Matahari dan rembulan

Rosida wati
Karya Rosida wati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 September 2017
Matahari dan rembulan

 MATAHARI DAN REMBULAN
 
 
Masa depan adalah mata rantai dari masa lalu.  Masa lalu kerap ingin dilupakan oleh seseorang jika masa itu adalah pembawa luka hati yang dalam. Tapi,  engkau yang kini berdiri dengan membiarkan angin nakal membelai wajahmu, di tepi pantai, masa lampau tak akan pernah terlupakan. Sekali pun jeram menghantam hidupmu.  Karena bagimu seberat apapun hidup yang telah terlampaui,itu  kewajiban manusia untuk melanjutkan kisah yang harus dilakoninya sesuai dengan porsi takdirnya. Barangkali juga nasib kehidupannya. Engkau percaya , bahkan nasib seseorang itu tak akan berubah jika  yang bersangkutan tidak merubahnya. 
.         Bukannya engkau tak berusaha untuk merubah nasibmu, sudah berulangkali engkau melakukannya. Namun  derita begitu nyaman bersandar pada batinmu yang sebenarnya sudah rapuh!
Matahari menjelang tenggelam bak jelaga yang memagari seberang  pantai Kuta, dimana engkau masih setia menikmati detik-detik pamitnya sang dewi siang ke peraduannya.  Tempatnya akan digantikan oleh sang dewi malam. Itulah kesetiaan Mahari dan sang Rembulan dalam membagi tugas.  Mereka tak pernah ingkar menepati janjinya.  
        Engkau menghela napas. "Tak bisakah dalam kehidupan ada janji yang ditepati seperti janji Matahari dan  Bulan?"
          "janjiku adalah janji Matahari " bisik   lelaki pujaanmu dua puluh empat tahun lalu.
           "Ya, aku percaya karena akulah sang dewi malam..."  engkau  menatap  mata kelam di depanmu sepenuh jiwa.
           Saat itu keberadaan kalian  di pantai Kuta untuk mengikuti pelatihan seni pahat patung. Panitia sengaja  memilih tempat di Kuta karena  Bali dianggap  kota seni yang dapat menginspirasi para seniman.
              "Jadi kamu dan aku adalah matahari dan rembulan? " Lelaki pujaan itu mengerling. Dan tak dipungkiri saat itu adalah saat-saat penuh sejarah, penuh kebahagiaan dalam batinmu. Karena di tempat yang jauh dari tempat tinggalmu, begitu pula dengan tambatan hatimu. Kalian seperti dua anak manusia yang bermusafir.  Serasa  hanya kalian berdua saja isi Bali  saat itu. 
         Selama tiga hari di Kuta mengikuti pelatihan untuk menyempurnakan kebisaan kalian dalam seni pahat patung, betapa berharganya waktu itu. Selepas mengikuti pelatihan kalian habiskan waktu berdua mengitari pantai Kuta. Berbagi tawa dan senda gurau. Ombak pantai adalah pengiring irama jiwa kalian yang saat itu masih usia dua puluh tiga tahun. Begitu bergolak. Hingga pada akhri pelatihan, menjelang kalian pulang ke Surabaya, dimana kalian bertempat tinggal, semua terjadi begitu saja.Dengan mengatas namakan cinta.
           Engkau tak berdaya menepis gelora yang ada. Engkau telah lalai dan melupakan norma yang seharusnya digenggam erat. Karena wangi bungamu itu akan terus mengangkat derajadmu sebagai wanita.
           Berani berbuat berani tanggung jawab.  Engkau  pada akhirnya harus menjadi orang tua tungal. Single parent status dirimu. Bukan untuk dibanggakan jika engkau pun dengan tabah menjalaninya. Namun itu wujud sebuah akibat dari sebuah kesalahan besar yang engkau sadari setelah semuanya terjadi.
        Siapalah yang akan mengangkat derajad seorang gadis hamil tanpa suami? Cibir dan caci maki bagai irama bernada hina mengiringi kehadiran bayimu. Ibumu tak berani keluar rumah, ayahmu terpaksa masuk rumah sakit terserang stroke. Sudah pasti engkau menjadi cemoohan kedua kakak lelakimu. Mereka menudingmu sebagai pencipta prahara keluarga.
        "Aku mohon maaf..." apalagi yang bisa engkau ucapkan selain maaf dan minta maaf pada keluargamu.
