, baru sampai disetengah perjalanan, muncul ide brilian, nanti sampai didepan pintu masuk, angkat tas dan cepat pergi. Kebetulan ketika saya pergi, sebagian pegawai sudah pulang, karena jam kerja mereka sudah habis. Sesampai didepan pintu tepatnya pada pukul 16.30 saya mengangkat tas keatas kepala saya, dan apa yang terjadi selanjutnya?

Saya lolos jari detector laser buku illegal, haha benar-benar ide yang brilian. Setelah satu minggu saya meminjam empat buku dari perpusda, selesai sudah saya lahab habis semuanya. Akhirnya tiba waktunya, bagi saya untuk mengembalikan. Berjalan sambil menyayikan lirik-lirik lagu coldplay yang saya hafal diluar kepala, saya menuju perpusda. Sampai diperpusda, saya dicegat (jawa), waduh ada apa ini saya kok diberhentikan ditengah jalan. Eh tidak tahunya malah bapak-bapak tukang parkir perpusda, sambil mennuliskan nomor polisi motor saya, bapak itu minta uang parkir. ”loh pak kok sekarang?”. Tanya saya. “iya mas sekarang bayar dulu,. Baru boleh parkir.” Jawab bapak parkir melas. Akhirnya saya bayar dengan uang seribu perak. Segera saya matikan motor saya, mengambil kunci motor dengan bandul besi berukuran 3x5 persegi panjang bergambar clup sepakbola asal negeri jerman yang berkali-kali memenangkan liga karta tertinggi. Iya, clup yang juga ditingalkan oleh pep guardiola yang pindah keMancester City. Bayern Munich, tulisannya munich tapi saya sering mendengar orang membacanya muncen. Hehe

Saya mengambil kunci yang tergantung dilubang kunci, saya lepaskan helm yang terpasang dikepala. Tanpa menata rambut yang acak-acakan karena tertutupi helm, saya bergegas menuju pintu masuk perpustakaan. Langka demi langkah yang saya lewati tak memberikan bekas apapun, tidak member petunjuk kepada saya, bahwa saya telah melakukan hal yang illegal, melanggar aturan perpusda. Setelah sekitar 2 ½ menit saya berjalan, akhirnya sampai juga saya didepan pintu masuk perpusda. Pintu masuk yang dilengkapi alat pendeteksi buku-buku illegal. Alat berwarna putih tersebut sebenarnya tidak hanya terdapat diperpusda. Saya pernah belanja kesalah satu swalayan disemarang, dan disana juga terdapat alat pendeteksi tersebut. Sayangnya saya belum pernah melihat alat tersebut bekerja. Pintu terbuka dengan lebar, hawa dingin yang datang dari air conditioner yang saya rasakan bagaikan berjalan ditengah gurun yang panah tiba-tiba diterpa angin dingin dari kutub sekatan. Nyess, sueger……

Dengan kepercayaan diri saya menginjakkan kaki saya menuju ruangan. Tuk tuk tuk… suara kaki saya yang sedang menapaki jalan menuju pintu. Disebalah kiri pintu ada penjaga perpustakaan yang duduk dibelakang meja besar, yang selalu tersenyum jika ada pengunjung datang dari pintu masuk dengan tenang. Tak hanya memberikan senyuman, terkadang para penjaga juga mengingatkan pengunjung untuk mengisikan data diri kekompute yang tersedia didepan meja mereka. Satu pengunjung mendahlui saya masuk, “ selamat datang, silahkan isikan data diri dulu.” Sapa penjaga kepada pengunjung tersebut, walau kelihatannya dengan senyum yang dipaksakan. Saya tidak mau ketinggalan, akhirnya sayapun masuk kedalam. Tiba-tiba muncul bunyi tiiiiiiiiiiiiiiiiiii………………………………….t

Saya bingung kepayang, ada apa ini, wah ternyata hal yang angan-anagankan terjadi juga. Saya melihat dan mendengar detector pintu masuk tersebut bekerja juga. Tapi, sayangnya alat tersebut sedang bekerja untuk saya. Saya merinding, takut kalau nanti ditangkap oleh petugas dan ditanyai berbagai macam pertanyaan yang menyudutkan. Saya sempat menyiapkan beberapa jawaban, yang kemungkinan besar bisa mematahkan persepsi mereka bahwa saya mencuri buku. Tapi saya tidak berhenti didepan pintu saja, saya melanjutkan peralanan saya menuju lantai dua perpusda. Dengan tergesa-gesa saya membuka tas saya, dan mengambil buku-buku illegal yang saya bawa. Saya letakkan buku tersebut kembali ke raknya yang dulu saya ambil. Saya tidak sempat melihat wajah para penjaga perpustakaan yang kalau bertemu pengunjung mereka hanya menampilkan senyum palsu.’

Kesimpulannya adalah janga takut untuk berbuat, buat kamu yang suka dengan tantangan, saran saya jangan pernah mencoba melakukan hal tersebut. Hehe, risikonya sangat besar, besar kemungkinan kamu bisa masuk penjara, kamu juga bisa kehilangan uang karena denda.

Terimakasih 

 

  • view 149