AMARAH JADI AMANAH

Rosida wati
Karya Rosida wati Kategori Motivasi
dipublikasikan 01 September 2017
AMARAH JADI AMANAH

Amarah menjadi amanah

Sebagai manusia tentu tak luput dari amarah jika hati tersakiti, atau jiwa terzalimi. Itu wajar saja terjadi pada diri kita sebut saja Melati. Rasa tersinggung telah mengantarkan engkau pada puncak amarah yang mulanya tak terkendalikan.
        
Bagaimana jiwamu tidak tersakiti jika harga dirimu begitu saja terinjak.  Terlempar dan dihempaskan pada kotoran paling busuk di dunia ini. Membuat dirinmu bagai kotoran paling busuk di jagat ini.

Pencuri  adalah sebutan untuk orang yang mencuri, atau kasarnya nyolong milik orang lain. Itu yang terjadi pada  dirimu. Bumi bagai berguncang, bahkan langit serasa mau runtuh mengiringi goncang batinmu  saat itu. Amarah telah membuat jiwamu  hampir sekarat.

Sipelontar fitnah adalah orang yang selama ini dekat. Sahabat yang baru beberapa bulan menjadi tetangga. Beda kepemilikan gaji yang mencolok sebut saja pada rupanya kerap membuat engkau ternista olehnya. Dan engkau tak mempermasalahkan , termasuk  pada orang sekitarmu, terserah mereka adalah mereka dan engkau adalah dirimu dengan keberadaanmu.

Kalau hanya soal urusan dapur atau kepemilikan harta yang dihinakan,  engkau cuek. Bahkan engkau merasa kasihan pada penghinamu yang engkau anggap terlalu arogan dengan harya titipan Tuhan yang seharusnya menjadikan penuh syukur. Tapi jika sudah pada rana  fitna mencuri sungguh tiada ampun. Tak ada lagi kata maaf, karena fitnah mencuri itu harga diri yang dihancurkan.
 
Engkau boleh terhina    karena miskin  tapi tidak dengan harga diri. Tak seorang pun boleh menginjak harga dirimu. Harga diri adalah kebanggaan yang harus digenggam erat. Begitu engkau berprinsip.

Luluh lantak jiwamu  saat  bisik bisik tetangga jika engkaulah pencuri berlian milik  tetangga yang telah mencoreng mukamu. Terlebih lagi dia  menegaskan bahwa  engkau telah membelanjakan penjualan berlian tersebut.

Engkau tak lagi bisa memilah, apakah si penyampai fitnah keji untukmu itu murni dipihakmu, atau justru diantara mereka justru memojokkanmu. Emosi membuatmu gelap pikiran.

Dengan keberanian karena tidak bersalah. Marah dan gusar telah membuat engkau meminta supaya melibatkan polisi. Amarahmu tetap meluap walau yang bersangkutan meminta maaf.

"Biar saya dilaknat Tuhan, biar saya dapat bencana, dan Agama saya taruhannya jika saya mencurinya..."  amarah dan murka begitu mengantarkanmu pada kalimat semacam kutukan, "Tapi jika dia fitnah biarlah dia mendapat azab dari dustanya..."

Termenung engkau sendiri. Tiba tiba engkau menyesal telah mrngeluarksn amarah seperti tadi."Ini cobaan, ya cobaan lewat fitnah. Akku harus kuat menerimanya.

"Maafkan aku ya Tuhanku, sadarkan dia yang terlena oleh nikmat hartamu. Dan tetapkanlah aku nenjadi hsmvaMu yang  tetap dalam kebersihan jiwa."

Pada akhirnya satu pemikiran muncul. Mengalah pada anarah. Mengusir murka di hati. Menjauhkan dendam lebih membuat engkau jauh lebih tenang. Memaafkan lebih mulia dari membalas. Menutup kuping pada bisikan, "Mana harga dirimu...?!"

Buah yang engkau petik hidup damai bertetangga. Meniadakan penistaan dan keterhinaan. Karena si   pemfitnah menunjukkan sikap penyesalannya,csemoga benar adanya, itu harap tulusmu.

"Amin  amin.." paling tidak engkau berhasil menaklukan amarah di dalam dirimu sendiri...
 

  • view 56