         Engkau telah melahirkan bayimu walau tanpa lelaki yang entah dimana kini. Lelaki yang telah berjanji untuk mendampingimu sebagai mataharimu karena engkaulah sang rembulan malam.   
             Manusia dimana pun berada dan dalam keadaan apa pun jangan putus asah, karena manusia diberi pikiran paling sempurna di dunia ini, dari makhluk lainnya itulah  kalimat sakti lelakimu, yang engkau jadikan kunci dari ketabahanmu..
           "Selama engkau belum kutemukan matahariku, tetap hidup ini bagiku adalah penderitaan ..."berulangkali engkau selalu saja bergumam tentang mataharimu yang menghilang,Penderitaan  sepanjang hidupku karena aku tak bisa mempersembahkan seorang ayah bagi jantung hatiku" selalu begitu keluhmu.
            "Jika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, Bunda, tak perlulah kita merintih sepanjang hidup kita tak perlulah kita mengais kesemua tempat karena itu barangkali hanya impian belaka," putramu yang kini menjelma menjadi  lelaki dewasa berujar tenang. 
         .."Sayang..." engkau yang kini  hanya bisa pasrah menerima kodratmu sebagai wanita paruh bayah, tersenyum ,"Maafkan Bunda karena memberimu hidup tidak sesempuna kehidupan yang sesungguhnya," rupanya rasa bersalah pada putramu karena tak menemukan Mataharimu, tak  pernah lekang dari dadamu yang kian menipis itu.
            "Manusia tak lepas dari impian, jadi mari kita isi hidup ini dengan kenyataan dan impian itu kita simpan saja jika memang ha ya berupa mimpi belaka..." lelaki warisan Mataharimu itu begitu bijak bersikap, "Jangan selalu menyalahkan Bunda, adaku di sisi Bunda karena sudah takdir yang menentukan.."
           Ah, dengan kebijaksanaan yang ditunjukkan putra semata wayangmu. Ucapan lelaki dua puluh tiga tahun membuat semakin luka batinmu, karena ungkapan demikian hampir serupa dengan  ucapan  mataharimu dua puluh empat tahun, sebulan sebelum penyatuan cinta yang berakhir pedih itu terjadi.
             "Jika kita tak mendapatkan impian yang kita harapkan janganlah kita terpuruk, karena hidup ini harus berlanjut dan jadikan impian itu semangat untuk kedepannya  karena di depan kenyataan yang harus kita hadapi"
          Engkau kembali melayangkan tatapanmu ke seberang sana, dimana saat inilah detik=detik matahari akan menghilang ke peraduannya. Si mera jelaga itu mulai bergerak perlahan dan memang sudah tak lagi menunjukkan bulatannya. Ah, saat-saat inilah yang membuat batinmu terluka dan pedih, karena saat-saat seperti saat ini pernah engkau nikmati bersama mataharimu sebelum dia menghilang sampai saat ini tak engkau temukan dimana dia bersembunyi. 
           Bedanya saat ini engkau mengantarkan putramu menerima penghargaan tertinggi bagi seniman patung Indonesia. Putra tampanmu yang tetap penuh semangat walau hanya dalam  asuhan tunggalmu,  mendapat kehormatan sebagai pemahat muda berprestasi.               
            "Sayang..." panggilmu pada permata yang begitu  membuat engkau bangga, "Bunda takut kisah Bunda dan Ayahmu terulang padamu..."
           Putramu terkesiap. Sinar matanya tajam membalas tatapmu. Ada protes di sana. Engkau segera menjelaskan.
           "Bukan...bukan itu maksud Bunda..." terbata engkau meralat, "Putra Bunda ini tidak mungkin melakukan  kesalahan yang sama seperti kami dulu, tapi Bunda khawatir engkau Nak, bertemu dengan keturunan dari  seteru leluhur Bunda..."
            "Maksud Bunda?" Tertarik putramu.
            "Ada kisah tudak harmunis. Perseteruan dua leluhur. Entah yang berada di gqris yang benar. Yang pasti ada kutukan jika keturunan mereka bersatu..." dan engkau teringat saat kebersamaan itu terjadi, saat kalian dulu terusik oleh warisan kutukan itu.
 
               "ku mataharimu dan engkau rembulanku. Aku dan engkau saling jatuh cinta. Sesungguhnya kita sudah melanggar beda yang telah ada sejak nenek moyang. Mereka tak pernah bisa bersama. Mereka berbeda pilihan. Dan mereka pun pernah bersumpah jika tujuh  keturunan mereka tidak boleh bersama..."
          "Ya engkau benar," pedih hatimu waktu itu. Kisah perseteruan antara leluhur kalian yang berakhir kutukan."Dan jika ada tujuh  keturunanku bersatu dengan..."
         "Tujuh keturunanku..." Mataharimu menyambung dengan suara lirih.
         "Terkutuklah..." engkau melanjutkan karena mataharimu terdiam dengan raut muka tegang.
         "Mereka akan terpisah..." Mataharimu melanjutkan ucapanmu yang terhenti. Ia memelukmu erat. "Haruskah kita berpisah?"
             ":Oh..." putramu berdesis. Tertunduk mendengar warisan kutukan itu.  Kedua bola matamu melebar dan wajahmu menegang hingga urat di sebelah kanan pelipismu jelas terlihat.
              "Benarkah perpisahan bunda dan lelaki yang telah membuatnya ada di dinia ini ada hubungannya dengan kutukan itu?"
         Engkau terdiam.
         Begitu pun dengan putramu
         "Bunda..."
         Engkau menatap lelaki muda yang begitu mirip dengan mataharimu. Lelaki tampan itu tersenyum.
        "Mataharinya sudah tenggelam..."
        "Oh.." engkau melayangkan pandangannya ke seberang sana. Tak ada lagi jelaga memerah. Sebagai gantinya petang menjelang.
         Diperjalanan pulang ke hotel tempat mereka menginap. Putramu bertanya.
        "Bunda..."
              "Ya sayang..."
           "Apakah Bunda membenci Ayah karena menghilang?"
          "Sakit memang oleh tudingan dan makian orang. Tapi Bunda memang bersalah, tidak menjunjung norma yang ada. Tapi untuk ayahmu, Bunda harus dan dipaksa mengerti oleh beda leluhur kami. Semoga saja dia baik baik saja..." 
         "Terima kasih Bunda bisa menerima ini," lengan putramu merangkulmu  dari belakang. "Terlepas dari aib kalian dulu walau aku tidak mundukung itu, tapi aku pun pantas berterima kasih, karena lewat cinta terlarang itu aku ada..."ujarnya, "Bunda kehilangan kepercayaan keluarga, rela dicaci  demi mempertahankan aku di rahimmu..."
         "Sayang..." kedua tanganmu menggenggam kedua tangan  putramu."Matahariku dimana pun engkau berada aku rembulanmu tak sepi lagi karena engkau telah meninggalkan napas kehidupan..." 
           Sore itu  engkau dan putramu terheran heran menatap tamu suami isteri lanjut usia yang belum pernah kalian kenal.
          "Selamat sore ...." sapa mereka hampir  bersamaan.
          "Selamat sore..." engkau dan putramu bersamaan membalas salam mereka.
          "Oh mirip sekali..."  gumam yang perempuan   menatap lekat pada putramu.
          "Persis..." angguk si lelaki dengan mata memerah.
          "Maaf Anda berdua siapa, ya..." engkau bertanya dengan santun.
           "Kami orang tua Gemilang..." 
          "Okh...!" Engkau terbelalak  reflek tanganmu meremas tangan putramu. Perrmpuan itu menyebut nama mataharimu
         Perempuan itu  terisak, lengan suaminya merangkul untuk memberi kekuatan, "Dua puluh empat tahun lalu sepulang dari Bali dia mendadak demam dan tak sadarkan diri. Kami membawanya berobat ke Singapore, karena dia memang mrmiliki riwayat kanker otak. " terdiam.
           "Putra kami tak tertolong..." sambung si perempuan.
           "Maat kami tak tahu tentang dirimu.." ujar si lelaki dengan nada bingung.
           "Tapi bulan lalu kami membaca buku hariannya. Dia menyebut dirimu,bahkan meminta kamu mencarimu khawatir telah terjadi sesuatu padamu..." perempuan itu menangis lagi, "Maafkan kami terlambat menemuimu..."
          Engkau bagai patung hidup. Dadamu berdebar kencang. Tanganmu berkeringat dalam genggam putramu.
          "Anak muda ini.."
         "Gemilang..." engkau gemetar.
         "Cucuku?" seru lelaki itu langsung memeluk putramu yang memang bernama sama dengan lelaki mataharimun itu,,"Maafkan, leluhur kita berseberangan, dan  ayahmu dengan ibumu masih keturunan ke lima, terlarang adanya cinta. Tapi manamungkin kami meniadakan keberadaan peninggalan putra kami..."
 
Jakarta 25 September2017

  • view 32